Mengapa Harga Beras Terus Merangkak Naik?
Selasa, 23 Juni 2026 - 21:17 WIB
loading...
A
A
A
Kedua, penetrasi pasar beras SPHP (stabilisasi pasokan dan harga pangan) cenderung menurun. Merujuk data Bulog, dari Maret hingga 20 Juni 2026 penjualan beras SPHP hanya 361.667 ton atau hanya 3.229 ton per hari. Volume penjualan beras SPHP ini menurun dibandingkan tahun lalu. Karena volumenya kecil, dampaknya terhadap harga di pasar pun kecil. Istilah anak muda sekarang: tidak nendang. Mengapa? Perlu dicari penyebabnya. Apakah karena mekanisme penjualan atau ada isu kualitas beras SPHP?
Ihwal isu kualitas beras Bulog muncul dalam rapat dengar pendapat Komisi IV DPR dengan jajaran Kementerian Pertanian pada 10 Juni 2026. Menurut Ketua Komisi IV DPR Titiek Soeharto, ada 1,3 juta ton dari 5 juta ton beras yang dikelola BULOG usianya lebih setahun. Beras berubah warna jadi putih tua. "Saya minta supaya (stok CBP) di atas satu tahun buat pakan saja. Jangan buat bantuan pangan lagi," kata Titiek.
Penyaluran lain dalam bentuk bantuan pangan beras pada priode Februari-Maret 2026 kepada 33,2 juta keluarga juga belum sepenuhnya tuntas. Hingga 20 Juni 2026, penyaluran beras mencapai 588.843 kg dari pagu 664.888 kg. Masih ada sisa sebesar 76.045 kg beras. Kalau penjualan beras SPHP dan penyaluran bantuan pangan beras volumenya besar ada peluang harga beras tertekan, setidaknya tertahan tidak naik.
Dengan stok beras di gudang BULOG sebesar 5,2 juta ton, stok tertinggi sepanjang sejarah, ada keperluan mendesak untuk mengeluarkan cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog. Agar stok beras tidak susut volume, turun mutu, dan potensial rusak. Juga agar tak membebani biaya pengelolaan/penyimpanan. Lebih dari itu, agar tak ada lagi ironi: harga beras terus naik dan penyumbang inflasi saat stok tinggi.
Ihwal isu kualitas beras Bulog muncul dalam rapat dengar pendapat Komisi IV DPR dengan jajaran Kementerian Pertanian pada 10 Juni 2026. Menurut Ketua Komisi IV DPR Titiek Soeharto, ada 1,3 juta ton dari 5 juta ton beras yang dikelola BULOG usianya lebih setahun. Beras berubah warna jadi putih tua. "Saya minta supaya (stok CBP) di atas satu tahun buat pakan saja. Jangan buat bantuan pangan lagi," kata Titiek.
Penyaluran lain dalam bentuk bantuan pangan beras pada priode Februari-Maret 2026 kepada 33,2 juta keluarga juga belum sepenuhnya tuntas. Hingga 20 Juni 2026, penyaluran beras mencapai 588.843 kg dari pagu 664.888 kg. Masih ada sisa sebesar 76.045 kg beras. Kalau penjualan beras SPHP dan penyaluran bantuan pangan beras volumenya besar ada peluang harga beras tertekan, setidaknya tertahan tidak naik.
Dengan stok beras di gudang BULOG sebesar 5,2 juta ton, stok tertinggi sepanjang sejarah, ada keperluan mendesak untuk mengeluarkan cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog. Agar stok beras tidak susut volume, turun mutu, dan potensial rusak. Juga agar tak membebani biaya pengelolaan/penyimpanan. Lebih dari itu, agar tak ada lagi ironi: harga beras terus naik dan penyumbang inflasi saat stok tinggi.
(cip)
Lihat Juga :