Optimalisasi Gas Suar
Senin, 11 Agustus 2025 - 16:06 WIB
loading...
A
A
A
Sejauh ini banyak K3S terkendala oleh volume pasokan gas suar. Dengan berbasis teknologi skid-mounted mampu mengolah gas suar skala terendah hingga 0,4 MMSCFD, akan lebih besar membuka peluang pemanfaatan gas yang tidak bermanfaat menjadi LNG yang layak.
Pemanfaatan gas suar bisa dilakukan untuk kebutuhan pembangkit listrik berskala kecil kapasitas antara satu hingga dua puluh megawatt, gas flare dapat menjadi sumber energi lokal untuk infrastruktur digital di daerah terpencil tanpa menambah beban jaringan utama PLN.
Bagi lapangan migas yang jauh dari infrastruktur pipa, teknologi seperti modular CNG, mini-LNG, hingga mini-GTL (gas to liquids) kini semakin layak secara komersial. Pemerintah telah merencanakan pembangunan terminal mini-LNG di wilayah timur Indonesia, seperti Sulawesi dan Maluku, yang dapat memanfaatkan flare gas untuk menggantikan solar di klaster smelter nikel.
Kombinasi antara pengurangan emisi, penghematan subsidi, dan penurunan biaya bahan bakar industri memberikan efek berlapis: iklim menjadi lebih bersih, anggaran negara lebih efisien, dan hilirisasi mineral lebih kompetitif. Di luar itu, LPG splitter berbasis gas buang juga berpotensi memperkuat pasokan elpiji rumah tangga, mengurangi tekanan impor.
Dari sisi fiskal, manfaat pemanfaatan gas suar sangat konkret. Pertama, penjualan gas atau produk turunannya akan menambah PPh Badan dan bagi hasil migas. Kedua, perusahaan menghindari pajak karbon yang dikenakan sesuai Undang-Undang No. 7 Tahun 2021 (UU HPP) sebesar Rp30 per kilogram CO2, setara penghematan Rp270 miliar untuk sembilan juta ton CO2. Ketiga, proyek pengurangan gas suar berpotensi menghasilkan kredit karbon yang nilainya bisa mencapai USD30 per ton CO2 menjelang 2040.
Di sektor industri pupuk memanfaatkan gas suar sepenuhnya dalam proses produksi. Perusahaan pupuk memanfaatkan gas suar untuk produksi amonia mereka dilakukan dengan memanfaatkan hidrogen. Pendekatan efisiensi ini menunjukkan mengoptimalkan sumber daya dan berkontribusi pada upaya pengurangan emisi.
Potensi dan manfaat gas suar sangat menjanjikan. Dengan penerapan teknologi yang tepat dan model bisnis yang sesuai, pemanfaatan gas suar dapat memberikan manfaat yang signifikan. Praktik pembakaran gas suar bukan sekadar isu teknis, tetapi problem tata kelola sumber daya. Di tengah defisit pasokan gas domestik dan tekanan fiskal akibat subsidi energi, gas yang dibiarkan terbakar adalah peluang ekonomi yang dibiarkan pergi.
Pemanfaatan gas suar bisa dilakukan untuk kebutuhan pembangkit listrik berskala kecil kapasitas antara satu hingga dua puluh megawatt, gas flare dapat menjadi sumber energi lokal untuk infrastruktur digital di daerah terpencil tanpa menambah beban jaringan utama PLN.
Bagi lapangan migas yang jauh dari infrastruktur pipa, teknologi seperti modular CNG, mini-LNG, hingga mini-GTL (gas to liquids) kini semakin layak secara komersial. Pemerintah telah merencanakan pembangunan terminal mini-LNG di wilayah timur Indonesia, seperti Sulawesi dan Maluku, yang dapat memanfaatkan flare gas untuk menggantikan solar di klaster smelter nikel.
Kombinasi antara pengurangan emisi, penghematan subsidi, dan penurunan biaya bahan bakar industri memberikan efek berlapis: iklim menjadi lebih bersih, anggaran negara lebih efisien, dan hilirisasi mineral lebih kompetitif. Di luar itu, LPG splitter berbasis gas buang juga berpotensi memperkuat pasokan elpiji rumah tangga, mengurangi tekanan impor.
Dari sisi fiskal, manfaat pemanfaatan gas suar sangat konkret. Pertama, penjualan gas atau produk turunannya akan menambah PPh Badan dan bagi hasil migas. Kedua, perusahaan menghindari pajak karbon yang dikenakan sesuai Undang-Undang No. 7 Tahun 2021 (UU HPP) sebesar Rp30 per kilogram CO2, setara penghematan Rp270 miliar untuk sembilan juta ton CO2. Ketiga, proyek pengurangan gas suar berpotensi menghasilkan kredit karbon yang nilainya bisa mencapai USD30 per ton CO2 menjelang 2040.
Di sektor industri pupuk memanfaatkan gas suar sepenuhnya dalam proses produksi. Perusahaan pupuk memanfaatkan gas suar untuk produksi amonia mereka dilakukan dengan memanfaatkan hidrogen. Pendekatan efisiensi ini menunjukkan mengoptimalkan sumber daya dan berkontribusi pada upaya pengurangan emisi.
Potensi dan manfaat gas suar sangat menjanjikan. Dengan penerapan teknologi yang tepat dan model bisnis yang sesuai, pemanfaatan gas suar dapat memberikan manfaat yang signifikan. Praktik pembakaran gas suar bukan sekadar isu teknis, tetapi problem tata kelola sumber daya. Di tengah defisit pasokan gas domestik dan tekanan fiskal akibat subsidi energi, gas yang dibiarkan terbakar adalah peluang ekonomi yang dibiarkan pergi.
(poe)
Lihat Juga :