alexametrics

Berdampak Positif, PSBB Tingkatkan Kualitas Udara dan Kurangi Sampah

loading...
Berdampak Positif, PSBB Tingkatkan Kualitas Udara dan Kurangi Sampah
Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Indonesia maupun lockdown di negara-negara lain di dunia tidak selalu berdampak buruk. Ada pula dampak positif dari kebijakan tersebut. Di antaranya untuk pertama kali secara berturut-turut, emisi gas rumah kaca, konsumsi bahan bakar fosil, lalu lintas udara, darat, laut dan sampah menurun secara drastis.

Data dari Badan meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, pemberlakuan PSBB menurunkan rata-rata konsentrasi karbondioksida (CO2) sekitar 47 ppm atau turun 9,8% dibandingkan tahun 2019. Periode yang sama di Maret-April tahun ini dapat turun pada kisaran 420 ppm di Jakarta. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan langit Jakarta yang tampak lebih cerah dua bulan terakhir.

Rizaldi Boeris Director of the Centre for Climate Risk and Opportunity Management in Southeast Asia and Pacific (CCROM-SEAP) menjelaskan, dengan adanya PSBB pembatas aktivitas orang juga transportaasi berkurang tentu polusi yang berasal dari tranportasi juga ikut berkurang. "Sehingga terlihat langit cerah karena aerosol yang dilepaskan polusi sedikit. Perbedaan itu bisa dilihat melalui satelit, kalau normal akan merah sebab suhu tinggi," ucapnya di Jakarta, kemarin. (Baca: Menkes Setujui PSBB Jakarta, Pemerintah Ungkap Manfaatnya)



Menurut dia, satelit menangkap warna yang menggambarkan suhu permukaan. Begitu ada pembatasan aktivitas masyarakat, tidak ada lalu lintas manusia juga kendaraan sehingga suhu permukaan pun dingin. Satelit akan menangkap suhunya stabil sehingga warnanya tidak merah lagi.

Artinya, lanjut Rizaldi udara Jakarta membaik karena tidak adanya mobilitas manusia bukan karena virusnya secara langsung. Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor (IPB) ini juga menghubungkan Covid-19 dengan polusi.

Menurutnya polusi dapat mempermudah proses penularan. Polusi menjadi faktor penyakit Infeksi saluran pernapasan sementara itu Covid-19 salah satu virus yang menyerang infeksi saluran pernapasan. Sehingga jika virus ada di udara berpolusi tinggi akan menyebabkan orang mudah terinfeksi.

Mengenai informasi lapisan ozon membaik, Rizaldi belum bisa membuktikan sebab tidak ada riset lebih mendalam. Namun, dia mengakui ada indikasi ke arah itu, sebab selama ini yang merusak lapisan ozon ialah aerosol yang berasal dari polusi.

Yayat Supriatna pengamat perkotaan dari Universitas Trisaksi mengakui adanya dampak positif pada lingkungan terkait serangan Covid-19. “Hal positif dari karantina mandiri masyarakat ialah dengan menurunnya penggunaan bahan bakar. Keuntungannya, tentu dapat mengontrol eksploitasi sumber daya alam dan berkurangnya polusi dari kendaraan,” jelas Yayat.

Sayangnya tingkat pernurunan polusi udara khususnya di Jakarta dan kota kota besar Indonesia menurut dia, belum maksimal lantaran beberapa pabrik masih ada yang beroperasi. Namun demikan, dampak lainnya dari PSBB membuat volume sampah berkurang. Baik sampah dari mal, restoran dan perkantoran yang tutup.

"Sampah rumahan meningkat tidak signifikan tetapi pengurangan sampah besar dari tempat-tempat umum terlihat jelas. Mobilitas masyarakat itu berpengaruh terhadap sampah ada dimana-mana kalau di rumah saja sampah hanya di rumah," jelasnya.

Jika industri manufaktur tidak beroperasi, limbah akan lebih banyak berkurang karena limbah industri yang juga tidak ada. "Bisa dikatakan kota yang mati atau tanpa aktivitas dari warganya justru lebih baik karena tidak menghasilkan limbah sdan buangan gas," aku Yayat.

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Rosa Vivien Ratnawati mengatakan kondisi pengelolaan sampah pada masa pandemik saat ini. Timbulan sampah kota dengan ciri komuter, terjadi penurunan timbulan yang signifikan hingga10-15%. Kota Jakarta 620 ton per hari, Surabaya 310 ton per hari. Bahkan, Bukit Tinggi hampir 20% penurunan nya.

"Kota lainnya, bukan dengan ciri komuter, terjadi penurunan timbulan, rata-rata hanya dibawah 1- 3%. Yakni Bandung, Balikpapan, Tangerang Selatan, Bogor dan Bekasi," ungkapnya.

Rosa menambahkan, kondisi ini terjadi karena sumber sampah komersial menurun drastis, tetapi dari sumber rumah yangga ada peningkatan. Walaupun timbulan sampah menurun, hasil penelitian LIPI menunjukkan adanya peningkatan komposisi sampah plastik akibat belanja online dan menggunakan masker sekali pakai.

"Komposisi masker sekali pakai termasuk paling banyak ditemukan di sungai yang menuju Teluk Jakarta selama pandemi Covid-19 ini," pungkasnya. (Baca juga: Alur Pengajuan Terlalu Panjang, Daerah Perlu Dipermudah Terapkan PSBB)

Terkait limbah medis, sesuai Surat Edaran MenLHK No 02 tahun 2020 yang ditujukan untuk BNPB, tugas percepatan penanganan Covid-19, gubernur , bupati dan walikota daerah di seluruh Indonesia. Limbah dari fasilitas kesehatan harus dimusnahkan dengan insinerator pada suhu pembakaran 800 derajat Celcius. Kemudian residu hasil pembakaran ditempatkan dan diberi label B3 dan simbol beracun. Untuk disimpan di tempat sementara pembuangan limbah B3 kemudian diserahkan kepada pengelola limbah B3.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Imran Agus Nurali mengatakan, rumah sakit darurat wajib memenuhi standar rumah sakit pada umumnya. Sudah ada prosedurnya termasuk pengolahan limbah cair, limbah padat harus sesuai dengan standar.

"Di daerah yang dijadikan rumah sakit darurat, sudah kami buatkan pedomannya. Mereka hanya mengacu pada pedoman rujukan , darurat hingga puskesmas," ungkapnya.

Imran juga berpendapat, saat pandemi ini limbah rumah tangga juga berdampak negatif untuk lingkungan. Seringnya cuci tangan dengan sabun ternyata dampak jauhnya pada air sabun yang mengalir harus masuk ke saluran air bukan di sembarang tempat. Sebab, air sabun termasuk grey water yang tidak bisa dibuang begitu saja. "Kalau ingin membuat sanitasi hal ini yang harus diperhatikan ada sumber air bersihnya yang jelas," ucapnya. Kemenkes selain mengingatkan untuk menjaga kebersihan diri dengan rajin cuci tangan juga mengkampanyekan hemat air. Salah satu caranya dengan mengecilkan kran tutup air saat sedang mencuci tangan.

Di belahan dunia lain, Mohammad Darvish anggota dari Dewan Keamanan Nasional Iran untuk lingkungan yang dilansir dari Tehran Times mengatakan, dampak lingkungan akibat serangan virus tersebut membuat emisi gas rumah kaca pada Maret 2020 menjadi sama kondisinya dengan 1990-an, yaitu 30 tahun yang lalu.

Terdapat sekitar 3,5 miliar orang di bumi bepergian dengan kereta api, mobil, pesawat, kapal dan alat transportasi lainnya setiap hari. Gerakan dan kegiatan konstruksi semacam tambang juga memberi dampak tekanan pada kerak luar bumi.

Dengan berdiam di rumah maka pelahan-lahan alam menjadi lebih baik. Emisi gas buang dari kendaraan bermotor dan asap industri, juga turun secara drastis.

Air Quality Report menunjukkan tingkat polusi udara di 10 kota global utama telah turun 9 hingga 60 %. Laporan ini meneliti polusi partikel halus (PM2.5) di 10 kota yang memberlakukan lockdown sementara. Survei dilakukan membandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019, serta selama periode yang sama dalam empat tahun sebelumnya. (Baca juga: DPR Kritik Permenkes tentang Pedoman PSBB)

Kota-kota yang termasuk dalam laporan tersebut adalah Delhi, London, Los Angeles, Kota New York, Madrid, Mumbai, Roma, São Paulo, Seoul, dan Wuhan. Penurunan polusi udara paling dramatis terjadi di kota-kota dengan tingkat PM2.5 yang tinggi secara historis yakni

Delhi mengalami pengurangan 60 % dalam pembacaan PM2.5 dibandingkan dengan periode waktu yang sama pada 2019. Seoul mengalami pengurangan polusi udara sebesar 54 % dibandingkan tahun 2019. Sementara itu, kota asal virus ini, Wuhan pengurangan polusi udara sebesar 44 % selama penutupan jika dibandingkan dengan 2019.

Los Angeles mencatat rekor udara bersih terpanjang selama periode lockdown polusi partikel halus di LA turun 31 % bila dibandingkan dengan 2019, dan turun 51 % bila dibandingkan dengan rata-rata empat tahun sebelumnya. (Ananda Nararya)
(ysw)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak