Ketika Gen Z Memilih Kabur Aja Dulu
Rabu, 12 Maret 2025 - 21:45 WIB
loading...
A
A
A
Keempat, pendidikan yang tidak menawarkan mobilitas sosial. Mayoritas sistem pendidikan di Indonesia masih berorientasi pada paradigma lama yang kurang selaras dengan tuntutan pasar kerja modern. Kurikulum yang kurang fleksibel, minimnya keterkaitan dengan industri berbasis digital, serta terbatasnya peluang pengembangan keterampilan praktis membuat banyak lulusan kesulitan bersaing di dunia kerja. Lebih dari itu, banyak yang melihat bahwa pendidikan dan kehidupan di dalam negeri tidak cukup memberikan mobilitas sosial, kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Mereka yang memilih melanjutkan studi atau bekerja di luar negeri, bukan hanya demi gaji lebih tinggi, tetapi juga untuk peluang kerja dan kehidupan yang lebih menjanjikan.
Walaupun sebagian mereka memilih ”kabur” dan yang lain bertahan menyuarakan tuntutan, pesan mereka senada. Anak-anak kita tidak sekadar mengeluh; mereka menuntut sistem yang lebih adil, adaptif, dan selaras dengan realitas dunia modern. Alih-alih menghakimi atau menolak aspirasi mereka, pemangku kebijakan perlu menjadikan fenomena ini sebagai pemacu reformasi. Jika tidak, eksodus talenta dan meningkatnya ketidakpercayaan hanya akan semakin memperdalam masalah yang ada.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta. (2024, November 5). Keadaan ketenagakerjaan provinsi DKI Jakarta: Agustus 2024 (Berita Resmi Statistik No. 52/11/31/Th.XXVI). Badan Pusat Statistik. https://jakarta.bps.go.id
Antara News. (2024). Segini biaya hidup di Jakarta 2025 berdasarkan UMP, apakah cukup? https://www.antaranews.com/berita/4525891/segini-biaya-hidup-di-jakarta-2025-berdasarkan-ump-apakah-cukup
Twenge, J. (2017). iGen: Why today’s super-connected kids are growing up less rebellious, more tolerant, less happy, and completely unprepared for adulthood. Atria.
Dua Ekspresi untuk Satu Pesan
Fenomena #KaburAjaDulu bukan sekadar tren, tetapi refleksi dari realitas yang dihadapi Gen Z. Bersamaan dengan itu, #IndonesiaGelap muncul sebagai ekspresi kolektif atas ketidakpuasan terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia. Jika #KaburAjaDulu mencerminkan keputusan individu untuk mencari peluang di tempat yang lebih mendukung, #IndonesiaGelap adalah seruan untuk perubahan struktural yang lebih luas.Walaupun sebagian mereka memilih ”kabur” dan yang lain bertahan menyuarakan tuntutan, pesan mereka senada. Anak-anak kita tidak sekadar mengeluh; mereka menuntut sistem yang lebih adil, adaptif, dan selaras dengan realitas dunia modern. Alih-alih menghakimi atau menolak aspirasi mereka, pemangku kebijakan perlu menjadikan fenomena ini sebagai pemacu reformasi. Jika tidak, eksodus talenta dan meningkatnya ketidakpercayaan hanya akan semakin memperdalam masalah yang ada.
Referensi
Badan Pusat Statistik. (2024). Keadaan angkatan kerja di Indonesia: Agustus 2024 (Vol. 46, No. 2). Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.idBadan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta. (2024, November 5). Keadaan ketenagakerjaan provinsi DKI Jakarta: Agustus 2024 (Berita Resmi Statistik No. 52/11/31/Th.XXVI). Badan Pusat Statistik. https://jakarta.bps.go.id
Antara News. (2024). Segini biaya hidup di Jakarta 2025 berdasarkan UMP, apakah cukup? https://www.antaranews.com/berita/4525891/segini-biaya-hidup-di-jakarta-2025-berdasarkan-ump-apakah-cukup
Twenge, J. (2017). iGen: Why today’s super-connected kids are growing up less rebellious, more tolerant, less happy, and completely unprepared for adulthood. Atria.
(abd)
Lihat Juga :