Hari ke-83 Perang Iran: Ketika Diplomasi Menjadi Jeda Kematian

Senin, 25 Mei 2026 - 13:41 WIB
loading...
A A A
Proposal terbaru yang sedang dibicarakan melalui Pakistan dikabarkan mencakup penghentian blokade pelabuhan Iran, pembukaan kembali ekspor minyak Teheran, serta dimulainya negosiasi nuklir selama 60 hari. Sebagai imbalannya, Iran diminta membuka kembali Selat Hormuz dan menahan eskalasi regional.

Tetapi, dalam proposal itu, tersimpan bara api yang belum padam tentang siapa yang akan mengontrol Selat Hormuz, bagaimana nasib program nuklir Iran, dan apakah Israel benar-benar akan menghentikan operasi militernya di Lebanon. Semuanya belum terang benderang, dan apakah akan ada kesepakatan masih penuh tanda tanya.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut itu belum terjawab. Dan, sejarah mengajarkan kita bahwa perdamaian yang ditegakkan di atas ketidakpercayaan hanyalah perang yang sedang menunggu waktu untuk berkecamuk. Iran berkali-kali menegaskan mereka tidak akan berkompromi soal kedaulatan dan hak untuk mempertahankan kemampuan strategisnya.

Ketua parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, bahkan, secara terbuka mengatakan bahwa Teheran tidak lagi percaya kepada AS setelah berbagai pelanggaran kesepakatan sebelumnya. Kalimat itu bukan sekadar retorika, melainkan lahir dari memori panjang tentang embargo, pembunuhan ilmuwan, sabotase, dan pengingkaran perjanjian nuklir.

Di sisi lain, AS juga melihat Iran bukan sekadar negara, melainkan simbol pembangkangan terhadap arsitektur kekuasaan global yang selama ini mereka bangun di Timur Tengah. Karena itu, Washington menginginkan perang berhenti tanpa memberi kesan bahwa Iran menang.

Masalahnya, Iran juga ingin hal yang sama, di mana negara itu tidak menghendaki kesan AS menang perang. Singkatnya, dua ego imperium sedang duduk di meja yang sama, sambil diam-diam menggenggam pisau belati di bawah meja.

Sementara para diplomat bertukar proposal, rakyat biasa di Dunia Selatan terus menanggung harga yang paling mahal. Anak-anak di Lebanon selatan tidur di bawah suara drone. Nelayan Iran kehilangan lautnya karena blokade AS.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Islam: Agama yang Paling...
Islam: Agama yang Paling Disalahpahami
Asta Cita dan Reposisi...
Asta Cita dan Reposisi Peran Negara versus Pasar
Kasus dr Tifa dan Roy...
Kasus dr Tifa dan Roy Suryo P-21, Akankah Polemik Ijazah Berakhir di Pengadilan?
BI Rate Naik dan Rupiah...
BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
Bahaya Romantisasi Oligarki...
Bahaya Romantisasi Oligarki Putih
Perang Iran 2026: Ketika...
Perang Iran 2026: Ketika Diplomasi Berbicara dengan Bahasa Rudal
Ini 5 Bukti Perjanjian...
Ini 5 Bukti Perjanjian Damai AS dan Iran Tunjukkan Kegagalan Tujuan Perang Israel
Bocoran Isi Kesepakatan...
Bocoran Isi Kesepakatan AS-Iran: Barter Minyak, Aset Triliunan, hingga Senjata Nuklir
Pemimpin Oposisi Zionis:...
Pemimpin Oposisi Zionis: Kesepakatan Damai AS-Iran Berarti Tak Satu Pun Tujuan Perang Israel Tercapai
Rekomendasi
Militerisasi Jepang...
Militerisasi Jepang dan Bahaya Radiasi Radio Aktif
Pejuang Hizbullah Sergap...
Pejuang Hizbullah Sergap Pasukan Israel di Lebanon
Tren Paylater Makin...
Tren Paylater Makin Menjangkit, Literasi Keuangan Dinilai Jadi Faktor Penting
Berita Terkini
Prabowo Panggil Purbaya...
Prabowo Panggil Purbaya hingga Bahlil ke Kertanegara, Ini yang Dibahas
PBNU Gelar Munas dan...
PBNU Gelar Munas dan Konbes di Ploso Kediri pada 20-23 Juni 2026, Presiden Prabowo Diundang
PKB Jabar Fest, Gus...
PKB Jabar Fest, Gus Muhaimin: Kita Tak Butuh Pemimpin Pencitraan
Denny JA Sebut Algoritma...
Denny JA Sebut Algoritma Lahirkan Kelas Baru Pekerja Digital yang Rentan
Sikapi Gejolak Ekonomi,...
Sikapi Gejolak Ekonomi, Partai Perindo Sodorkan Risalah Kebijakan untuk BI dan Pemerintah
Noel Divonis 4,5 Tahun...
Noel Divonis 4,5 Tahun Penjara, KPK Tidak Ajukan Banding
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved