Konstitusi Tak Kenal Oposisi, Pantas Saja Demokrat, PKS dan PAN Memble

Selasa, 12 Januari 2021 - 13:44 WIB
loading...
Konstitusi Tak Kenal...
Partai di luar pemerintahan tidak pernah berfungsi sebagai oposisi tetapi mitra kritis pemerintah. Foto/ilustrasi.SINDOnews
A A A
JAKARTA - Salah satu hal yang membuat demokrasi Indonesia dinilai mundur adalah melemahnya peran oposisi . Dalam praktik demokrasi Indonesia pasca reformasi, belum ada partai yang benar-benar bertindak sebagai oposisi.

(BACA JUGA : Blusukan, Cara Risma Pinjam Tangan Anies untuk Dongkrak Popularitas )

PDIP kerap dikecualikan karena setidaknya selama 10 tahun masa kekuasaan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak terlibat di dalam pemerintahan. Tetapi tetap saja PDIP juga dinilai tak pernah memerankan oposisi sesungguhnya.

(Baca:Sekali Lagi Demokrasi Dinilai Mundur, LP3ES: Indonesia Balik Kananke Tirani)

Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo mengakui istilah oposisi memang tidak dikenal dalam konstitusi Indonesia. Tak heran jika peran Partai Demokrat , PKS dan PAN selama masa pemerintahan Jokowi pun terasa kurang gereget alias memble.

"PKS, Demokrat dan PAN sebagai counter party atau mitra kritis yang berperan sebagai kekuatan penyeimbang, melakukan check and balance terhadap jalannya pemerintahan," ujar Karyono saat dihubungi SINDOnews, Selasa (12/1/2021).

(BACA JUGA : Ratusan Nyawa Melayang Sia-Sia, Konflik Papua Harus Segera Diakhiri )

Menurut Karyono, sebagai counter party, tiga partai tersebut semestinya tidak asal beda, tidak asal 'nyerang' dan tidak selalumenilai kebijakan pemerintahan semuanya buruk. Memang, mengkritik pemerintah merupakan keniscayaan bagi partai di luar pemerintahan. "Tetapi, dalam melakukan kritik harus ada assesment atau penilaian yang didasarkan pada pertimbangan objektif," tutur dia.

Sayangnya, partai di luar pemerintah, terutama PKS, tampak asal beda sikap dengan pemerintah. PKS paling lantang mengkritik pemerintah seolah ingin menunjukkan posisi diametral dengan pemerintah.

(Baca:Pemerintah Klaim Indeks Demokrasi Indonesia 2019 Tertinggi Dalam 11 Tahun)

Ibarat permainan bola, kata Karyono, posisi PKS dengan pemerintahan Jokowi adalah di posisi head to head. Itu terjadi sejak 2014 hingga sekarang. Sikap kritis asal beda ini bisa dimaknai sebagai strategi PKS untuk mendulang suara di pemilu. Strategi itu memang berhasil meningkatkan perolehan suara PKS yang sempat terpuruk sejak kasus korupsi yang menjerat presiden PKS Lutfi Hasan Ishak.

Perolehan suara PKS dikatakan meningkat pada Pemilu 2019. Jadi, sikap kritis asal beda ala PKS ini tidak steril dari kepentingan politik elektoral. PKS nampaknya sadar, dukungan politik pemerintahan Jokowi terlalu kuat setelah masuknya Gerindra dalam pemerintahan semakin menambah kekuatan politik lebih dari 70 persen di parlemen.

(Baca:Generasi Milenial Merasa Indonesia Kurang Demokratis)

"Karenanya, bagi PKS yang penting koar-koarnya. Tujuannya untuk mendelegitimasi pemerintah, tapi di sisi lain mereka membidik pemilih yang kecewa terhadap pemerintah untuk dikapitalisasi sebagai benefit politik," bebernya.

Sementara itu, dua partai lainnya, yaitu PAN dan Demokrat cenderung lebih memilih bermain aman dengan sesekali melakukan kritik-kritik halus pada pemerintah. "Meski demikian kedua partai ini lebih baik dari segi etika politik dibanding PKS," kata Karyono.
(muh)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
PKS Minta Fenomena Calon...
PKS Minta Fenomena Calon Mahasiswa Tidak Daftar Ulang di PTN Jadi Evaluasi SPMB 2026
Pengamat: Penegakan...
Pengamat: Penegakan Hukum Jadi Cermin Kualitas Demokrasi
Uya Kuya Jadi Ketua...
Uya Kuya Jadi Ketua DPW DKI Jakarta Gantikan Eko Patrio, PAN Ungkap Alasannya
Prabowo Singgung Pihak...
Prabowo Singgung Pihak Bikin Gaduh usai Pemilu: Kapan Kita Mau Menuju Kesejahteraan untuk Rakyat?
Deklarasi Kebangsaan,...
Deklarasi Kebangsaan, Gabungan Aliansi BEM Nasional Serukan 5 Tuntutan
AHY: Oposisi Harus Konstruktif,...
AHY: Oposisi Harus Konstruktif, Tidak Boleh Memecah Belah Bangsa
Konsolidasi Kekuatan...
Konsolidasi Kekuatan di Jawa Barat, Perindo Targetkan Basis Kemenangan dan Model Nasional
Aktivis Muda Nasional:...
Aktivis Muda Nasional: Persatuan Bangsa Penting di Tengah Tantangan Global
Dokter Sukarelawan di...
Dokter Sukarelawan di Gaza Menang Pemilihan Pendahuluan Partai Demokrat AS
Rekomendasi
IHSG Berakhir Jatuh...
IHSG Berakhir Jatuh Makin Dalam Sentuh 5.820, Transaksi Cetak Rp8,7 Triliun
Seskab Teddy Beberkan...
Seskab Teddy Beberkan Keberhasilan Program Magang Nasional: 30% Peserta Langsung Kerja
Tanpa Somasi, Sarwendah...
Tanpa Somasi, Sarwendah Laporkan Akun Media Sosial yang Diduga Cemarkan Nama Baik
Berita Terkini
MK Tolak Gugatan Dharma...
MK Tolak Gugatan Dharma Pongrekun Atas UU Kesehatan: Kepatuhan Warga adalah Konsekuensi Logis
Refly Harun Desak PN...
Refly Harun Desak PN Jakarta Timur Bolehkan Siaran Langsung Sidang Dokter Tifa
Latsarmil Manajer Kopdes...
Latsarmil Manajer Kopdes Dievaluasi, Istana: Insyaaallah, Tidak Terjadi Korban Lagi
LPI Minta Program Prioritas...
LPI Minta Program Prioritas Nasional Dievaluasi Agar Sesuai Arahan Presiden
Pigai Sebut Masyarakat...
Pigai Sebut Masyarakat Indonesia Belum Siap Terima LGBT
Ini Makna Logo HUT ke-81...
Ini Makna Logo HUT ke-81 RI yang Telah Resmi Diluncurkan
Infografis
Perburuan Sepatu Emas...
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Messi Dihantui Haaland dan Mbappe!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved