Relaksasi PSBB Makin Picu Transmisi Lokal
Selasa, 05 Mei 2020 - 05:30 WIB
loading...
Foto: Ilustrasi/Dok SINDOnews
A
A
A
DUA bulan seusai pemerintah resmi mendeklarasikan kasus positif virus korona (Covid-19) di Indonesia, tren peningkatan tak kunjung melambat. Kurva yang kian tegak menanjak dan menembus hingga angka 11.000 kasus tentu situasi yang kian memprihatinkan.
Di tengah kondisi ini, kita juga seolah belum memiliki ramuan solusi yang jitu untuk menghentikannya. Praktis, kapan dan sampai berapa banyak orang yang akan menjadi korban kian misteri. Kekhawatiran makin tinggi manakala ikhtiar pengekangan virus lewat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berlaku di lebih dari 22 daerah tak kunjung efektif.
Tak heran, hampir semua pemerintah provinsi atau kabupaten/kota yang selesai periode pertama PSSB menginginkan agar kebijakan itu terus dipertahankan. Sampai kapan? Lagi-lagi tidak ada yang bisa menjawab pasti.
Perpanjangan PSSB ini bisa terlihat di DKI Jakarta. Kebijakan lockdown setengah hati ini diteruskan hingga 22 Mei mendatang seusai berakhir pada 23 April lalu. Di Sumatera Barat, gubernur bersama bupati dan wali kota, Selasa (5/5), menggelar rapat karena PSBB periode pertama akan berakhir. Gubernur Irwan Prayitno dan Wakil Gubernur Nasrul Abit menginginkan PSBB tetap dilanjut karena selama ini masih tak maksimal. Berbagai langkah antisipatif telah dilakukan, namun kenaikan kasus terus terjadi. Bahkan, yang kian mengkhawatirkan, tren sebaran saat ini adalah transmisi lokal, bukan lagi dari pendatang.
Tak sekadar di Sumatera Barat, potensi model sebaran baru transmisi lokal ini menjadi ancaman semua wilayah. PSBB yang diikuti dengan penyekatan-penyekatan jalan memang terbukti meminimalisasi persebaran virus antarwilayah. Namun, ketika virus sudah lebih dahulu masuk ke suatu wilayah dan masyarakat setempat masih abai dengan protokol kesehatan Covid-19, itu menjadi tidak banyak berarti. Kasus tertularnya lebih dari 30 pedagang di Pasar Raya Padang, puluhan dokter dan perawat di RS Kariadi Semarang, serta puluhan karyawan pabrik rokok di Surabaya menjadi bukti.
Di tengah kondisi ini, kita juga seolah belum memiliki ramuan solusi yang jitu untuk menghentikannya. Praktis, kapan dan sampai berapa banyak orang yang akan menjadi korban kian misteri. Kekhawatiran makin tinggi manakala ikhtiar pengekangan virus lewat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berlaku di lebih dari 22 daerah tak kunjung efektif.
Tak heran, hampir semua pemerintah provinsi atau kabupaten/kota yang selesai periode pertama PSSB menginginkan agar kebijakan itu terus dipertahankan. Sampai kapan? Lagi-lagi tidak ada yang bisa menjawab pasti.
Perpanjangan PSSB ini bisa terlihat di DKI Jakarta. Kebijakan lockdown setengah hati ini diteruskan hingga 22 Mei mendatang seusai berakhir pada 23 April lalu. Di Sumatera Barat, gubernur bersama bupati dan wali kota, Selasa (5/5), menggelar rapat karena PSBB periode pertama akan berakhir. Gubernur Irwan Prayitno dan Wakil Gubernur Nasrul Abit menginginkan PSBB tetap dilanjut karena selama ini masih tak maksimal. Berbagai langkah antisipatif telah dilakukan, namun kenaikan kasus terus terjadi. Bahkan, yang kian mengkhawatirkan, tren sebaran saat ini adalah transmisi lokal, bukan lagi dari pendatang.
Tak sekadar di Sumatera Barat, potensi model sebaran baru transmisi lokal ini menjadi ancaman semua wilayah. PSBB yang diikuti dengan penyekatan-penyekatan jalan memang terbukti meminimalisasi persebaran virus antarwilayah. Namun, ketika virus sudah lebih dahulu masuk ke suatu wilayah dan masyarakat setempat masih abai dengan protokol kesehatan Covid-19, itu menjadi tidak banyak berarti. Kasus tertularnya lebih dari 30 pedagang di Pasar Raya Padang, puluhan dokter dan perawat di RS Kariadi Semarang, serta puluhan karyawan pabrik rokok di Surabaya menjadi bukti.
Lihat Juga :