Serangan Nine Eleven yang Menggoncang Dunia (Bagian 5)

Sabtu, 19 September 2020 - 17:47 WIB
loading...
Serangan Nine Eleven...
Imam Shamsi Ali Imam/Direktur Jamaica Muslim Center/Presiden Nusantara Foundation. Foto/Istimewa
A A A
Imam Shamsi Ali
Imam/Direktur Jamaica Muslim Center/Presiden Nusantara Foundation

SEHARI setelah serangan WTC di kota New York, di beberapa tempat di kota New York terjadi kekerasan-kekerasan kepada Komunitas Muslim. Beberapa masjid dan Islamic Center juga mendapat serangan.

Di sebuah pertokoan di daerah Harlem ada dua orang Islam dari Ghana ditikam. Mereka diselamatkan oleh orang lain yang kebetulan lewat. Di depan masjid Mus’ab bin Umaer di Brooklyn ada dua wanita Muslimah asal Mesir dan Yaman dipukuli dan dipaksa melepaskan jilbabnya. Untung kejadian itu di siang hari di saat banyak orang yang lalu lalang. Sehingga beberapa orang menelpon 911 atau telpon darurat keamanan.

Di Staten Island pada hari Kamis, tiga hari setelah serangan itu ada seorang Muslim keturunan Palestina ditembak. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit. Pada hari yang sama di sebuah persinggahan pompa bensin di Texas terjadi penembakan kepada seorang warga India. Dia bukan Muslim. Dia beragama Sikh. Hanya saja karena di benak orang Amerika ketika itu Islam identik dengan sorban maka orang Sikh ini disangka Muslim dan tewas tertembak.

Kembali ke New York, sebuah masjid di Stainway Astoria queens dilempari kepala babi. Dindingnya dicoret-coret dengan kata-kata kasar dan kotor. Jauh ke Ohio ada sebuah masjid yang indah sengaja ditabrak oleh sebuah mobil truk, menjadikan masjid itu seolah dibelah dua. Demikianlah hari-hari awal pasca serangan 9/11 itu. Hari-hari yang berat dan mencekamkan bagi kami Komunitas Muslim di Amerika.

Semakin Kokoh Dalam Keimanan

Dalam situasi demikian itulah iman seorang Muslim teruji. Syukur Alhamdulilah, mayoritas Umat ini kokoh dalam keimanan dan keislaman. Bahkan banyak yang menjadi lebih sadar agama pasca 9/11 ini.

Satu contoh yang ingin saya berikan adalah Bro. Sharif El-Gamal. Beliaulah sesungguhnya sosok di balik masjid yang dikenal dengan masjid Ground Zero yang pernah heboh itu. Bahkan sempat menjadi isu internasional. Presiden RI ketika itu, Bapak SBY sempat memberikan dukungannya secara langsung dengan menuliskan surat dukungan melalui Dubes Dino Patti Djalal.

Sharif El-Gamal datang ke US dari Mesir ketika masih berumur sekitar 5 tahun. Sebagaimana lazimnya banyak imigran lainnya, Sharif tumbuh tidak terlalu peduli dengan agama. Tapi dia sukses dan menjadi bisnisman di bidang properti. Sebelum 9/11 Sharif hampir tidak pernah sholat, bahkan Jumatan. Hingga terjadilah 9/11 itu di mana Islam diekspos secara buruk (ugly exposure). Rupanya rasa kepemilikan di hatinya itu masih ada. Dia merasa bahwa agama ini adalah agamanya. Dan dia adalah bagian dari Komunitas Muslim. Mulailah dia hadir di Jumatan di kawasan Downtown dekat WTC saat itu. Masjid di mana dia Jumatan saat itu bernama Masjid Manhattan. Imamnya kebetulan dekat dengan kami juga. Imam Mustafa dari Mesir.

Ketika Jumatan masjid itu membludak hingga ke tangga dan pinggir jalan. Suatu ketika Sharif terlambat dan hanya sholat di pinggir jalan berdebu. Saat itulah tiba-tiba di benaknya ada keinginan untuk membeli gedung yang baik untuk dijadikan masjid. Singkat cerita dia membeli sebuah gedung yang tadinya dimiliki oleh perusahaan Bloomingdales. Dan letaknya sangat strategi karena hanya dua blok dari lokasi Ground Zero. Gedung itu beliau beli secara tunai 4 juta US$.

Sebagai bisnisman yang visioner Sharif memiliki rencana besar dengan gedung itu. Yaitu ingin membangun sebuah Islamic Center yang lengkap. Termasuk dapur/restoran, Kolam renang, bahkan musium WTC dan Islam Amerika. Tentu termasuk di dalamnya masjid. Perkiraan harga yang diperlukan mencapai ratusan US Dollar saat itu.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kasus dr Tifa dan Roy...
Kasus dr Tifa dan Roy Suryo P-21, Akankah Polemik Ijazah Berakhir di Pengadilan?
BI Rate Naik dan Rupiah...
BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
Bahaya Romantisasi Oligarki...
Bahaya Romantisasi Oligarki Putih
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
Rupiah, IHSG, dan Krisis...
Rupiah, IHSG, dan Krisis Kepercayaan
PP 20/2026: Menambah...
PP 20/2026: Menambah Penerimaan Negara atau Menambah Beban UMKM?
Transformasi Standar...
Transformasi Standar Nasional dan Akreditasi Pendidikan Tinggi: Kebutuhan untuk Wujudkan Merdeka Belajar
Ini Strategi Public...
Ini Strategi Public Relations Jaga Reputasi Perusahaan
Interfaith dan Islamophobia...
Interfaith dan Islamophobia (Bagian 2)
Rekomendasi
Industri Keramik Tertekan,...
Industri Keramik Tertekan, Concord Industry Minta Harga Gas Lebih Kompetitif
Petani Sawit: Margin...
Petani Sawit: Margin dan Kewenangan BUMN Tentukan Harga Jadi Beban Berat Ekosistem Sawit
29.344 Jemaah Haji Indonesia...
29.344 Jemaah Haji Indonesia dari 75 Kloter Telah Kembali ke Tanah Air
Berita Terkini
Prabowo Berulang Kali...
Prabowo Berulang Kali Ingatkan Jajarannya, Tugas Berat adalah Melawan Korupsi
Kasus dr Tifa dan Roy...
Kasus dr Tifa dan Roy Suryo P-21, Akankah Polemik Ijazah Berakhir di Pengadilan?
Sangkal Menkeu dan Gubernur...
Sangkal Menkeu dan Gubernur BI Diganti, Mensesneg: Justru Harus Kita Perkuat
Usai Silmy Karim Ditahan...
Usai Silmy Karim Ditahan KPK, Kursi Wamen Imipas Dibiarkan Kosong
Kasus Korupsi MBG Jadi...
Kasus Korupsi MBG Jadi Alarm Integritas Yayasan, PFI Dorong Audit dan Pengawasan Ketat
BI Rate Naik dan Rupiah...
BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
Infografis
Sejarah Panjang Persia...
Sejarah Panjang Persia Menjadi Iran yang Mengubah Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved