Lumbung Digital Nasional
Kamis, 13 November 2025 - 19:08 WIB
loading...
A
A
A
Membangun marketplace nasional bukan sekadar proyek teknologi, tapi proyek peradaban. Di dalamnya terkandung nilai gotong royong, kemandirian, dan solidaritas ekonomi. Ini bukan soal persaingan dengan platform asing, tapi tentang memberi tempat bagi rakyat kecil untuk tumbuh tanpa diperas.
Kita sering terpesona oleh kecepatan dan kemudahan digital, tapi lupa bahwa di balik setiap transaksi online ada wajah-wajah lelah yang menunggu saldo masuk. Ada ibu-ibu yang berjualan keripik, bapak-bapak yang mengantar barang, anak muda yang mencoba bertahan di tengah biaya iklan yang kian naik. Mereka bukan statistik, mereka denyut ekonomi bangsa.
Kalau negara tidak segera hadir, ruang digital kita akan menjadi hutan rimba tanpa penjaga. Yang kuat akan terus memangsa, yang kecil akan terus bersembunyi di balik diskon palsu. Dan ketika ekonomi rakyat hancur di tangan sistem yang tidak berpihak, jangan salahkan siapa pun, sebab kita yang membiarkan.
Negara harus menanam bendera di tanah digitalnya sendiri. Membangun marketplace nasional bukan soal kebanggaan, tapi kebutuhan. Ia harus menjadi rumah bagi pelaku usaha kecil, laboratorium bagi ekonomi gotong royong, dan benteng bagi kedaulatan data.
Karena tanpa itu, kita hanya akan menjadi tamu di rumah sendiri — sibuk berjualan, tapi tak punya toko; ramai berdagang, tapi tak pernah benar-benar berdaulat. Dan seperti yang sering diucapkan para pendahulu kita: kemerdekaan sejati bukan hanya ketika kita bebas berbicara, tapi ketika kita bebas berdagang tanpa dijajah algoritma.
Sudah saatnya negara turun gunung, bukan sekadar membuat regulasi, tapi membangun ladang baru — lumbung digital milik bangsa. Di sanalah harapan rakyat kecil harus disemai, agar mereka tak lagi menjadi laron di bawah lampu marketplace: terbang ke cahaya, lalu hangus di panasnya sistem.
Kedaulatan digital bukan wacana masa depan. Ia adalah panggilan hari ini. Dan jika negara terus diam, maka kelak kita akan menyadari - bukan hanya pasar yang hilang, tapi juga kedaulatan ekonomi yang kita biarkan dicuri pelan-pelan, dalam senyap, lewat layar di genggaman tangan.
Kita sering terpesona oleh kecepatan dan kemudahan digital, tapi lupa bahwa di balik setiap transaksi online ada wajah-wajah lelah yang menunggu saldo masuk. Ada ibu-ibu yang berjualan keripik, bapak-bapak yang mengantar barang, anak muda yang mencoba bertahan di tengah biaya iklan yang kian naik. Mereka bukan statistik, mereka denyut ekonomi bangsa.
Kalau negara tidak segera hadir, ruang digital kita akan menjadi hutan rimba tanpa penjaga. Yang kuat akan terus memangsa, yang kecil akan terus bersembunyi di balik diskon palsu. Dan ketika ekonomi rakyat hancur di tangan sistem yang tidak berpihak, jangan salahkan siapa pun, sebab kita yang membiarkan.
Negara harus menanam bendera di tanah digitalnya sendiri. Membangun marketplace nasional bukan soal kebanggaan, tapi kebutuhan. Ia harus menjadi rumah bagi pelaku usaha kecil, laboratorium bagi ekonomi gotong royong, dan benteng bagi kedaulatan data.
Karena tanpa itu, kita hanya akan menjadi tamu di rumah sendiri — sibuk berjualan, tapi tak punya toko; ramai berdagang, tapi tak pernah benar-benar berdaulat. Dan seperti yang sering diucapkan para pendahulu kita: kemerdekaan sejati bukan hanya ketika kita bebas berbicara, tapi ketika kita bebas berdagang tanpa dijajah algoritma.
Sudah saatnya negara turun gunung, bukan sekadar membuat regulasi, tapi membangun ladang baru — lumbung digital milik bangsa. Di sanalah harapan rakyat kecil harus disemai, agar mereka tak lagi menjadi laron di bawah lampu marketplace: terbang ke cahaya, lalu hangus di panasnya sistem.
Kedaulatan digital bukan wacana masa depan. Ia adalah panggilan hari ini. Dan jika negara terus diam, maka kelak kita akan menyadari - bukan hanya pasar yang hilang, tapi juga kedaulatan ekonomi yang kita biarkan dicuri pelan-pelan, dalam senyap, lewat layar di genggaman tangan.
(poe)