Statistikulasi dan Cerita Produksi Beras Indonesia yang 'Wow'
Kamis, 09 Juli 2026 - 06:39 WIB
loading...
Khudori, Anggota Komite Ketahanan Pangan INKINDO dan Pegiat Komite Pendayagunaan Pertanian dan AEPI. Foto/Ist
A
A
A
Khudori
Anggota Komite Ketahanan Pangan INKINDO
Pegiat Komite Pendayagunaan Pertanian dan AEPI
STATISTIK itu ibarat pisau dapur. Ia netral. Di tangan seorang koki, pisau dapur bisa menjadi alat menciptakan hidangan yang super lezat dan bergizi.
Akan tetapi, di tangan pembunuh berdarah dingin, ceritanya akan lain. Pisau bisa berubah menjadi alat untuk mencabut nyawa. Tanpa kenal belas kasihan. Melalui analogi ini, pendek kata, statistik sebetulnya baik. Ia bisa membantu manusia menjelaskan hal tak jelas.
Dalam dunia jurnalistik, wartawan seringkali harus memungut data untuk memperkuat tulisan. Salah satunya berupa angka. Selain harus disajikan secara teliti, logis, dan tidak rumit, angka harus bisa 'berbicara'.
Caranya, menempatkan angka dalam konteks kalimat dengan cara membandingkannya dengan hal lain. Angka tidak begitu berarti atau tidak bisa 'bicara' tanpa dibandingkan nilai relatifnya.
Sebagian besar angka statistik dapat dibandingkan dengan statistik sejenis menurut waktu. Misalnya, membandingkan dengan angka tahun lalu atau kuartal keuangan mendatang.
Statistik juga dapat dibandingkan dengan statistik sejenis menurut tempat. Misalnya, dibandingkan dengan negara tetangga atau perusahaan pesaing.
Contohnya, cadangan devisa Indonesia akhir Mei 2026 tercatat USD144,9 miliar atau setara pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Angka ini lebih 'berbicara' setelah, misalnya, dibandingkan dengan cadangan devisa Desember 2025 yang mencapai USD156,5 miliar setara pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Jadi, di tangan wartawan atau seorang pencerita, data statistik bisa digunakan untuk menciptakan cerita. Sebuah angka bisa menggambarkan narasi yang diinginkan. Mau bikin suasana kota tidak aman, tinggal bilang saja angka kriminalitas naik tinggi.
Mau buat pendapatan di sebuah perusahaan merata, sajikan saja menggunakan rata-rata hitung (mean) gaji. Angka itu elastis. Ia bisa dibengkokkan, dibesar-besarkan, atau dikecilkan sesuai kebutuhan. Statistik itu fleksibel: bisa digunakan sesuai cerita.
Anggota Komite Ketahanan Pangan INKINDO
Pegiat Komite Pendayagunaan Pertanian dan AEPI
STATISTIK itu ibarat pisau dapur. Ia netral. Di tangan seorang koki, pisau dapur bisa menjadi alat menciptakan hidangan yang super lezat dan bergizi.
Akan tetapi, di tangan pembunuh berdarah dingin, ceritanya akan lain. Pisau bisa berubah menjadi alat untuk mencabut nyawa. Tanpa kenal belas kasihan. Melalui analogi ini, pendek kata, statistik sebetulnya baik. Ia bisa membantu manusia menjelaskan hal tak jelas.
Dalam dunia jurnalistik, wartawan seringkali harus memungut data untuk memperkuat tulisan. Salah satunya berupa angka. Selain harus disajikan secara teliti, logis, dan tidak rumit, angka harus bisa 'berbicara'.
Caranya, menempatkan angka dalam konteks kalimat dengan cara membandingkannya dengan hal lain. Angka tidak begitu berarti atau tidak bisa 'bicara' tanpa dibandingkan nilai relatifnya.
Sebagian besar angka statistik dapat dibandingkan dengan statistik sejenis menurut waktu. Misalnya, membandingkan dengan angka tahun lalu atau kuartal keuangan mendatang.
Statistik juga dapat dibandingkan dengan statistik sejenis menurut tempat. Misalnya, dibandingkan dengan negara tetangga atau perusahaan pesaing.
Contohnya, cadangan devisa Indonesia akhir Mei 2026 tercatat USD144,9 miliar atau setara pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Angka ini lebih 'berbicara' setelah, misalnya, dibandingkan dengan cadangan devisa Desember 2025 yang mencapai USD156,5 miliar setara pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Jadi, di tangan wartawan atau seorang pencerita, data statistik bisa digunakan untuk menciptakan cerita. Sebuah angka bisa menggambarkan narasi yang diinginkan. Mau bikin suasana kota tidak aman, tinggal bilang saja angka kriminalitas naik tinggi.
Mau buat pendapatan di sebuah perusahaan merata, sajikan saja menggunakan rata-rata hitung (mean) gaji. Angka itu elastis. Ia bisa dibengkokkan, dibesar-besarkan, atau dikecilkan sesuai kebutuhan. Statistik itu fleksibel: bisa digunakan sesuai cerita.
Lihat Juga :