Fase Indah untuk BUMN Inhan Indonesia
Selasa, 01 Oktober 2024 - 05:05 WIB
loading...
Ilustrasi: Masyudi/SINDOnews
A
A
A
KABAR menggembirakan untuk industri dirgantara Tanah Air tersuguh di sela Indonesia-Africa Forum (IAF) 2024, awal September lalu. Apa itu? PT Dirgantara Indonesia (DI) berhasil mengamankan penjualan pesawat terbarunya, N219 Nurtanio, sebanyak lima unit dari pemerintah Republik Demokratik Kongo. Transaksi melibatkan perusahaan milik konglomerat Setiawan Djodi, Setdco Group.
baca juga: Optimasi Industri Pertahanan Nasional Indonesia
Penandatanganan kontrak jual beli yang bertempat di BICC The Westin Bali Resort, Nusa Dua, Bali (3/9) dilakukan Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan dan Setiawan Djody sebagai CEO Setdco Group. Turut menyaksikan prosesi itu, Menteri PPN RI/Bappenas Suharso Monoarfa dan Deputi Bidang Ekonomi Bappenas Amalia Adininggar Widyasanti.
Masih di bulan September, PTDI kembali meraih komitmen penjualan dua unit N219 dengan perusahaan nasional, PT Indo Aviasi Perkasa. Transaksi ini diraih di sela even Bali International Air Show (BIAS) 2024 yang digelar di Bandara Ngurah Rai Bali. Dokumen Letter of Intent (LoI) kesepakatan itu ditandatangani Gita Amperiawan dengan CEO PT Indo Aviasi Perkasa, Septo Adjie Sudiro. Rencananya, pesawat akan dimanfaatkan untuk mendukung program Transformasi Ekonomi Kepulauan Riau.
Untuk transaksi ke Kongo, jika ditelusuri, Afrika merupakan pasar tradisional bagi PTDI. Sebelumnya, sejumlah negara di Benua Hitam itu telah mengoperasikan pesawat karya anak bangsa, terutama CN234 dan NC212, di antaranya Senegal, Pantai Gading, Burkina Faso, dan Guinea. Pesawat dimanfaatkan bukan hanya untuk kepentingan militer, tapi juga transportasi sipil.
Dalam perspektif PTDI, Afrika merupakan pasar potensial untuk pertumbuhan industri aviasi yang harus dimanfaatkan. Mengapa? Menurut CEO PT DI Gita Amperiawan, Afrika memiliki kebutuhan signifikan terhadap pesawat-pesawat regional yang memiliki kapasitas beroperasi di bandara-bandara dengan infrastruktur belum optimal. Pesawat N219 bisa menjawab kebutuhan itu karena didesain khusus untuk penerbangan perintis di medan sulit.
Transaksi penjualan yang berhasil dicatatkan PTDI menjadi indikasi masa depan cerah perusahaan plat merah tersebut. Sebelumnya, kinerja positif dari sisi marketing juga dicapai ajang Singapore Airshow 2024. Bersama Indo Pacific Resources, perusahaan asal Malaysia, PTDI menandatangani Letter of Intent (LoI) pembelian sebanyak 23 unit helikopter angkut medium class, dengan end user di sebuah negara di Asia Tenggara.
Pada awal 2024, PTDI juga meraih kontrak pengadaan empat unit pesawat multiperan CN235-220 dari Allied Aeronautics Limited (AAL), perusahaan lokal di Nigeria untuk end user angkatan darat. Selain untuk ekspor, PTDI juga berhasil memanen pemesanan domestik untuk produk N219, NC212i. Hingga kini CN235-220 tetap menjadi andalan PTDI, termasuk untuk memenuhi kontrak tiga unit pesawat senilai USD85 juta dari Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Dijadwalkan, pesawat tersebut sudah mulai dikirim pada 2026.
Sukses meraih sejumlah transaksi selama 2024 ini melambungkan optimisme perseroan bisa mendapatkan pendapatan lebih besar dibanding tahun sebelumnya. Untuk tahun 2024, anggota holding BUMN industri pertahanan (inhan) ini menargetkan pendapatan mencapai Rp3,7 triliun atau meningkat 19% dari prognosa penjualan sepanjang tahun 2023. PTDI juga optimistis bisa mencetak laba bersih Rp24 miliar.
baca juga: Industri Pertahanan Swasta Aset Strategis Bangsa
Kinerja positif PTDI juga diraih oleh BUMN Industri Pertahanan (Inhan) yang berada di bawah holding Defense Industry Indonesia atau Defend ID lainnya seperti PT PAL, PT Pindad, dan PT LEN. Tahun 2024 ini seolah menjadi tahun penuh keberuntungan. Sukses ini tentu ditopang banyak variabel, seperti dukungan pemerintah yang mengutamakan akuisisi alutsista , termasuk melalui skema transfer of technology (ToT); inovasi; kesiapan sumber daya manusia (SDM), kepercayaan terhadap kwalitas produk made in Indonesia yang semakin tinggi, kemampuan pemasaran, dan faktor lainnya.
Apa yang dicapai hari ini menjadi modal berharga untuk meraih asa lebih baik di masa depan. Termasuk untuk mencapai target Defend ID menjadi bagian Top 40 Global Defense Companies pada 2034. Dalam jangka pendek, yakni 2026, Defend ID percaya diri bisa melewati salah satu perusahaan pertahanan terbesar di Asia asal Singapura, yakni ST Engineering.
Melihat tren positif dan optimisme yang dimunculkan memancing pertanyaan bagaimana kinerja positif belakangan ini bisa dicapai dan apakah target tinggi yang dicanangkan tersebut realistis atau sekadar mimpi? Bagaimana perusahaan plat merah yang sebelumnya dianggap biasa saja, kini memiliki gairah untuk berkembang dan melangkah jauh ke depan?
Dukungan Sejumlah Variabel
Tak dapat dimungkiri, tumbuh dan berkembangnya BUMN Inhan secara fundamental didukung lahirnya UU No 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Keberadaannya menjadi landasan hukum pengembangan industri pertahanan Tanah Air untuk memenuhi kebutuhan peralatan TNI dan Polri.
Seperti tercantum dalam Bab II, konstitusi tersebut memandang penyelenggaraan Inhan sangat penting bukan hanya untuk mendorong terwujudnya kemandirian alutsista, tapi juga untuk menyokong pertumbuhan ekonomi nasional dan menyerap tenaga kerja, serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia Indonesia terutama dalam bidang pertahanan.
baca juga: India Yakin Industri Pertahanan Indonesia Mampu Produksi Alutsista Mandiri
baca juga: Optimasi Industri Pertahanan Nasional Indonesia
Penandatanganan kontrak jual beli yang bertempat di BICC The Westin Bali Resort, Nusa Dua, Bali (3/9) dilakukan Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan dan Setiawan Djody sebagai CEO Setdco Group. Turut menyaksikan prosesi itu, Menteri PPN RI/Bappenas Suharso Monoarfa dan Deputi Bidang Ekonomi Bappenas Amalia Adininggar Widyasanti.
Masih di bulan September, PTDI kembali meraih komitmen penjualan dua unit N219 dengan perusahaan nasional, PT Indo Aviasi Perkasa. Transaksi ini diraih di sela even Bali International Air Show (BIAS) 2024 yang digelar di Bandara Ngurah Rai Bali. Dokumen Letter of Intent (LoI) kesepakatan itu ditandatangani Gita Amperiawan dengan CEO PT Indo Aviasi Perkasa, Septo Adjie Sudiro. Rencananya, pesawat akan dimanfaatkan untuk mendukung program Transformasi Ekonomi Kepulauan Riau.
Untuk transaksi ke Kongo, jika ditelusuri, Afrika merupakan pasar tradisional bagi PTDI. Sebelumnya, sejumlah negara di Benua Hitam itu telah mengoperasikan pesawat karya anak bangsa, terutama CN234 dan NC212, di antaranya Senegal, Pantai Gading, Burkina Faso, dan Guinea. Pesawat dimanfaatkan bukan hanya untuk kepentingan militer, tapi juga transportasi sipil.
Dalam perspektif PTDI, Afrika merupakan pasar potensial untuk pertumbuhan industri aviasi yang harus dimanfaatkan. Mengapa? Menurut CEO PT DI Gita Amperiawan, Afrika memiliki kebutuhan signifikan terhadap pesawat-pesawat regional yang memiliki kapasitas beroperasi di bandara-bandara dengan infrastruktur belum optimal. Pesawat N219 bisa menjawab kebutuhan itu karena didesain khusus untuk penerbangan perintis di medan sulit.
Transaksi penjualan yang berhasil dicatatkan PTDI menjadi indikasi masa depan cerah perusahaan plat merah tersebut. Sebelumnya, kinerja positif dari sisi marketing juga dicapai ajang Singapore Airshow 2024. Bersama Indo Pacific Resources, perusahaan asal Malaysia, PTDI menandatangani Letter of Intent (LoI) pembelian sebanyak 23 unit helikopter angkut medium class, dengan end user di sebuah negara di Asia Tenggara.
Pada awal 2024, PTDI juga meraih kontrak pengadaan empat unit pesawat multiperan CN235-220 dari Allied Aeronautics Limited (AAL), perusahaan lokal di Nigeria untuk end user angkatan darat. Selain untuk ekspor, PTDI juga berhasil memanen pemesanan domestik untuk produk N219, NC212i. Hingga kini CN235-220 tetap menjadi andalan PTDI, termasuk untuk memenuhi kontrak tiga unit pesawat senilai USD85 juta dari Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Dijadwalkan, pesawat tersebut sudah mulai dikirim pada 2026.
Sukses meraih sejumlah transaksi selama 2024 ini melambungkan optimisme perseroan bisa mendapatkan pendapatan lebih besar dibanding tahun sebelumnya. Untuk tahun 2024, anggota holding BUMN industri pertahanan (inhan) ini menargetkan pendapatan mencapai Rp3,7 triliun atau meningkat 19% dari prognosa penjualan sepanjang tahun 2023. PTDI juga optimistis bisa mencetak laba bersih Rp24 miliar.
baca juga: Industri Pertahanan Swasta Aset Strategis Bangsa
Kinerja positif PTDI juga diraih oleh BUMN Industri Pertahanan (Inhan) yang berada di bawah holding Defense Industry Indonesia atau Defend ID lainnya seperti PT PAL, PT Pindad, dan PT LEN. Tahun 2024 ini seolah menjadi tahun penuh keberuntungan. Sukses ini tentu ditopang banyak variabel, seperti dukungan pemerintah yang mengutamakan akuisisi alutsista , termasuk melalui skema transfer of technology (ToT); inovasi; kesiapan sumber daya manusia (SDM), kepercayaan terhadap kwalitas produk made in Indonesia yang semakin tinggi, kemampuan pemasaran, dan faktor lainnya.
Apa yang dicapai hari ini menjadi modal berharga untuk meraih asa lebih baik di masa depan. Termasuk untuk mencapai target Defend ID menjadi bagian Top 40 Global Defense Companies pada 2034. Dalam jangka pendek, yakni 2026, Defend ID percaya diri bisa melewati salah satu perusahaan pertahanan terbesar di Asia asal Singapura, yakni ST Engineering.
Melihat tren positif dan optimisme yang dimunculkan memancing pertanyaan bagaimana kinerja positif belakangan ini bisa dicapai dan apakah target tinggi yang dicanangkan tersebut realistis atau sekadar mimpi? Bagaimana perusahaan plat merah yang sebelumnya dianggap biasa saja, kini memiliki gairah untuk berkembang dan melangkah jauh ke depan?
Dukungan Sejumlah Variabel
Tak dapat dimungkiri, tumbuh dan berkembangnya BUMN Inhan secara fundamental didukung lahirnya UU No 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Keberadaannya menjadi landasan hukum pengembangan industri pertahanan Tanah Air untuk memenuhi kebutuhan peralatan TNI dan Polri.
Seperti tercantum dalam Bab II, konstitusi tersebut memandang penyelenggaraan Inhan sangat penting bukan hanya untuk mendorong terwujudnya kemandirian alutsista, tapi juga untuk menyokong pertumbuhan ekonomi nasional dan menyerap tenaga kerja, serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia Indonesia terutama dalam bidang pertahanan.
baca juga: India Yakin Industri Pertahanan Indonesia Mampu Produksi Alutsista Mandiri
Lihat Juga :