Roller Coaster Covid-19 dan Perubahan Wajah Peradaban
Minggu, 13 September 2020 - 07:32 WIB
loading...
A
A
A
Di tengah harapan munculnya vaksin yang telah masuk tahap akhir uji coba di Rusia, bahkan Presiden Vladimir Putin merelakan putri kesayangannya jadi sukarelawan uji coba vaksin, WHO merilis pernyataaan belum ada vaksin yang dapat diandalkan hingga 2021. Sebaliknya, dunia perlu mewaspadai adanya pandemik baru yang lebih ganas, setelah Covid-19 ini.
Demikian juga dengan dirilisnya prakiraan dari ilmuwan Jerman, yang menyatakan pandemi Covid-19 paling cepat berakhir di tahun 2023. Ini mengacu pada flu Spanyol se-abad lalu, ketika menimbulkan penularan dan kematian besar di dunia.
Harapan yang melambung, di tengah lelahnya hidup yang terus-menerus didera oleh realitas penularan dan kematian, terhempas oleh pesimisme kabar buruk. Sumber informasinya justru personal-personal yang punya kompetensi, dari Lembaga yang punya otoritas pula. Tak ketinggalan, saat seorang ilmuwan dari sebuah kampus di Indonesia yang mewartakan kabar: daya tular Virus Corona telah melemah. Ibarat photo copy yang di-photo copy lagi, berulang-ulang, maka hasilnya akan makin buram.
Analog dengan virus yang telah mereplikasi dirinya sendiri selama lebih dari 6 bulan, akan kehilangan daya replikasinya. Kemampuan menularnya, makin turun. Artinya, dengan atau tanpa vaksin dan obat tertentu, pandemi yang melelahkan ini akan berakhir secara alamiah.
Pernyataan dari orang yang bukan biasa-biasa saja ini pun, dibantah oleh hasil penemuan ilmuwan dari kampus lainnya. Penemuan itu menyatakan, Virus Corona telah mengalami mutasi sehingga daya tularnya justru meningkat makin kuat. Itu sebabnya, tanpa menyertakan kapasitas testing, tracing dan treatment (3T) yang ideal menurut WHO, penularan Covid-19 di Indonesia terindikasi mengganas, dua bulan terakhir ini.
Pelonggaran PSBB, adaptasi kebiasaan baru, new normal, bahkan berbagai konsep kebijakan yang dikemukakan sebagai upaya menyelamatkan ekonomi, seraya mewaspadai ancaman penularan yang tak pernah nihil, justru tak mengindikasikan keduanya.
Demikian juga dengan dirilisnya prakiraan dari ilmuwan Jerman, yang menyatakan pandemi Covid-19 paling cepat berakhir di tahun 2023. Ini mengacu pada flu Spanyol se-abad lalu, ketika menimbulkan penularan dan kematian besar di dunia.
Harapan yang melambung, di tengah lelahnya hidup yang terus-menerus didera oleh realitas penularan dan kematian, terhempas oleh pesimisme kabar buruk. Sumber informasinya justru personal-personal yang punya kompetensi, dari Lembaga yang punya otoritas pula. Tak ketinggalan, saat seorang ilmuwan dari sebuah kampus di Indonesia yang mewartakan kabar: daya tular Virus Corona telah melemah. Ibarat photo copy yang di-photo copy lagi, berulang-ulang, maka hasilnya akan makin buram.
Analog dengan virus yang telah mereplikasi dirinya sendiri selama lebih dari 6 bulan, akan kehilangan daya replikasinya. Kemampuan menularnya, makin turun. Artinya, dengan atau tanpa vaksin dan obat tertentu, pandemi yang melelahkan ini akan berakhir secara alamiah.
Pernyataan dari orang yang bukan biasa-biasa saja ini pun, dibantah oleh hasil penemuan ilmuwan dari kampus lainnya. Penemuan itu menyatakan, Virus Corona telah mengalami mutasi sehingga daya tularnya justru meningkat makin kuat. Itu sebabnya, tanpa menyertakan kapasitas testing, tracing dan treatment (3T) yang ideal menurut WHO, penularan Covid-19 di Indonesia terindikasi mengganas, dua bulan terakhir ini.
Pelonggaran PSBB, adaptasi kebiasaan baru, new normal, bahkan berbagai konsep kebijakan yang dikemukakan sebagai upaya menyelamatkan ekonomi, seraya mewaspadai ancaman penularan yang tak pernah nihil, justru tak mengindikasikan keduanya.