Penguatan Ombudsman RI Yang Berwibawa, Efektif dan Adil

loading...
Penguatan Ombudsman RI Yang Berwibawa, Efektif dan Adil
Ketua Ombudsman Republik Indonesia periode 2021-2026, Dr. Mokhammad Najih, S.H., M.Hum. Foto/SINDOnews
Dr. Mokhammad Najih, S.H., M.Hum
Ketua Ombudsman Republik Indonesia periode 2021-2026

SEBAGAI anak kandung Reformasi kelembagaan Ombudsman RI, telah di rekomendasikan melalui ketetapan MPR No VIII/MPR/Tahun 2001, kemudian ditindaklanjuti dengan dibentuknya UU Nomor 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman RI dan dilengkapi dengan UU No 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Ini menunjukkan bahwa kehadiran lembaga ini sangat penting dan memiliki relevansi dengan tujuan pembangunan nasional, sama halnya keberadaan lembaga-lembaga lainnya, seperti; Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial, Komisi Pemberantasan Korupsi. Komisi Pemilihan Umum, sebagai upaya perbaikan dan penyempurnaan penyelenggaraan negara.

Namun problem yang dihadapi, lembaga-lembaga baru ini, seolah berhadapan dengan budaya birokrasi lama, yang masih bekerja secara parsial dan egosektoral. Hal ini, nampak hiruk-pikuk budaya birokrasi dan pelayanan puplik yang masih timpang, antar lembaga negara, antar pemerintahan pusat dan daerah. Gejala yang memprihatinkan adalah lemahnya, kepatuhan pada aturan bersama antar instiusi yang diberi kewenangan melakukan pelayan publik, kecenderungan gejala yang terjadi adalah institusi itu lebih mendahulukan atau percaya pada aturan internalnya, dibanding memperhatikan kebutuhan masyarakat.

Sementara itu, apabila kembali kepada Pembukaan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD RI) tahun 1945, didalamnya termaktub tujuan bernegara, yaitu untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Untuk mewujudkan cita-cita luhur tersebut, maka founding fathers/mothers sesuai dengan amanat konstitusi pembentukan Negara disertai dengan membentuk alat kelengkapannya penyelenggaraan negara. Bahwa alat kelengkapan Negara, meliputi kekuasaan bidang eksekutif, legislatif dan yudikatif. Penyelenggaraan negara diberikan amanat untukmewujudkan cita negara adil makmur, dengan cara melindungi, mensejahterakan, mencerdaskan segenap kehidupan bangsa, serta turut serta mewujudkan perdamaian dunia.



Inti dari pembentukan Pemerintahan Republik Indonesia hakekatnya untuk melayani “rakyat Indonesia”, yaitu menyelenggarakan pelayanan kepada semua warga negara dan penduduk, agar terpenuhi kesejahterannaya (welfare state) baik lahir maupun batin.

Untuk mewujudkan dan melaksanakan tugas dan fungsi Pemerintahan Republik Indonesia tersebut, agar selalu berada pada rambu yang benar maka dibentuklah berbagai peraturan perundang- undangan, sistem penyelenggaraan pemerintahan, dan badan-badan atau lembaga yang diberi tugas dan kewenangan sebagai pelaksana, pengawas, kontrol, dan pemberi saran/masukan, tujuannya agar Instansi pelayanan publik setia pada cita-cita luhurnya.

Dalam posisi inilah, kehadiran lembaga bernama Ombudsman Republik Indonesia (selanjutnya disebut Ombudsman RI) menjadi sangat krusial dalam sebuah Negara yang mengusung paradigma Negara Kesejahteraan (Welfare State) dan Demokrasi. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman Republik Indonesia, Ombudsman RI dipahami sebagai sebuah lembaga negara baru yang diberi kewenangan untuk melakukan pengawasan terhadap pelayanan publik yang dilaksanakan oleh pemerintah dan penyelenggara negara, termasuk Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, dan lembaga swata maupun perorangan yang sebagian maupun seluruhnya dibiayai oleh anggaran pendapatan dan belanja negara (BUMN) maupun anggaran pendapatan dan belanja daerah (BUMD).

Dalam konteks Indonesia sebagai Negara yang besar secara teritori dan beragam (heterogen) secara kultural, maka Ombudsman RI sebagai sebuah lembaga pengawasan terhadap semua institusi penyelenggara pelayanan publik juga memiliki cakupan pengawasan yang luas dan besar, baik dari sisi jumlah daerah yang diawasi, jumlah penduduk, jumlah institusi dan jumlah pelaksana pelayanan publik, selain itu masalah kerumitan persoalan yang dihadapi juga menjadi tantangan tersendiri.

Kondisi obyektif tersebut berkonsekuensi kepada tanggung jawab Ombudsman RI yang cukup berat dengan kompleksitas permasalahan yang tinggi dan beragam. Belum lagi bila ditambahkan dengan situasi global yang perubahannya cukup drastis, sehingga akan memaksa penyelenggara pelayanan publik untuk menyesuaikan standar pelayanan dengan tuntutan masyarakat yang bergerak begitu cepat menuju masyarakat milenial.



Meningkatnya pengaduan masyarakat karena kinerja para pelaksana pelayanan publik yang belum dapat mengakomodir kebutuhan masyarakat akan pelayanan prima,menjadi indikator bahwa tuntutan masyarakat akan kualitas pelayanan berkembang sangat dinamis bahkan drastis.

Karena itu Ombudsman RI juga harus responsif dengan keadaan tersebut, dengan selalu bersikap terbuka terhadap perubahan baik perubahan internal kelembagaan maupun kinerja lembaga. Dalam konteks itu dapat digambarkan kondisi obyek Ombudsman saat ini, meliputi: kelembagaa ORI, akses publik terhadap fungsi dan layanan ORI, aspek pengawasan terhadap ORI, penguatan sistem tindak lanjut rekomendasi ORI untuk perbaikan pelayanan publik dan maladministrasi.

Kondisi Obyektif Ombudsman
Tantangan yang dihadapi Ombudsman RI secara kelembagaan adalah masalah kuantitas sumber daya manusia (SDM) dibandingkan dengan jumlah pengaduan yang selalu mengalami kenaikan signifikan, penguatan tindak lanjut rekomendasi Ombudsman RI, struktur kelembagaan dan keterbatasan anggaran.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top