Mengejar Target 2 Juta Vaksinasi Per Hari

Rabu, 30 Juni 2021 - 06:15 WIB
‘’Ada beberapa negara tertentu yang terus mengejar tingginya cakupan vaksinasi di negaranya. Tetapi di sisi lain, cukup banyak juga negara di dunia yang cakupan vaksinasinya masih amat rendah karena tidak kebagian vaksin dalam jumlah yang cukup," ungkapnya.

Menurut Tjandra, setidaknya empat sumber suatu negara untuk dapat memperoleh vaksin Covid-19. Pertama, tentu negara membeli langsung dari produsen vaksin. Hal ini bukan hanya tentang kebutuhan anggaran tetapi juga ketersediaan produksi vaksin di pasar internasional.

Sumber vaksin kedua bagi negara adalah kerjasama internasional melalui COVAX yang dikelola oleh WHO, UNICEF, Gavi the vaccine alliance dan CEPI (Coalition for Epidemic Preparedness Innovations). COVAX bertujuan untuk mengakselerasi pengembangan dan produksi vaksin COVID-19 dan menjamin akses yang adil dan terjangkau untuk semua negara di dunia yang membutuhkannya.

"Saya sebagai salah satu dari 12 pakar internasional anggota 'Independent Allocation Vaccine Group (IAVG) COVAX' pada 25 Juni 2021 bertemu secara virtual dengan pimpinan tertinggi WHO, yaitu Direktur Jenderal WHO Dr Tedros yang didampingi beberapa pimpinan organisasi itu. Dalam diskusi kami mengemuka masalah yang amat mendasar, yaitu ketimpangan vaksin antar negara di dunia," katanya.

Diungkapkan,kala itu Direktur Jenderal WHO sangat menyayangkan bahwa tidak cukup ada komitmen politik pada negara-negara yang punya banyak vaksin untuk membaginya ke negara lain yang amat membutuhkan, antara lain lewat mekanisme COVAX ini.

Saat itu, kata dia, juga dibicarakan bahwa ketimpangan kesempatan vaksin antara negara adalah masalah kemanusiaan dan membuat orang menjadi korban karena tidak mendapat vaksin yang diperlukannya.

Sumber vaksin ketiga adalah kemungkinan kerjasama bilateral antara satu negara dengan negara lainnya.

Konon juga, lanjut dia, sebelum ini sudah ada kerjasama dengan pemerintah China tentang vaksin Sinovac. Karenanya bagi dia, diplomasi internasional tentu perlu terus dilakukan agar kemungkinan seperti ini dapat lebih luas lagi didapat.

"Sementara itu, sumber vaksin keempat bagi suatu negara adalah tentu kalau negara itu sendiri dapat memproduksi vaksin di dalam negeri. Untuk kita maka harapannya agar vaksin Merah Putih akan dapat sukses dalam berbagai uji ilmiah yang dijalani dan dapat dimanfaatkan oleh rakyat kita nantinya," beber Tjandra.

Mantan Direktur WHO Asia Tenggara sekaligus mantan direktur jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan ini melanjutkan, aspek kedua yang perlu diperhatian dalam susesnya program vaksinasi ke depan di Indonesia adalah kemudahan pemberian vaksinasi bagi masyarakat.

Untuk ini, Tjandra mengapresiasi beberapa penyederhanaan prosedur dalam beberapa hari belakangan ini. Seperti misalnya bisa langsung datang tanpa mendaftar, lokasi vaksinasi yang lebih banyak sehingga mudah dijangkau dan juga keterlibatan berbagai sektor, baik swasta maupun TNI/POLRI untuk menyelenggarakan vaksinasi di lapangan.

"Kemudahan bagi masyarakat harus terus dipertahankan dan ditingkatkan. Dalam hal ini dapat disampaikan bahwa India sudah berhasil memvaksinasi 8 juta orang dalam satu hari. Kalau penduduk Indonesia katakanlah sekitar seperempat penduduk India maka target vaksinasi 2 juta atau setidaknya lebih dari 1 juta sehari memang sesuatu yang laik dicapai," ungkapnya.

Aspek ketiga, yang perlu diantisipasi oleh pemerintah bersama pihak-pihak terkait adalah kemungkinan kesulitan vaksinasi pada kelompok masyarakat tertentu, setidaknya pada dua area. Pertama, mereka yang tinggal di tempat terpencil dan kepulauan, yang akan perlu transportasi jalan kaki atau naik perahu beberapa jam mencapai lokasi vaksinasi.

Karena itu, perlu ada mekanisme khusus bagi warga kita di semua pelosok negeri agar sebanyak mungkin mendapat perlindungan terhadap Covid-19. Kedua, kelompok masyarakat yang masih menolak divaksin karena berbagai alasannya.

"Untuk ini maka penyuluhan terus menerus perlu dilakukan, termasuk juga tentunya pendekatan melalui tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat," tegasnya.

Selanjutnya aspek keempat yang juga perlu diantisipasi adalah perkembangan varian baru, baik yang sekarang tergolong “Variant of Concern” (VOC) dari WHO atau kalau nanti mungkin ada varian-varian lebih baru lagi.

Dia menambahkan, varian Delta Plus yang sekarang mulai meningkat di India, misalnya, dari berbagai VOC yang sudah ada di Indonesia, maka varian Delta lah yang paling banyak ditemukan, dan sudah dilaporkan ada di berbagai propinsi pula.

Saat ini, pembahasan dunia tentang dampak varian Delta terhadap efikasi vaksin, masih terus bergulir dari waktu ke waktu sesuai hasil penelitian yang ada.

"Data dari Inggris menunjukkan ada sedikit penurunaan efektifitas vaksin Pfizer BioNTech dan AstraZeneca terhadap varian Delta. Data efikasi vaksin Pfizer BioNTech adalah 93.4% terhadap varian Alfa dan 87.9% terhadap varian Delta. Angkanya untuk vaksin AstraZeneca adalah 66.1% terhadap Alfa dan juga sedikit lebih rendah (59.8%) terhadap Delta," paparnya.
(ynt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!