Ketika Gen Z Memilih Kabur Aja Dulu

Rabu, 12 Maret 2025 - 21:45 WIB
loading...
Ketika Gen Z Memilih...
Dosen Prodi Sastra Inggris UKRIDA Jakarta, Ira Rasikawati. FOTO/DOK.PRIBADI
A A A
Ira Rasikawati
Dosen Prodi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UKRIDA Jakarta

MEDIA sosial belakangan ini diramaikan oleh #KaburAjaDulu , sebuah hashtag yang banyak digunakan oleh Generasi Z (Gen Z). Reaksi terhadap hashtag ini beragam; ada yang mendukung pilihan mereka mencari peluang lebih baik di luar negeri, sementara yang lain mengkritik bahkan mengusir mereka dengan sinis. Namun, apakah fenomena ini sekadar eskapisme dan ketidakpedulian, atau justru tanda bahwa ada sistem yang perlu diperbaiki?

Mengapa #KaburAjaDulu Menjadi Relevan bagi Gen Z?

Gen Z tumbuh di era digital dengan akses informasi yang cepat dan ekspektasi tinggi dari lingkungan sekitar. Minimnya interaksi sosial langsung membuat mereka lebih rentan terhadap kecemasan dan kesepian dibanding generasi sebelumnya (Twenge, 2017). Ketergantungan pada teknologi serta harapan akan kestabilan hidup menjadikan mereka lebih selektif dalam memilih karier dan masa depan. Tak heran jika #KaburAjaDulu muncul sebagai respons terhadap sistem yang menuntut banyak tetapi tak memberi kepastian.

Statistik menunjukkan kesenjangan besar antara pencari kerja dan lapangan kerja. Pada Agustus 2024, jumlah angkatan kerja di Indonesia mencapai 152,11 juta orang, dengan 7,47 juta orang di antaranya menganggur. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional mencapai 4,91%, meningkat dari Februari 2024 yang tercatat 4,82% (BPS, 2024). Di DKI Jakarta sendiri, TPT mencapai 6,21%, lebih tinggi dari rata-rata nasional (BPS Provinsi DKI Jakarta, 2024).

Selain itu, kesenjangan upah dan biaya hidup semakin memperburuk ketidakpastian ekonomi bagi Gen Z. UMP DKI Jakarta 2025 ditetapkan sebesar Rp5.396.761 per bulan, hanya setara 36% dari total biaya hidup standar Rp14,88 juta (Antara News, 2024). Bagi fresh graduates, upah ini jauh dari cukup. Selain itu, 36,31% pekerja di Jakarta berada di sektor informal, tanpa kepastian pendapatan dan perlindungan sosial (BPS Provinsi DKI Jakarta, 2024).

Dalam situasi ini, banyak Gen Z mulai mempertimbangkan berbagai pilihan untuk masa depan mereka. Beberapa faktor yang dapat memengaruhi keputusan ini. Pertama, ketidakpastian ekonomi dan sulitnya mendapatkan pekerjaan. Banyak lulusan baru menghadapi tantangan dalam mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi mereka. Dengan upah yang tidak mencukupi kebutuhan hidup, sebagian merasa bahwa kerja keras saja tidak cukup untuk mencapai kestabilan finansial.

Kedua, terbatasnya fleksibilitas dan kesejahteraan kerja. Di banyak negara, Gen Z memiliki lebih banyak peluang untuk bekerja dengan sistem yang lebih fleksibel, baik dalam bentuk kerja jarak jauh (remote work), jam kerja tidak kaku (flextime), hybrid, maupun berbasis digital platform. Model ini menawarkan benefit lebih baik, seperti gaji kompetitif, perlindungan tenaga kerja, dan keseimbangan kerja-hidup yang lebih sehat. Sebaliknya, di Indonesia, kebijakan tenaga kerja dan budaya kerja masih cenderung mempertahankan sistem konvensional, dengan sedikit ruang bagi fleksibilitas. Terbatasnya peluang untuk bekerja dalam sistem yang lebih dinamis membuat banyak Gen Z mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan atau membangun karier di luar negeri, dimana fleksibilitas dan kesejahteraan tenaga kerja lebih terjamin.

Ketiga, krisis kesehatan mental. Tekanan akademik dan profesional yang semakin berat, sering kali tanpa dukungan yang memadai, menyebabkan Gen Z lebih sadar akan pentingnya kesehatan mental. Mereka cenderung menolak lingkungan kerja yang eksploitatif atau tidak manusiawi dan lebih memilih keluar demi kesejahteraan diri.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kasus dr Tifa dan Roy...
Kasus dr Tifa dan Roy Suryo P-21, Akankah Polemik Ijazah Berakhir di Pengadilan?
BI Rate Naik dan Rupiah...
BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
Bahaya Romantisasi Oligarki...
Bahaya Romantisasi Oligarki Putih
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
Rupiah, IHSG, dan Krisis...
Rupiah, IHSG, dan Krisis Kepercayaan
PP 20/2026: Menambah...
PP 20/2026: Menambah Penerimaan Negara atau Menambah Beban UMKM?
Ratusan Peserta Padati...
Ratusan Peserta Padati Nobar Pesta Babi di Sekretariat PMKRI Jakarta Pusat
Aplikasi Trading dengan...
Aplikasi Trading dengan UI/UX Dinamis Berbasis AI Real Time untuk Gen-Z Meluncur
Bebas Ribet: Ini Alasan...
Bebas Ribet: Ini Alasan Gen Z Beralih ke Laundry Pods
Rekomendasi
Bukan Sekadar Digital,...
Bukan Sekadar Digital, Teras Kapal BRI Buktikan CX100 Danantara Hadir Nyata di Pulau Terpencil
Skuad Timnas Norwegia...
Skuad Timnas Norwegia Foto Ala Pasukan Viking Menuju Piala Dunia 2026
Fasilitas Pengemasan...
Fasilitas Pengemasan Minyak Goreng di Surabaya Percepat Pasokan ke Indonesia Timur
Berita Terkini
Kubu Roy Suryo Tepis...
Kubu Roy Suryo Tepis Berkas Kasus Pencemaran Nama Baik Terkait Ijazah Jokowi Sudah P21
Roy Suryo Bandingkan...
Roy Suryo Bandingkan Lamanya Penanganan Kasus Ijazah Jokowi dengan Jessica dan Ferdy Sambo
DKPP Pecat Ketua Bawaslu...
DKPP Pecat Ketua Bawaslu Kabupaten Tambrauw karena Terbukti Masih Berstatus ASN
KPK Ungkap Tahapan yang...
KPK Ungkap Tahapan yang Harus Dilalui untuk Ekstradisi Tersangka E-KTP Paulus Tannos
Terima Kunjungan Sekjen...
Terima Kunjungan Sekjen ICAPP, PKB Perkuat Jembatan Diplomasi Politik dengan Korsel
Desak DPR Segera Bahas...
Desak DPR Segera Bahas Revisi UU Pemilu, Perindo: Libatkan Partai Nonparlemen
Infografis
7 Alasan Gen Z Nepal...
7 Alasan Gen Z Nepal Turun ke Jalan, Paksa PM KP Sharma Mundur
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved