Tantangan bursa efek setelah terpilihnya Obama

Rabu, 12 Desember 2012 - 07:18 WIB
Tantangan bursa efek...
Tantangan bursa efek setelah terpilihnya Obama
A A A
Dengan terpilihnya Barack Obama sebagai presiden Amerika Serikat untuk kedua kalinya, permasalahan perekonomian Amerika Serikat selanjutnya adalah dalam hal anggaran pendapatan dan belanja negara. Bukan hanya Obama, tetapi juga pesaingnya Mitt Romney ternyata sangat propengeluaran pemerintah.

Dengan kata lain sebetulnya pemangkasan anggaran sesuai dengan ajaran neoklasik bukan merupakan pilihan bagi rakyat Amerika Serikat. Artinya, supply creates its own demand hanyalah ada di buku teks. Permintaan akan investasi semakin penting sehingga permintaan atas pasar saham yang semakin efisien juga meningkat, termasuk bursa saham virtual.

Ketika bursa efek virtual mulai bermunculan, akan muncul pula sistem pembayaran virtual. Electronic commercial networks (ECNs) merupakan salah satu bentuk dari bursa efek virtual.

Bursa ini muncul karena dukungan dari kemajuan teknologi yang bersifat increasing return to scale dengan tingkat kemajuan teknologinya lebih tinggi dari bursa efek tradisional. Dengan adanya ECNs, harga saham yang terbentuk akan semakin efisien, transparan, dan proses pembentukannya sangat cepat.

Teknologi ECNs sangat tergantung pada perkembangan teknologi komputer dan informasi.Bukan hanya itu, dengan adanya ECNs, perdagangan saham dapat dilakukan di luar jam perdagangan bursa saham.

Skala ekonomi dari infrastruktur pembayaran akan sangat tergantung pada seberapa besar perdagangan saham dapat tersebar secara merata hingga di luar jam perdagangan yang ditetapkan oleh bursa saham. Dengan demikian tekanan terhadap kapasitas sistem pembayaran juga tersebar sesuai dengan distribusi perdagangan tersebut.

Dan ketika saham yang bersifat dual listing juga sangat banyak, akan terjadi arbitrase yang sangat cepat yang menuntut mekanisme sistem pembayaran yang juga bukan hanya cepat tetapi juga mampu beroperasi dalam 24 jam.

Masalahnya banyak teknologi komunikasi mengalami peak kesibukan pada saat siang hari untuk masalah pekerjaan dan malam hari untuk digunakan sebagai alat komunikasi sosial secara bersamaan, sedangkan waktu peak dari biaya listrik adalah malam hari.

Penggunaan telepon sebagai mekanisme penting dalam sistem pembayaran mengalami keterbatasan, begitu juga penggunaan internet untuk melakukan transaksi perdagangan melalui ECNs.

Sudah saatnya Pemerintah Indonesia harus berani melakukan investasi yang sangat besar untuk mendukung perkembangan industri internet dan telekomunikasi di Indonesia. Jika perancang perekonomian Indonesia memiliki kecerdasan yang tinggi dan visi yang jauh ke depan, fokus pembangunan pasar modal Indonesia bukan hanya kepada pembangunan Bursa Efek Indonesia tetapi pembangunan ECNs.

Dengan infrastruktur telekomunikasi yang canggih dengan posisi geografis Indonesia yang strategis, setidaknya Indonesia dapat memiliki tiga ECNs yang saling berkompetisi antara satu dengan lainnya.

Dengan membuka ECNs untuk perdagangan valuta asing, paling tidak ada enam ECNs yang dapat beroperasi di Indonesia. Dua ECNs berada di Indonesia bagian barat, dua lainnya di Indonesia bagian tengah, dan dua ECNs sisanya berada di Indonesia bagian timur.

Pasar bagi Indonesia bagian barat adalah pasar Eropa, sedangkan pasar bagi Indonesia bagian tengah adalah Asia dan Pasifik. Sementara target pasar bagi Indonesia bagian timur adalah Benua Amerika, termasuk Kanada, Amerika Serikat dan Amerika Latin.

Dengan strategi seperti ini, Indonesia akan mampu mengungguli Singapura dalam jangka waktu dua puluh lima tahun ke depan sebagai pusat keuangan dunia di Asia.

Dengan adanya ECNs di Indonesia, bursa efek dan derivatif yang berada di Singapura akan mengalami saingan yang sangat ketat dari pasar modal Indonesia. Untuk itu pasar modal Indonesia harus membuka diri terhadap pemain- pemain asing yang hendak mendirikan ECNs di Indonesia.

Setelah regulator pasar modal di Amerika Serikat mengizinkan beroperasinya ECNs, akan sangat tertinggal jika pasar modal Indonesia tidak menyambut momentum tersebut. Selanjutnya Indonesia juga harus mempersiapkan infrastruktur bagi pengembangan sistem pembayaran virtual.

Dengan demikian Badan Koordinasi Pasar Modal harus lebih aktif menyambut kedatangan penanaman modal asing dalam bidang ECNs ini. Dunia masa depan adalah dunia virtual sehingga investasi masa depan adalah investasi virtual.

Jika perlu pemerintah memberikan fasilitas tax holiday bagi sektor ini agar mampu berkembang hingga mencapai skala ekonomisnya. Akan lebih cepat lagi jika pemerintah mampu menarik ECNs besar yang kini beroperasi di Amerika Serikat untuk mau memindahkan markasnya di Indonesia mengingat saat ini di Amerika Serikat sedang mengalami krisis keuangan.

Dengan adanya ECNs, struktur pasar modal dan valuta mengalami pergeseran yang cukup dalam di mana hambatan untuk masuk menjadi semakin kecil. Pasar modal masa depan dipastikan akan berbentuk struktur pasar yang bersifat persaingan monopolistik.

Implikasinya tidak akan tercapai harga pada kondisi biaya marjinal yang paling efisien. Artinya, persaingan akan bersifat diferensiasi. Dukungan sistem pembayaran semakin diperlukan mengingat likuiditas akan semakin meningkat dan transaksi juga semakin bertambah.

Bank-bank pembayaran harus semakin mempersiapkan modal mereka agar mampu mengikuti arah transaksi perdagangan yang semakin besar tersebut. Bukan hanya itu, bank-bank pembayaran juga harus memiliki aliansi strategis dengan bank-bank pembayaran di luar negeri sebanyak mungkin untuk memuluskan proses pembayaran yang menyertai transaksi pasar modal tersebut.

Ke depan ECNs di Indonesia juga harus mampu memperdagangkan saham-saham lintas benua.Jika hal tersebut dapat dilakukan, kalaupun terjadi merger antara Bursa Saham Singapura dengan Bursa Saham Australia, sinergi yang akan mereka ciptakan tetap tidak kompetitif dalam bersaing dengan ECNs.

Namun hal itu tentu menuntut persyaratan yang berupa dukungan infrastruktur telekomunikasi,internet, dan listrik yang mampu beroperasi 24 jam tanpa henti dalam setahun.

Sementara bank-bank pembayaran di Indonesia dapat saja mengembangkan ECNs-nya sendiri, tetapi upaya untuk meningkatkan permodalan bank-bank tersebut harus menjadi prioritas utama.Tak perlu Indonesia meniru Kenya dengan transaksi keuangan melalui telepon seluler dan saatnya Indonesia membuat terobosan dengan melakukan transaksi perdagangan saham melalui ECNs!

ACHMAD DENI DARURI
President Director Center for Banking Crisis
(lns)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Menghapus Asimetris...
Menghapus Asimetris Relasi di Hari Buruh
Pertempuran Sungai Nil,...
Pertempuran Sungai Nil, Perebutan Energi Sumber Daya Alam
Akhir Ramadan, Sportifitas...
Akhir Ramadan, Sportifitas dan Optimisme
Berita Terkini
Kejagung: Febrie Adriansyah...
Kejagung: Febrie Adriansyah Baru Tersangka Dugaan Korupsi dan TPPU Asabri
Daftar 25 Perwira TNI...
Daftar 25 Perwira TNI AL Pecah Bintang usai Upacara Kenaikan Pangkat Juli 2026
Tersangka Kuota Haji...
Tersangka Kuota Haji Ajukan Praperadilan, KPK Tegaskan Penggeledahan Berdasarkan Aturan
Pengamat: Kapolri Tak...
Pengamat: Kapolri Tak Kriminalisasi Febrie, Penetapan Tersangka Sesuai KUHAP
Wakil Ketua Komisi VIII...
Wakil Ketua Komisi VIII DPR: Integrasi Zakat-Pajak Perkuat Pemberdayaan Ekonomi Umat
Asrul Azis Taba Tersangka...
Asrul Azis Taba Tersangka Kasus Kuota Haji Kembali Ajukan Praperadilan
Infografis
7 Tantangan Zohran Mamdani...
7 Tantangan Zohran Mamdani Memimpin Kota New York
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved