DNIKS dan Diplomasi Kesejahteraan Sosial Indonesia

Senin, 20 Juli 2026 - 23:19 WIB
loading...
A A A
Dari titik inilah saya mengusulkan satu gagasan yang menurut saya layak menjadi bagian dari arah baru pembangunan sosial Indonesia, yaitu Diplomasi Kesejahteraan Sosial Indonesia. Selama ini diplomasi lebih sering dipahami sebagai upaya memperjuangkan kepentingan politik, ekonomi, atau keamanan negara di tingkat internasional. Padahal, pada abad ke-21, bangsa-bangsa juga berlomba menghadirkan gagasan, pengetahuan, dan pengalaman kemanusiaan sebagai bentuk soft power.

Indonesia memiliki modal yang sangat kaya untuk memainkan peran tersebut. Pengalaman membangun solidaritas sosial melalui gotong royong, filantropi keagamaan, rehabilitasi sosial, pemberdayaan masyarakat, penguatan keluarga, hingga penanganan bencana berbasis komunitas bukan sekadar praktik lokal, melainkan pengetahuan yang memiliki relevansi global. Saya membayangkan Diplomasi Kesejahteraan Sosial Indonesia sebagai ikhtiar menjadikan pengalaman tersebut bukan hanya bermanfaat bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga menjadi kontribusi Indonesia bagi percakapan dunia tentang kesejahteraan sosial.

Jika diplomasi budaya memperkenalkan identitas bangsa melalui seni dan tradisi, maka diplomasi kesejahteraan sosial memperkenalkan Indonesia melalui nilai gotong royong, inovasi sosial, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Gagasan ini dapat diwujudkan melalui penguatan riset, publikasi internasional, pertukaran pekerja sosial dan akademisi, pengembangan pusat pembelajaran regional, serta kolaborasi yang lebih luas dengan organisasi internasional, perguruan tinggi, dan jejaring kesejahteraan sosial dunia. Dengan cara itu, Indonesia tidak hanya dikenal sebagai negara yang berhasil mengelola keragaman, tetapi juga sebagai bangsa yang mampu berbagi pengalaman tentang bagaimana membangun masyarakat yang lebih peduli, inklusif, dan berkeadilan.

Pada akhirnya, saya percaya bahwa organisasi akan tetap relevan apabila terus belajar bersama masyarakat yang dilayaninya. Masa depan DNIKS tidak ditentukan oleh panjangnya usia organisasi, melainkan oleh keberaniannya melahirkan cara pandang baru terhadap kesejahteraan sosial Indonesia. Saya membayangkan DNIKS menjadi ruang tempat ilmu pengetahuan bertemu dengan pengalaman lapangan, kebijakan bertemu dengan kebutuhan masyarakat, dan praktik-praktik baik dari berbagai daerah bertemu dengan agenda pembangunan nasional.

Di sanalah organisasi ini dapat mengambil peran sebagai penghubung antara negara, masyarakat sipil, dunia akademik, dunia usaha, dan komunitas internasional dalam memperjuangkan martabat manusia. Bagi saya, itulah makna sesungguhnya dari organisasi yang hidup, bukan sekadar mampu mempertahankan keberadaannya, tetapi terus menghadirkan manfaat bagi zamannya.

Pada usia ke-59 ini, saya berharap DNIKS tidak hanya dikenang sebagai organisasi yang memiliki sejarah panjang, tetapi juga sebagai organisasi yang berani membuka babak baru bagi kesejahteraan sosial Indonesia. Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu meningkatkan kesejahteraan rakyatnya sendiri, melainkan juga bangsa yang mampu membagikan pengalaman kemanusiaannya kepada dunia. Di situlah Diplomasi Kesejahteraan Sosial Indonesia menemukan maknanya. Bukan sebagai slogan, melainkan sebagai ikhtiar menjadikan pengetahuan, solidaritas, dan martabat manusia sebagai kontribusi Indonesia bagi peradaban dunia.(*)
(abd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mahalnya Harga Stabilitas
Mahalnya Harga Stabilitas
Perang Iran Menjadi...
Perang Iran Menjadi Warisan Buruk Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat
Apakah Pengadilan Tengah...
Apakah Pengadilan Tengah Mengadili Metode Berpikir dr Tifa dan Roy Suryo?
Perubahan UU Pemilu:...
Perubahan UU Pemilu: Membangun Sistem Pemilu yang Demokratis, Berkeadilan, dan Berintegritas
Palapa di Pundak Sang...
Palapa di Pundak Sang Jenderal: Gajah Mada, Sjafrie Sjamsoeddin, dan Siklus 7 Abad Nusantara
Dokter Tifa dan Roy...
Dokter Tifa dan Roy Suryo: Ujian bagi Kebangkitan Intelektual Publik?
Dukung Penguatan Ekonomi...
Dukung Penguatan Ekonomi Kerakyatan, Danantara Tinjau Pemberdayaan Nasabah PNM di Mojokerto
Amway Indonesia Perkuat...
Amway Indonesia Perkuat Komitmen Mendukung Keluarga Hidup Lebih Sehat dan Sejahtera
Perkuat Konektivitas...
Perkuat Konektivitas dan Kesejahteraan Masyarakat Riau, Kapolri Resmikan 80 Jembatan Merah Putih Presisi
Rekomendasi
Menlu Rubio Klaim Iran...
Menlu Rubio Klaim Iran Memohon Kesepakatan dengan AS, Ancam 1 Kepala untuk 1 Mata
IRGC pada Warga Kuwait:...
IRGC pada Warga Kuwait: Amerika Serikat, Bukan Iran, yang Langgar Kedaulatan Anda
Lebih dari 2.300 Pemukim...
Lebih dari 2.300 Pemukim Yahudi Serbu Masjid Al-Aqsa, Hamas dan Yordania Murka
Berita Terkini
Menimbang Bioetanol...
Menimbang Bioetanol Berbasis Tetes Tebu
Ketua Umum Partai Perindo...
Ketua Umum Partai Perindo Angela Tanoesoedibjo Hadiri Harlah ke-28 PKB di JCC Malam Ini
Kemhan Bakal Datangkan...
Kemhan Bakal Datangkan Helikopter AW149 dan 12 Pesawat Tempur dari Italia
Korban Kekerasan Seksual...
Korban Kekerasan Seksual dan TPPO Bakal Dapat Penanganan Lebih Cepat
Prabowo Pimpin Ratas...
Prabowo Pimpin Ratas soal Kopdes Merah Putih, Gibran Duduk di Sebelah Kirinya
Dokter Tifa Klaim Simpan...
Dokter Tifa Klaim Simpan Bukti Kejanggalan Ijazah Jokowi Meski Eksepsinya Diterima
Infografis
Perburuan Sepatu Emas...
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Messi Dihantui Haaland dan Mbappe!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved