alexametrics

Opini SINDO

Ongkos Sosial Kegaduhan Politik

loading...
Ongkos Sosial Kegaduhan Politik
Lasarus Jehamat, dosen Sosiologi Fisip Undana Kupang. Foto/Dok SINDO
A+ A-
Lasarus Jehamat
Dosen Sosiologi Fisip Undana Kupang

KESEJUKAN politik tengah dibutuhkan Indonesia saat ini. Kesejukan politik membutuhkan satu prasyarat dasar, yaitu keteduhan kampanye politik. Kesejukan, keteduhan, dan oase, harus disebut karena realitas politik nasional saat ini terus mengarah ke luar rel kebangsaan; kebisingan dan kekeringan politik sekaligus.

Maraknya kampanye negatif, kampanye hitam, hoaks, ujaran kebencian, dan berbagai anasir politik identitas yang turut menghiasi saat kampanye, jelas berdampak pada kegaduhan politik. Terakhir, kabar bohong (hoaks) tentang tujuh kontainer berisi surat suara yang telah dicoblos mencuat ke permukaan. Kampanye tidak mengarah ke diskusi programatik, tetapi ke soal penyebaran berita bohong dan sebagainya (SINDOnews, 4 Januari 2019).

Hoaks, gerakan kampanye hitam, dan negatif, seakan berjalan linear dengan proses politik Indonesia. Demokrasi akhirnya dipraktikkan tidak saja secara keliru, tetapi juga salah. Bahwa politik elektoral menuntut setiap orang bebas mengungkapkan keinginannya harus diterima. Masalahnya, demokrasi dibatasi oleh apa yang disebut norma demokrasi. Mengapa hal itu terjadi?



Para ahli sudah sering menjelaskan model perilaku politik demikian. Beberapa di antaranya menyebut jika Indonesia masih masa transisi demokrasi. Karena itu, kita memang sedang tertatih-tatih mempraktikkan politik bermartabat. Hal lain mengatakan bahwa laju gerak politik demikian memang merupakan dampak dari liberalisasi politik. Namun, yang lain lagi menyebut dengan agak satire bahwa model politik seperti itu menunjukkan bahwa kita sedang merayakan infantilisme politik. Sebuah perilaku politik yang terlampau kekanak-kanakan.

Problemnya, elite politik negara ini jarang memikirkan nasib bangsa. Elite tidak pernah memikirkan bangsa ketika berkontestasi dalam ruang politik kenegaraan. Karena itulah, kebangsaan perlu disebut ulang. Kebangsaan perlu diperiksa kembali. Kebangsaan disebut karena dua alasan pokok. Pertama, sebagai sebuah negara yang menganut paham demokrasi, setiap orang atau kelompok berhak mengeluarkan pendapatnya secara bebas tanpa tekanan. Kedua, pada soal lain, kesadaran kita sebagai sebuah bangsa harus pula mengikuti logika nilai-nilai dasar pendiri bangsa ini.

Kultivasi Politik

Perilaku elite politik nasional harus digugat dan laik diperiksa. Sebab semua perilaku buruk elite yang ditunjukkan di ruang sosial, cepat atau lambat akan diikuti massa pendukungnya. Menurut perspektif teori kultivasi, banyak tayangan di televisi akan berpengaruh pada perilaku penonton (Hammermeister et.al, 2005).

Dalam alur logika demikian, perilaku politik yang ditampilkan dan disaksikan pemirsa akan segera dipraktikkan pada tindakan nyata secara empiris (Purwanto, 2018). Artinya, setiap perilaku politik elite akan dipraktikkkan dengan jelas dan konsisten oleh massa pengikut di belakangnya. Bibit gaduh yang ditanamkan elite politik berdampak pada munculnya perilaku gaduh massa secara sosial.

Kampanye gaduh yang demikian masif dipraktikkan di ruang politik mencerminkan bahwa politik memang sangat pragmatis bagi sebagian elite politik. Bagi kelompok ini, sejauh kerinduan dan kehausan kekuasaan dapat tercapai, semua perangkat aturan dan norma laik disingkirkan.

Dalam The Priority Of Democracy: Political Consequences Of Pragmatism, Knight dan Johnson (2011) mengatakan, pragmatisme menyebabkan demokrasi dipraktikkan dengan sangat kasar. Politik kemudian dipandang sebagai arena perjuangan memenuhi ambisi pribadi belaka. Di level itu, mudah dimengerti jika banyak orang meragukan praktik demokrasi otentik. Sebab dasarnya, demokrasi dan politik tidak pernah dipraktikkan dengan sungguh dan jauh dari aspek kredibilitas.

Meminjam Dewey, Knight dan Johnson mengatakan, pragmatisme menyebabkan demokrasi dipraktikkan dengan sangat brutal. Nilai-nilai yang terkandung dalam demokrasi sulit dipraktikkan terutama karena politik memang dibuat tidak untuk melayani kepentingan rakyat banyak, tetapi memenuhi hasrat berkuasa dari elite politik.
halaman ke-1 dari 2
preload video
BERITA TERKAIT
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak