Mengapa Harga Beras Terus Merangkak Naik?
Selasa, 23 Juni 2026 - 21:17 WIB
loading...
Khudori, Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI). Foto/SIndoNews
A
A
A
Khudori
Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)
HARGA beras terus merangkak naik. Beras medium maupun premium. BPS mencatat, pada pekan ketiga Juni 2026, harga rerata nasional beras medium mencapai Rp 14.402 per kilogram (kg) atau naik 0,38% dibandingkan harga rerata pada Mei 2026. Pada periode yang sama, harga rerata nasional beras premium Rp16.230 per kg atau naik 0,46% dari Mei 2026. Harga kedua jenis beras itu di atas harga eceran tertinggi (HET) beras medium dan premium di zona I yang dipatok Rp13.500 per kg dan Rp 14.900 per kg.
Sebelumnya, ketika merilis data inflasi pada 2 Juni 2026, BPS mencatat dari April ke Mei 2026 harga beras di pengilingan, grosir, dan eceran berturut-turut naik 0,58%, 0,68%, dan 0,38%. Jika dirunut ke belakang, dari Januari hingga Mei 2026 harga beras di pengilingan, grosir, dan eceran terus naik. Lima bulan berturut-turut. Tidak ada jeda. Persentase kenaikan tiap bulan tidak besar. Jika diakumulasikan, selama lima bulan kenaikan di penggilingan 1,3%, di grosir 2,5%, dan di eceran 2,3%.
Secara tahunan, harga beras di penggilingan naik 8,1%, di grosir 6,11%, dan di eceran 4,55%. Catatannya bukan di persentase kenaikan yang kecil. Pertama, meskipun persentase kenaikannya kecil, kalau pada periode yang sama harga-harga komoditas pangan lain juga naik daya beli warga miskin/rentan akan terpukul. Termasuk mereka yang menyemut atau berada hanya sedikit di atas garis kemiskinan. Kedua, harga beras memang sudah tinggi. Kalau harganya merangkak tentu kenaikannya tidak besar (lagi).
Tanpa banyak disadari, selama lima bulan berturut-turut pula di tahun ini beras menjadi penyumbang inflasi rutin. Termasuk pada saat panen raya Februari-Mei 2026, yang produksi beras melimpah. Sesuai hukum besi pasokan-permintaan, pasokan melimpah mestinya harga menjadi terkendali. Bahkan ada peluang harga beras turun dan inflasi jinak atau malah menjadi penyumbang deflasi. Tapi tahun ini tidak terjadi.
Jadi, kalau ada narasi ke publik bahwa beras stabil itu tidak salah. Tapi baru separuh benar. Yang benar adalah harga beras stabil tinggi dan terus naik. Demikian pula kalau ada narasi bahwa beras bukan penyumbang inflasi utama itu tidak salah. Tapi ini juga baru separuh benar. Yang benar adalah beras terus menjadi penyumbang inflasi selama lima bulan berturut-turut, meski bukan penyumbang yang utama.
Lalu, mengapa harga beras terus naik? Pertama, harga gabah terus naik. Amat sulit mendapatkan gabah sesuai harga pembelian pemerintah (HPP) Rp6.500/kg untuk semua kualitas. Merujuk data Badan Pangan Nasional, pada 7 Juni 2026 rerata nasional harga gabah di petani mencapai Rp6.951/kg, naik menjadi Rp6.993/kg pada 20 Juni 2026. Di Lampung dan Jawa Timur harga jauh di atas itu: antara Rp7.500 hingga Rp8.000/kg.
Ketika menetapkan HET beras medium dan premium di zona I Rp13.500/kg dan Rp14.900/kg acuannya HPP gabah Rp6.500/kg. Demikian pula HET beras di zona II dan III: mengacu HPP gabah Rp6.500/kg. Bahan baku beras adalah gabah. Ketika harga gabah makin mahal alias di atas HPP, beras hasil giling pun akan semakin mahal. Harga beras pun potensial melampaui HET. Kalau menjual di atas HET bisa berurusan dengan Satgas Pangan. Kalau mengikuti HET, produsen merugi. Indikatornya mudah ditemukan hari-hari ini: beras premium aneka merek semakin terbatas didapatkan di retail modern.
Harga gabah terus naik juga karena produksi mulai melandai. Merujuk perkiraan BPS, Juni 2026 produksi gabah kering giling (GKG) mencapai 4,05 juta ton, turun sekitar 18% dari produksi Mei 2026 (4,94 juta ton GKG). Pada Juli 2026 nanti produksi diperkirakan kembali naik: 4,76 juta ton GKG. Tapi produksi di tiga bulan itu jauh di bawah puncak produksi pada panen raya di Maret 2026 yang mencapai 8,71 juta ton.
Ketika produksi kian melandai, sementara perebutan gabah tetap sengit, harga gabah akan terus naik. Perebutan gabah sengit karena Bulog masih terus menyerap gabah/beras untuk memenuhi target serapan 4 juta ton. Saat ini serapan baru tercapai 3,14 juta ton beras. Selain itu, perebutan gabah juga berlangsung sengit karena kapasitas giling penggilingan padi hampir empat kali dari kemampuan produksi gabah.
Kedua, penetrasi pasar beras SPHP (stabilisasi pasokan dan harga pangan) cenderung menurun. Merujuk data Bulog, dari Maret hingga 20 Juni 2026 penjualan beras SPHP hanya 361.667 ton atau hanya 3.229 ton per hari. Volume penjualan beras SPHP ini menurun dibandingkan tahun lalu. Karena volumenya kecil, dampaknya terhadap harga di pasar pun kecil. Istilah anak muda sekarang: tidak nendang. Mengapa? Perlu dicari penyebabnya. Apakah karena mekanisme penjualan atau ada isu kualitas beras SPHP?
Ihwal isu kualitas beras Bulog muncul dalam rapat dengar pendapat Komisi IV DPR dengan jajaran Kementerian Pertanian pada 10 Juni 2026. Menurut Ketua Komisi IV DPR Titiek Soeharto, ada 1,3 juta ton dari 5 juta ton beras yang dikelola BULOG usianya lebih setahun. Beras berubah warna jadi putih tua. "Saya minta supaya (stok CBP) di atas satu tahun buat pakan saja. Jangan buat bantuan pangan lagi," kata Titiek.
Penyaluran lain dalam bentuk bantuan pangan beras pada priode Februari-Maret 2026 kepada 33,2 juta keluarga juga belum sepenuhnya tuntas. Hingga 20 Juni 2026, penyaluran beras mencapai 588.843 kg dari pagu 664.888 kg. Masih ada sisa sebesar 76.045 kg beras. Kalau penjualan beras SPHP dan penyaluran bantuan pangan beras volumenya besar ada peluang harga beras tertekan, setidaknya tertahan tidak naik.
Dengan stok beras di gudang BULOG sebesar 5,2 juta ton, stok tertinggi sepanjang sejarah, ada keperluan mendesak untuk mengeluarkan cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog. Agar stok beras tidak susut volume, turun mutu, dan potensial rusak. Juga agar tak membebani biaya pengelolaan/penyimpanan. Lebih dari itu, agar tak ada lagi ironi: harga beras terus naik dan penyumbang inflasi saat stok tinggi.
Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)
HARGA beras terus merangkak naik. Beras medium maupun premium. BPS mencatat, pada pekan ketiga Juni 2026, harga rerata nasional beras medium mencapai Rp 14.402 per kilogram (kg) atau naik 0,38% dibandingkan harga rerata pada Mei 2026. Pada periode yang sama, harga rerata nasional beras premium Rp16.230 per kg atau naik 0,46% dari Mei 2026. Harga kedua jenis beras itu di atas harga eceran tertinggi (HET) beras medium dan premium di zona I yang dipatok Rp13.500 per kg dan Rp 14.900 per kg.
Sebelumnya, ketika merilis data inflasi pada 2 Juni 2026, BPS mencatat dari April ke Mei 2026 harga beras di pengilingan, grosir, dan eceran berturut-turut naik 0,58%, 0,68%, dan 0,38%. Jika dirunut ke belakang, dari Januari hingga Mei 2026 harga beras di pengilingan, grosir, dan eceran terus naik. Lima bulan berturut-turut. Tidak ada jeda. Persentase kenaikan tiap bulan tidak besar. Jika diakumulasikan, selama lima bulan kenaikan di penggilingan 1,3%, di grosir 2,5%, dan di eceran 2,3%.
Secara tahunan, harga beras di penggilingan naik 8,1%, di grosir 6,11%, dan di eceran 4,55%. Catatannya bukan di persentase kenaikan yang kecil. Pertama, meskipun persentase kenaikannya kecil, kalau pada periode yang sama harga-harga komoditas pangan lain juga naik daya beli warga miskin/rentan akan terpukul. Termasuk mereka yang menyemut atau berada hanya sedikit di atas garis kemiskinan. Kedua, harga beras memang sudah tinggi. Kalau harganya merangkak tentu kenaikannya tidak besar (lagi).
Tanpa banyak disadari, selama lima bulan berturut-turut pula di tahun ini beras menjadi penyumbang inflasi rutin. Termasuk pada saat panen raya Februari-Mei 2026, yang produksi beras melimpah. Sesuai hukum besi pasokan-permintaan, pasokan melimpah mestinya harga menjadi terkendali. Bahkan ada peluang harga beras turun dan inflasi jinak atau malah menjadi penyumbang deflasi. Tapi tahun ini tidak terjadi.
Jadi, kalau ada narasi ke publik bahwa beras stabil itu tidak salah. Tapi baru separuh benar. Yang benar adalah harga beras stabil tinggi dan terus naik. Demikian pula kalau ada narasi bahwa beras bukan penyumbang inflasi utama itu tidak salah. Tapi ini juga baru separuh benar. Yang benar adalah beras terus menjadi penyumbang inflasi selama lima bulan berturut-turut, meski bukan penyumbang yang utama.
Lalu, mengapa harga beras terus naik? Pertama, harga gabah terus naik. Amat sulit mendapatkan gabah sesuai harga pembelian pemerintah (HPP) Rp6.500/kg untuk semua kualitas. Merujuk data Badan Pangan Nasional, pada 7 Juni 2026 rerata nasional harga gabah di petani mencapai Rp6.951/kg, naik menjadi Rp6.993/kg pada 20 Juni 2026. Di Lampung dan Jawa Timur harga jauh di atas itu: antara Rp7.500 hingga Rp8.000/kg.
Ketika menetapkan HET beras medium dan premium di zona I Rp13.500/kg dan Rp14.900/kg acuannya HPP gabah Rp6.500/kg. Demikian pula HET beras di zona II dan III: mengacu HPP gabah Rp6.500/kg. Bahan baku beras adalah gabah. Ketika harga gabah makin mahal alias di atas HPP, beras hasil giling pun akan semakin mahal. Harga beras pun potensial melampaui HET. Kalau menjual di atas HET bisa berurusan dengan Satgas Pangan. Kalau mengikuti HET, produsen merugi. Indikatornya mudah ditemukan hari-hari ini: beras premium aneka merek semakin terbatas didapatkan di retail modern.
Harga gabah terus naik juga karena produksi mulai melandai. Merujuk perkiraan BPS, Juni 2026 produksi gabah kering giling (GKG) mencapai 4,05 juta ton, turun sekitar 18% dari produksi Mei 2026 (4,94 juta ton GKG). Pada Juli 2026 nanti produksi diperkirakan kembali naik: 4,76 juta ton GKG. Tapi produksi di tiga bulan itu jauh di bawah puncak produksi pada panen raya di Maret 2026 yang mencapai 8,71 juta ton.
Ketika produksi kian melandai, sementara perebutan gabah tetap sengit, harga gabah akan terus naik. Perebutan gabah sengit karena Bulog masih terus menyerap gabah/beras untuk memenuhi target serapan 4 juta ton. Saat ini serapan baru tercapai 3,14 juta ton beras. Selain itu, perebutan gabah juga berlangsung sengit karena kapasitas giling penggilingan padi hampir empat kali dari kemampuan produksi gabah.
Kedua, penetrasi pasar beras SPHP (stabilisasi pasokan dan harga pangan) cenderung menurun. Merujuk data Bulog, dari Maret hingga 20 Juni 2026 penjualan beras SPHP hanya 361.667 ton atau hanya 3.229 ton per hari. Volume penjualan beras SPHP ini menurun dibandingkan tahun lalu. Karena volumenya kecil, dampaknya terhadap harga di pasar pun kecil. Istilah anak muda sekarang: tidak nendang. Mengapa? Perlu dicari penyebabnya. Apakah karena mekanisme penjualan atau ada isu kualitas beras SPHP?
Ihwal isu kualitas beras Bulog muncul dalam rapat dengar pendapat Komisi IV DPR dengan jajaran Kementerian Pertanian pada 10 Juni 2026. Menurut Ketua Komisi IV DPR Titiek Soeharto, ada 1,3 juta ton dari 5 juta ton beras yang dikelola BULOG usianya lebih setahun. Beras berubah warna jadi putih tua. "Saya minta supaya (stok CBP) di atas satu tahun buat pakan saja. Jangan buat bantuan pangan lagi," kata Titiek.
Penyaluran lain dalam bentuk bantuan pangan beras pada priode Februari-Maret 2026 kepada 33,2 juta keluarga juga belum sepenuhnya tuntas. Hingga 20 Juni 2026, penyaluran beras mencapai 588.843 kg dari pagu 664.888 kg. Masih ada sisa sebesar 76.045 kg beras. Kalau penjualan beras SPHP dan penyaluran bantuan pangan beras volumenya besar ada peluang harga beras tertekan, setidaknya tertahan tidak naik.
Dengan stok beras di gudang BULOG sebesar 5,2 juta ton, stok tertinggi sepanjang sejarah, ada keperluan mendesak untuk mengeluarkan cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog. Agar stok beras tidak susut volume, turun mutu, dan potensial rusak. Juga agar tak membebani biaya pengelolaan/penyimpanan. Lebih dari itu, agar tak ada lagi ironi: harga beras terus naik dan penyumbang inflasi saat stok tinggi.
(cip)
Lihat Juga :