Ekonomi Piala Dunia dan Problem Institusi di Indonesia

Kamis, 16 Juli 2026 - 06:07 WIB
loading...
A A A
Konsistensi regulasi, transparansi keuangan klub, dan tata kelola kompetisi yang terjadwal pasti menjadi fondasi yang memungkinkan kedua negara ini mempertahankan daya saing di level Asia sekaligus rutin lolos ke putaran final Piala Dunia, bahkan ketika kualitas individu pemain mereka tidak selalu di atas rata-rata dunia. Dengan kata lain, keunggulan Jepang dan Korea Selatan bukan semata soal talenta, melainkan soal desain institusi yang memberi insentif jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan sepak bola untuk berpartisipasi secara produktif.

Pelajaran bagi Indonesia sudah cukup terang. Jalan pintas naturalisasi pemain diaspora memang bisa mendongkrak peluang jangka pendek, sebagaimana pernah ditempuh Jepang pada akhir 1980-an sebelum akhirnya mereka sadar strategi itu tidak cukup untuk mencapai Piala Dunia.

Namun tanpa reformasi institusi yang mendasar, seperti kepastian kalender kompetisi, transparansi keuangan klub dan federasi, independensi pengawasan wasit, serta kewajiban pembinaan usia muda yang terukur, potensi ekonomi sepak bola nasional akan terus terjebak sebagai potensi di atas kertas.

Pengurus PSSI memang telah menempuh sejumlah langkah, mulai dari pengembangan akademi, kerja sama dengan federasi Jepang, hingga pemanfaatan pemain diaspora. Tetapi langkah-langkah itu perlu dikawal dengan komitmen kelembagaan yang konsisten lintas kepengurusan, bukan sekadar proyek jangka pendek yang berhenti ketika rezim kepengurusan berganti.

Secara lebih konkret, setidaknya ada tiga agenda institusional yang bisa segera dikerjakan. Pertama, memisahkan secara tegas fungsi regulator dan operator kompetisi, sehingga PSSI sebagai federasi tidak lagi memiliki konflik kepentingan dengan pemilik klub atau pengelola liga, mengikuti model yang lebih transparan seperti Jepang maupun Inggris.

Kedua, mewajibkan klub peserta liga profesional memiliki akademi usia dini berstandar dan lolos verifikasi lisensi berkala, bukan sekadar formalitas administratif, agar suplai pemain muda berkualitas tidak lagi bergantung pada jalan pintas naturalisasi.

Ketiga, membangun sistem tata kelola keuangan klub yang transparan dan diaudit independen, dengan sanksi tegas seperti pengurangan poin bagi klub yang menunggak gaji pemain, sebagaimana lazim diterapkan di liga-liga top Eropa. Ketiga agenda ini tidak memerlukan anggaran sebesar biaya menaturalisasi pemain atau mendatangkan pelatih kelas dunia, tetapi menuntut kemauan politik untuk membenahi aturan main secara konsisten dan tidak berubah setiap kali kepengurusan berganti.

Keresahan Presiden Prabowo semestinya diterjemahkan bukan hanya sebagai dorongan emosional menjelang siklus kualifikasi berikutnya, melainkan sebagai momentum untuk mendesain ulang institusi sepak bola nasional secara inklusif. Dukungan anggaran negara yang disinggung presiden akan sia-sia jika disalurkan ke dalam sistem yang masih ekstraktif.

Sebaliknya, jika tata kelola liga, federasi, dan pembinaan usia dini dibenahi mengikuti prinsip institusi inklusif ala Acemoglu, sebagaimana dibuktikan Jepang dan Korea Selatan, maka bukan tidak mungkin dalam satu atau dua siklus Piala Dunia mendatang, tim nasional Indonesia bisa merumput di lapangan hijau Piala Dunia. Pada saat itu terjadi Indonesia sekaligus dapat mengonversi jutaan penggemarnya menjadi kekuatan ekonomi olahraga yang nyata.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Transformasi Polri di...
Transformasi Polri di Tengah Era Disrupsi Digital
Tantangan Tata Kelola...
Tantangan Tata Kelola Pemerintahan Daerah dan Ketahanan Nasional
Kritik Baru terhadap...
Kritik Baru terhadap Putusan Arbitrase Laut China Selatan: Perspektif Realisme
Satu Dekade Laut China...
Satu Dekade Laut China Selatan: Stabilitas Kawasan Ketimbang Kontestasi
Iran, Teokrasi Islam...
Iran, Teokrasi Islam dan Pelajaran bagi Dunia Islam
TNI di Kejaksaan: Antara...
TNI di Kejaksaan: Antara Persepsi Backing, Kepastian Hukum, dan Konsolidasi Negara
Jadwal Final Piala Dunia...
Jadwal Final Piala Dunia 2026: Spanyol vs Argentina
Momen Messi dan Bellingham...
Momen Messi dan Bellingham Adu Mulut
Air Mata Antonela dan...
Air Mata Antonela dan Messi Warnai Malam Bersejarah Argentina
Rekomendasi
Purbaya Tepis Main-main...
Purbaya Tepis Main-main soal Tarik Ulur Dana SAL Rp400 Triliun di Bank BUMN
Sering Kena Zonk & Trauma...
Sering Kena Zonk & Trauma Promo PHP Saat Belanja Online? Resep Ini Dijamin Bikin Happy
Momen Messi dan Bellingham...
Momen Messi dan Bellingham Adu Mulut
Berita Terkini
Prabowo Minta Pembenahan...
Prabowo Minta Pembenahan Program MBG Dilakukan Cermat, Termasuk Anggaran per Porsi
Sikapi Sidang Praperadilan...
Sikapi Sidang Praperadilan Roy Suryo, Rismon: Dugaan Rekayasa Digital Bisa Dibuktikan Tanpa Saksi Mata
Profil Rudi Setiawan,...
Profil Rudi Setiawan, Lulusan Akpol 1993 yang Dilantik sebagai Irjen Kementerian Imipas
Amien Desak Prabowo...
Amien Desak Prabowo Perintahkan KPK Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah
Ekonomi Piala Dunia...
Ekonomi Piala Dunia dan Problem Institusi di Indonesia
Alumni KPK Masuk Tim...
Alumni KPK Masuk Tim Khusus Usut Kasus Febrie Adriansyah, Budi Prasetyo: Progres yang Positif
Infografis
Joao Pinheiro, Wasit...
Joao Pinheiro, Wasit Kontroversial di Laga Argentina vs Swiss
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved