Mengapa Harga Beras Terus Merangkak Naik?
Selasa, 23 Juni 2026 - 21:17 WIB
loading...
A
A
A
Jadi, kalau ada narasi ke publik bahwa beras stabil itu tidak salah. Tapi baru separuh benar. Yang benar adalah harga beras stabil tinggi dan terus naik. Demikian pula kalau ada narasi bahwa beras bukan penyumbang inflasi utama itu tidak salah. Tapi ini juga baru separuh benar. Yang benar adalah beras terus menjadi penyumbang inflasi selama lima bulan berturut-turut, meski bukan penyumbang yang utama.
Lalu, mengapa harga beras terus naik? Pertama, harga gabah terus naik. Amat sulit mendapatkan gabah sesuai harga pembelian pemerintah (HPP) Rp6.500/kg untuk semua kualitas. Merujuk data Badan Pangan Nasional, pada 7 Juni 2026 rerata nasional harga gabah di petani mencapai Rp6.951/kg, naik menjadi Rp6.993/kg pada 20 Juni 2026. Di Lampung dan Jawa Timur harga jauh di atas itu: antara Rp7.500 hingga Rp8.000/kg.
Ketika menetapkan HET beras medium dan premium di zona I Rp13.500/kg dan Rp14.900/kg acuannya HPP gabah Rp6.500/kg. Demikian pula HET beras di zona II dan III: mengacu HPP gabah Rp6.500/kg. Bahan baku beras adalah gabah. Ketika harga gabah makin mahal alias di atas HPP, beras hasil giling pun akan semakin mahal. Harga beras pun potensial melampaui HET. Kalau menjual di atas HET bisa berurusan dengan Satgas Pangan. Kalau mengikuti HET, produsen merugi. Indikatornya mudah ditemukan hari-hari ini: beras premium aneka merek semakin terbatas didapatkan di retail modern.
Harga gabah terus naik juga karena produksi mulai melandai. Merujuk perkiraan BPS, Juni 2026 produksi gabah kering giling (GKG) mencapai 4,05 juta ton, turun sekitar 18% dari produksi Mei 2026 (4,94 juta ton GKG). Pada Juli 2026 nanti produksi diperkirakan kembali naik: 4,76 juta ton GKG. Tapi produksi di tiga bulan itu jauh di bawah puncak produksi pada panen raya di Maret 2026 yang mencapai 8,71 juta ton.
Ketika produksi kian melandai, sementara perebutan gabah tetap sengit, harga gabah akan terus naik. Perebutan gabah sengit karena Bulog masih terus menyerap gabah/beras untuk memenuhi target serapan 4 juta ton. Saat ini serapan baru tercapai 3,14 juta ton beras. Selain itu, perebutan gabah juga berlangsung sengit karena kapasitas giling penggilingan padi hampir empat kali dari kemampuan produksi gabah.
Lalu, mengapa harga beras terus naik? Pertama, harga gabah terus naik. Amat sulit mendapatkan gabah sesuai harga pembelian pemerintah (HPP) Rp6.500/kg untuk semua kualitas. Merujuk data Badan Pangan Nasional, pada 7 Juni 2026 rerata nasional harga gabah di petani mencapai Rp6.951/kg, naik menjadi Rp6.993/kg pada 20 Juni 2026. Di Lampung dan Jawa Timur harga jauh di atas itu: antara Rp7.500 hingga Rp8.000/kg.
Ketika menetapkan HET beras medium dan premium di zona I Rp13.500/kg dan Rp14.900/kg acuannya HPP gabah Rp6.500/kg. Demikian pula HET beras di zona II dan III: mengacu HPP gabah Rp6.500/kg. Bahan baku beras adalah gabah. Ketika harga gabah makin mahal alias di atas HPP, beras hasil giling pun akan semakin mahal. Harga beras pun potensial melampaui HET. Kalau menjual di atas HET bisa berurusan dengan Satgas Pangan. Kalau mengikuti HET, produsen merugi. Indikatornya mudah ditemukan hari-hari ini: beras premium aneka merek semakin terbatas didapatkan di retail modern.
Harga gabah terus naik juga karena produksi mulai melandai. Merujuk perkiraan BPS, Juni 2026 produksi gabah kering giling (GKG) mencapai 4,05 juta ton, turun sekitar 18% dari produksi Mei 2026 (4,94 juta ton GKG). Pada Juli 2026 nanti produksi diperkirakan kembali naik: 4,76 juta ton GKG. Tapi produksi di tiga bulan itu jauh di bawah puncak produksi pada panen raya di Maret 2026 yang mencapai 8,71 juta ton.
Ketika produksi kian melandai, sementara perebutan gabah tetap sengit, harga gabah akan terus naik. Perebutan gabah sengit karena Bulog masih terus menyerap gabah/beras untuk memenuhi target serapan 4 juta ton. Saat ini serapan baru tercapai 3,14 juta ton beras. Selain itu, perebutan gabah juga berlangsung sengit karena kapasitas giling penggilingan padi hampir empat kali dari kemampuan produksi gabah.
Lihat Juga :