Teori Denny JA: Sosiologi Agama di Era Kecerdasan Buatan
loading...
A
A
A
Survei yang dilakukan oleh seorang dosen UIN Bandung pada tahun 2020 menunjukkan bahwa 58% generasi milenial lebih memilih belajar agama melalui media sosial seperti Instagram dan YouTube daripada mengikuti pengajian langsung.
“Pemuka agama tidak lagi menjadi satu-satunya sumber rujukan. AI memungkinkan masyarakat mengakses ribuan sumber dalam hitungan detik, membandingkan tafsir, dan memahami konteks sejarah di balik teks suci,” tutur Anick.
Namun, keterbukaan ini juga menimbulkan tantangan baru. Bagaimana memastikan bahwa pemahaman agama tetap mendalam dan tidak sekadar menjadi konsumsi instan?
Denny JA menekankan bahwa agama bukan hanya sistem dogmatis, tetapi juga tradisi kultural yang terus berkembang. Di era digital, banyak aspek agama yang melampaui batas komunitasnya. Misalnya, Natal tidak hanya dirayakan oleh umat Kristiani, tetapi juga sebagai festival budaya global. Yoga, yang berasal dari tradisi Hindu, kini menjadi bagian dari gaya hidup global.
AI berperan sebagai alat yang memungkinkan eksplorasi lintas budaya dan refleksi yang lebih luas terhadap nilai-nilai agama. Namun, tantangannya adalah memastikan bahwa keterbukaan ini tidak mengikis makna dan esensi pengalaman beragama.
Denny JA berpendapat bahwa agama akan tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia, meskipun bentuk interaksinya akan semakin dipengaruhi oleh teknologi. Pemuka agama yang mampu memanfaatkan AI untuk mendukung pemahaman agama yang lebih luas dan mendalam akan lebih relevan di masa depan.
Namun, ada dua tantangan utama yang perlu dihadapi. Pertama, bagaimana AI dapat digunakan secara bertanggung jawab dalam konteks keagamaan? Kedua, bagaimana memastikan bahwa keterbukaan informasi tidak berujung pada disinformasi atau penyederhanaan pemahaman agama.
Teori Denny JA melengkapi sosiologi agama dengan menghadirkan perspektif baru tentang perkembangan agama di era AI. Teknologi membuka ruang eksplorasi baru, tetapi pemaknaan tetap bergantung pada manusia yang menggunakannya.
“AI mengubah posisi otoritas agama, tetapi tidak menggantikan esensi pengalaman spiritual. Agama tetap akan bertahan, beradaptasi dengan perubahan zaman, dan menemukan cara baru untuk memberikan makna bagi kehidupan manusia,” sebut Anick.
“Pemuka agama tidak lagi menjadi satu-satunya sumber rujukan. AI memungkinkan masyarakat mengakses ribuan sumber dalam hitungan detik, membandingkan tafsir, dan memahami konteks sejarah di balik teks suci,” tutur Anick.
Namun, keterbukaan ini juga menimbulkan tantangan baru. Bagaimana memastikan bahwa pemahaman agama tetap mendalam dan tidak sekadar menjadi konsumsi instan?
Denny JA menekankan bahwa agama bukan hanya sistem dogmatis, tetapi juga tradisi kultural yang terus berkembang. Di era digital, banyak aspek agama yang melampaui batas komunitasnya. Misalnya, Natal tidak hanya dirayakan oleh umat Kristiani, tetapi juga sebagai festival budaya global. Yoga, yang berasal dari tradisi Hindu, kini menjadi bagian dari gaya hidup global.
AI berperan sebagai alat yang memungkinkan eksplorasi lintas budaya dan refleksi yang lebih luas terhadap nilai-nilai agama. Namun, tantangannya adalah memastikan bahwa keterbukaan ini tidak mengikis makna dan esensi pengalaman beragama.
Denny JA berpendapat bahwa agama akan tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia, meskipun bentuk interaksinya akan semakin dipengaruhi oleh teknologi. Pemuka agama yang mampu memanfaatkan AI untuk mendukung pemahaman agama yang lebih luas dan mendalam akan lebih relevan di masa depan.
Namun, ada dua tantangan utama yang perlu dihadapi. Pertama, bagaimana AI dapat digunakan secara bertanggung jawab dalam konteks keagamaan? Kedua, bagaimana memastikan bahwa keterbukaan informasi tidak berujung pada disinformasi atau penyederhanaan pemahaman agama.
Teori Denny JA melengkapi sosiologi agama dengan menghadirkan perspektif baru tentang perkembangan agama di era AI. Teknologi membuka ruang eksplorasi baru, tetapi pemaknaan tetap bergantung pada manusia yang menggunakannya.
“AI mengubah posisi otoritas agama, tetapi tidak menggantikan esensi pengalaman spiritual. Agama tetap akan bertahan, beradaptasi dengan perubahan zaman, dan menemukan cara baru untuk memberikan makna bagi kehidupan manusia,” sebut Anick.
(shf)
Lihat Juga :