BNPT: Radikalisme Harus Diredam Songsong Indonesia Emas 2045
Minggu, 19 Juni 2022 - 20:03 WIB
Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar mengikuti zikir akbar bersama alim ulama dan masyarakat di Masjid KH M Yusuf, Depok, Jawa Barat, Sabtu (18/6/2022). FOTO/IST
JAKARTA - Radikalisme di era bonus demografi seperti sekarang ini harus berhasil diredam untuk menuju Indonesia Emas . Bonus demografi dengan penanganan yang baik membuat produktivitas Indonesia melambung pada momen yang tepat, 100 tahun Indonesia merdeka, 2045.
Hal ini disampaikan Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar mengikuti zikir akbar bersama alim ulama dan masyarakat di Masjid KH M Yusuf, Depok, Jawa Barat, Sabtu (18/6/2022). Menurut Boy Rafli, Indonesia sudah memasuki era bonus demografi. Artinya penduduk usia produktif lebih dominan dibandingkan penduduk usia nonproduktif.
"Ke depan, bonus demografi ini akan menentukan keberlangsungan negara. Sumber daya manusia tidak hanya dituntut untuk memiliki hard skill yang baik, tetapi adab yang baik," kata Boy Rafli dikutip dari keterangan tertulis, Minggu (19/6/2022).
Salah satu yang perlu diwaspadai, kata Boy Rafli, adalah propaganda radikal terorisme di media sosial. Kelompok radikal terorisme gemar mengumbar narasi kekerasan di media sosial. "Kita harus antisipsasi ajakan kelompok teror yang mengedepankan narasi kekerasan," ujarnya.
Hal ini disampaikan Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar mengikuti zikir akbar bersama alim ulama dan masyarakat di Masjid KH M Yusuf, Depok, Jawa Barat, Sabtu (18/6/2022). Menurut Boy Rafli, Indonesia sudah memasuki era bonus demografi. Artinya penduduk usia produktif lebih dominan dibandingkan penduduk usia nonproduktif.
"Ke depan, bonus demografi ini akan menentukan keberlangsungan negara. Sumber daya manusia tidak hanya dituntut untuk memiliki hard skill yang baik, tetapi adab yang baik," kata Boy Rafli dikutip dari keterangan tertulis, Minggu (19/6/2022).
Salah satu yang perlu diwaspadai, kata Boy Rafli, adalah propaganda radikal terorisme di media sosial. Kelompok radikal terorisme gemar mengumbar narasi kekerasan di media sosial. "Kita harus antisipsasi ajakan kelompok teror yang mengedepankan narasi kekerasan," ujarnya.
Lihat Juga :