Keberlanjutan Rekonsiliasi Indonesia-Timor Leste
Jum'at, 26 September 2025 - 13:27 WIB
loading...
A
A
A
Pengalaman berinteraksi secara intens dengan berbagai elemen masyarakat di Timor Leste telah mendorong saya untuk menulis ulang narasi besar perihal prahara Timor Timur dalam versi novel bertajuk Bumi Lorosae. Selain itu, atas inisiatif Letjen TNI (Purn) Doni Monardo (alm), Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri, dan Mayjen TNI (Purn) Zacky A. Makarim, kami juga mengagas produksi film persahabatan Indonesia-Timor Leste, yang didukung penuh oleh Presiden Republik Demokratik Timor Leste, José Manuel Ramos-Horta.
Film berjudul “Saat Luka Bicara Cinta” yang disutradarai oleh Anggi Frisca di bawah supervisi sineas senior Deddy Mizwar tersebut memperlihatkan bahwa luka yang terjadi di masa lalu, bisa disembuhkan dengan saling percaya, cinta-kasih dan keinginan kuat untuk bersama-sama mewujudkan masa depan yang lebih baik.
Karya-karya kreatif tersebut di atas adalah wujud konkret dari diplomasi budaya untuk membangun Reputational Security, atau rasa aman yang lahir dari citra positif dan saling percaya. Saya membayangkan, diplomasi budaya lewat karya seni semacam ini sebagai langkah awal untuk menstimulasi perhatian para sejarawan, akademisi, saksi sejarah dan perwakilan masyarakat sipil dari kedua negara, untuk berdialog secara seimbang, penuh empati, dan menyamakan berbagai persepsi tentang sejarah kelam 1975-1999, guna menjernihkan narasi-narasi negatif tentang prahara Timor Timur.
Ketidakmampuan kedua belah pihak dalam membangun reputational security dapat membuat rekonsiliasi yang telah digagas terasa rapuh dan akan menjadi ungkapan-ungkapan retorik-seremonial belaka.
Film berjudul “Saat Luka Bicara Cinta” yang disutradarai oleh Anggi Frisca di bawah supervisi sineas senior Deddy Mizwar tersebut memperlihatkan bahwa luka yang terjadi di masa lalu, bisa disembuhkan dengan saling percaya, cinta-kasih dan keinginan kuat untuk bersama-sama mewujudkan masa depan yang lebih baik.
Karya-karya kreatif tersebut di atas adalah wujud konkret dari diplomasi budaya untuk membangun Reputational Security, atau rasa aman yang lahir dari citra positif dan saling percaya. Saya membayangkan, diplomasi budaya lewat karya seni semacam ini sebagai langkah awal untuk menstimulasi perhatian para sejarawan, akademisi, saksi sejarah dan perwakilan masyarakat sipil dari kedua negara, untuk berdialog secara seimbang, penuh empati, dan menyamakan berbagai persepsi tentang sejarah kelam 1975-1999, guna menjernihkan narasi-narasi negatif tentang prahara Timor Timur.
Ketidakmampuan kedua belah pihak dalam membangun reputational security dapat membuat rekonsiliasi yang telah digagas terasa rapuh dan akan menjadi ungkapan-ungkapan retorik-seremonial belaka.
(shf)
Lihat Juga :