Larangan Mudik dan Bela Negara

loading...
Larangan Mudik dan Bela Negara
Larangan Mudik dan Bela Negara
A+ A-
Dahnil Anzar Simanjuntak
Juru Bicara Menteri Pertahanan Republik Indonesia

DALAM
suasana Idul Fitri 1976 Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, yang ketika itu bersama pasukannya dalam perjuangan di Timor Timur, mengirim sepucuk surat kepada kakeknya, Margono Djojohadikusumo.

"Eyang, pada Hari Raya Idul Fitri ini saya tidak ada di lingkungan keluarga. Maafkanlah segala kesalahan saya. Salam dari medan juang. Kami sudah lebih dari satu bulan berada di pegunungan. Tugas kami lumayan juga beratnya."

Demikian cuplikan surat Prabowo yang dimuat sang kakek dalam salah satu artikelnya, ā€¯Feodalisme, New-Feodalisme, Aristokrasiā€¯ yang terdapat dalam buku Manusia Indonesia (2001) karya wartawan yang juga sastrawan, Mochtar Lubis.



Membaca surat dari sang cucu yang tidak bisa berhari raya bersama keluarga karena dalam tugas perjuangan antara hidup dan mati membela Tanah Air membuat pendiri Bank Nasional Indonesia (BNI), yang juga anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) itu bersedih. Dia sampai terpaksa mengundurkan diri beberapa menit masuk ke kamar untuk menenangkan hati.

Berkumpul bersama keluarga, melepas kerinduan dengan suasana riang gembira, dan saling bermaaf-maafan setelah sekian lama berpisah merupakan suasana spiritual yang kuat setiap hari Raya Idul Fitri bagi masyarakat muslim Indonesia. Orang rela melalui perjuangan yang sangat berat agar bisa merasakannya. Menempuh perjalanan panjang, macet, berdesakan dalam transportasi umum, sampai menginap di stasiun dan terminal. Ancaman kecelakaan di jalan yang kerap terjadi bahkan tidak jarang sampai jatuh korban jiwa tidak mengendurkan semangat agar bisa bersama keluarga melalui hari-hari nan fitri tersebut.

Karena itu, kesedihan tidak terelakkan kalau ada anggota keluarga yang tidak dapat ngariung bersama. Inilah yang juga dialami Margono, Prabowo, dan umumnya mereka yang tidak bisa berkumpul bersama keluarga, tentu dengan berbagai alasan dan sebab. Sekarang, hampir setengah abad kemudian, Prabowo dengan otoritasnya sebagai menteri pertahanan melarang jajarannya di Kementerian Pertahanan Republik Indonesia untuk pulang kampung alias mudik merayakan Idul Fitri tahun ini. Bila dulu tidak bisa berkumpul bersama keluarga karena sedang berjuang mengangkat senjata demi bangsa dan negara, kini baginya tidak mudik juga demi alasan yang sama. Menurut Prabowo, tidak mudik merupakan bagian dari implementasi bela negara dalam konteks kekinian.



Bela negara adalah tekad, sikap, dan perilaku serta tindakan warga negara baik secara perseorangan maupun kolektif dalam menjaga kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa dan negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara dari berbagai ancaman.
halaman ke-1 dari 3
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top