Optimasi Industri Pertahanan Nasional Indonesia
Rabu, 25 Oktober 2023 - 11:44 WIB
loading...
Lembaga riset Laboratorium Indonesia 2045 (LAB 45) bersama Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) menggelar seminar bertajuk Optimasi Industri Pertahanan Nasional Indonesia, Selasa (24/10/2023). Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Lembaga riset Laboratorium Indonesia 2045 (LAB 45) bersama Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) menggelar seminar bertajuk Optimasi Industri Pertahanan Nasional Indonesia, Selasa (24/10/2023). Seminar itu membahas bagaimana Indonesia memiliki tanggung jawab untuk mengadopsi strategi pengembangan industri pertahanan yang cerdas untuk memenuhi kebutuhan pertahanan dan keamanan dalam konteks pasar senjata yang kian kompetitif.
Seminar dibuka oleh Wakil Rektor III UMRAH Suryadi dan diikuti dengan keynote speech dari Panglima Komando Armada I Laksda TNI Achmad Wibisono. Hadir sebagai pembicara Reine Prihandoko (Analis Utama Politik Keamanan LAB 45), Alban Sciascia (Direktur Semar Sentinel), dan Muhd. Ridho Baihaque (Dosen Teknik Perkapalan UMRAH), serta dipandu oleh moderator Sayed F. Riyadi (Dosen Hubungan Internasional UMRAH).
Analis Utama Politik Keamanan LAB 45 Reine Prihandoko membagikan temuan hasil riset LAB 45 bahwa industri pertahanan Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan dalam aspek ekonomi, birokrasi dan politik, serta institusional. Padahal, kata dia, kemandirian industri pertahanan dibutuhkan untuk membangun kekuatan pertahanan Indonesia yang berdaya gentar.
“Untuk mengupayakannya bisa dimulai dengan memperhatikan skala keekonomian (economies of scale) yang mengubah belanja alat utama sistem persenjataan (alutsista) menjadi investasi pertahanan, hingga mengeksplorasi potensi kerja sama dengan mitra asing seperti pembangunan pusat pemeliharaan dan perawatan (MRO),” katanya.
Optimalisasi industri pertahanan nasional pada akhirnya diharapkan mampu mengakselerasi kemandirian industri pertahanan Indonesia dalam memproduksi alutsista hingga komponennya yang bersaing dalam rantai pasok global, serta terciptanya konektivitas pertahanan nasional dalam bentuk keterpaduan penggunaan alutsista modern oleh prajurit lintas matra, termasuk yang berteknologi dual-use.
Sementara itu, Direktur Semar Sentinel Alban Sciascia meyakini bahwa dibutuhkan peta jalan yang tidak hanya untuk pengadaan alutsista berteknologi terkini, melainkan juga untuk menciptakan keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan pertahanan dan keamanan dengan jaminan manfaat bagi industri pertahanan nasional seperti melalui ofset dan alih teknologi. Selain itu, penting untuk mendorong kerja sama sektor swasta dan publik demi industri pertahanan yang lebih optimal.
Seminar dibuka oleh Wakil Rektor III UMRAH Suryadi dan diikuti dengan keynote speech dari Panglima Komando Armada I Laksda TNI Achmad Wibisono. Hadir sebagai pembicara Reine Prihandoko (Analis Utama Politik Keamanan LAB 45), Alban Sciascia (Direktur Semar Sentinel), dan Muhd. Ridho Baihaque (Dosen Teknik Perkapalan UMRAH), serta dipandu oleh moderator Sayed F. Riyadi (Dosen Hubungan Internasional UMRAH).
Analis Utama Politik Keamanan LAB 45 Reine Prihandoko membagikan temuan hasil riset LAB 45 bahwa industri pertahanan Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan dalam aspek ekonomi, birokrasi dan politik, serta institusional. Padahal, kata dia, kemandirian industri pertahanan dibutuhkan untuk membangun kekuatan pertahanan Indonesia yang berdaya gentar.

“Untuk mengupayakannya bisa dimulai dengan memperhatikan skala keekonomian (economies of scale) yang mengubah belanja alat utama sistem persenjataan (alutsista) menjadi investasi pertahanan, hingga mengeksplorasi potensi kerja sama dengan mitra asing seperti pembangunan pusat pemeliharaan dan perawatan (MRO),” katanya.
Optimalisasi industri pertahanan nasional pada akhirnya diharapkan mampu mengakselerasi kemandirian industri pertahanan Indonesia dalam memproduksi alutsista hingga komponennya yang bersaing dalam rantai pasok global, serta terciptanya konektivitas pertahanan nasional dalam bentuk keterpaduan penggunaan alutsista modern oleh prajurit lintas matra, termasuk yang berteknologi dual-use.
Sementara itu, Direktur Semar Sentinel Alban Sciascia meyakini bahwa dibutuhkan peta jalan yang tidak hanya untuk pengadaan alutsista berteknologi terkini, melainkan juga untuk menciptakan keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan pertahanan dan keamanan dengan jaminan manfaat bagi industri pertahanan nasional seperti melalui ofset dan alih teknologi. Selain itu, penting untuk mendorong kerja sama sektor swasta dan publik demi industri pertahanan yang lebih optimal.
Lihat Juga :