Fenomena Rupiah Melemah dan Dilema Impossible Trinity: Membaca Kepanikan Investor di Tengah Ketidakpastian Global

Selasa, 19 Mei 2026 - 07:29 WIB
loading...
Fenomena Rupiah Melemah...
Listya Endang Artiani, Dosen dan Peneliti Universitas Islam Indonesia. Foto: Dok SindoNews
A A A
Listya Endang Artiani
Dosen dan Peneliti Universitas Islam Indonesia

Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan berat. Dalam beberapa waktu terakhir, rupiah bergerak mendekati level psikologis Rp17.500 per dolar Amerika Serikat. Bagi masyarakat umum, pelemahan rupiah mungkin hanya dipahami sebagai naiknya harga dolar. Namun bagi investor dan pelaku pasar keuangan, depresiasi rupiah merupakan sinyal yang jauh lebih serius: meningkatnya risiko ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global yang belum menunjukkan tanda mereda.

Tekanan terhadap rupiah memang tidak terjadi dalam ruang kosong. Penguatan dolar AS masih menjadi faktor utama yang membebani mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve Amerika Serikat yang bertahan lebih lama dari perkiraan pasar membuat arus modal global kembali mengalir menuju aset berbasis dolar. Investor internasional melihat instrumen keuangan AS sebagai pilihan yang lebih aman sekaligus lebih menguntungkan.

Di saat bersamaan, ketegangan geopolitik global, perlambatan ekonomi dunia, hingga kekhawatiran resesi di berbagai kawasan memperkuat fenomena flight to quality. Dalam situasi penuh ketidakpastian, investor cenderung meninggalkan aset berisiko di negara berkembang dan memindahkan dana mereka ke instrumen yang dianggap lebih stabil seperti obligasi pemerintah AS dan dolar Amerika.

Namun, menyalahkan faktor global semata tentu tidak cukup. Pelemahan rupiah saat ini juga menunjukkan bahwa pasar sedang menguji kekuatan fundamental ekonomi Indonesia sekaligus membaca arah kebijakan yang diambil pemerintah dan Bank Indonesia. Di sinilah konsep Impossible Trinity atau Trilemma dalam ekonomi makro internasional menjadi relevan untuk memahami situasi yang sedang terjadi.

Secara sederhana, teori ini menjelaskan bahwa sebuah negara tidak mungkin secara bersamaan menjaga tiga hal sekaligus yaitu mempertahankan nilai tukar tetap stabil, membiarkan arus modal asing bebas keluar-masuk, dan menjalankan kebijakan moneter independen melalui pengaturan suku bunga sesuai kebutuhan domestik. Negara hanya bisa memilih dua dari tiga tujuan tersebut secara bersamaan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
NU, Antara Tradisi Pesantren,...
NU, Antara Tradisi Pesantren, Profesionalisme Organisasi, dan Kemandirian Ekonomi
Status Quo Jabatan Fungsional...
Status Quo Jabatan Fungsional ASN
Makna Pemakaman Ayatollah...
Makna Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei
Transformasi Strategis...
Transformasi Strategis Memasuki Era Quantum Globalisasi 2.0
Analisa Hukum Putusan...
Analisa Hukum Putusan Perkara Nadiem Makarim
HUT Bhayangkara: Mampukah...
HUT Bhayangkara: Mampukah Polri Melindungi Kritik Tanpa Mengkriminalisasi Warga?
Ini Pemicu Utama Serangan...
Ini Pemicu Utama Serangan AS ke Iran
Prosesi Pemakaman Khamenei...
Prosesi Pemakaman Khamenei Digelar di Irak, Drone Iran Gempur Pasukan AS di Bahrain
Iran Serang 85 Situs...
Iran Serang 85 Situs Militer AS di Bahrain dan Kuwait, Situasi Memanas Seiring Pemakaman Khamenei
Rekomendasi
Kontroversi VAR di Balik...
Kontroversi VAR di Balik Lolosnya Argentina ke Perempat Final
Iran Sebut Sanksi AS...
Iran Sebut Sanksi AS yang Diperbarui Langgar MoU, Langkah itu Mulai Berlaku Penuh 17 Juli
Makin Hemat! ShopeePay...
Makin Hemat! ShopeePay Rilis Kampanye Pulsa & PLN Pasti Murah untuk Penuhi Kebutuhan Harianmu
Berita Terkini
Kejagung Sita 104 Ton...
Kejagung Sita 104 Ton Timah Milik Terpidana Tamron di Bangka Belitung
Program MBG Perkuat...
Program MBG Perkuat Keadilan Sosial Melalui Pemenuhan Gizi
Pancasila yang Kita...
Pancasila yang Kita Peringati, Pancasila yang Kita Khianati
Praperadilan Roy Suryo...
Praperadilan Roy Suryo Dikabulkan Sebagian, Pakar Hukum Pidana: Tak Batalkan Status Tersangka dan Pokok Perkara
Prabowo Puji India:...
Prabowo Puji India: Penduduk 1,4 Miliar, Transisi Pemerintahan Damai
Napi Diusulkan Ikut...
Napi Diusulkan Ikut Komcad usai Amnesti, Menteri Imipas: Belum Final
Infografis
Fenomena di Kuwait:...
Fenomena di Kuwait: 34 Menit Menikah vs 75 Menit Perceraian
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved