Memecah Ombak Politik

Jum'at, 13 Juli 2018 - 07:48 WIB
Memecah Ombak Politik
Memecah Ombak Politik
A A A
Komaruddin Hidayat
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Setelah Pilkada Serentak 2018 usai, kita sekarang diajak memasuki babak baru menghadapi Pemilu 2019. Saya ingin membuat metafora, kekuatan kelompok politik yang ikut berkompetisi dalam pemilu mendatang ini masing-masing ibarat pulau beserta penghuninya.

Tiap pulau diterpa ombak kiriman dari pulau yang lain berupa kritik dan serangan mulai dari yang lunak dan sopan sampai yang kasar. Serangan bahkan ada yang berbau fitnah dan pembunuhan karakter yang bertujuan melemahkan lawan.

Ada lagi serangan yang menggunakan jargon dan retorika keagamaan yang melibatkan figur dan massa keagamaan. Semakin mendekati bulan dan hari pemilu, hantaman ombak itu mungkin akan membesar dan destruktif.

Adalah hal yang lumrah saja sesungguhnya setiap menjelang kontestasi dan pertandingan bola, misalnya, para suporter dan penjudi menjadi gaduh saling ejek. Suporter tim masing-masing mengelu-elukan jagonya dan memandang remeh kelompok lawan. Begitu pun dalam pemilu, suasana batin masyarakat menjadi heboh karena siapa pun yang menang kontestasi, kebijakannya nanti akan memengaruhi hajat hidup orang banyak.

Belakangan ini kehebohan yang mengemuka bukannya mengupas kualitas teknokratik dan leadership para calon, melainkan citra dan afiliasi ideologi keagamaan masing-masing. Implikasinya para calon lalu terdorong membangun citra bahwa dirinya sangat dekat dengan jajaran para ulama.

Mereka berusaha mengakomodasi tokoh-tokoh agama atau ulama dalam gerbong politiknya untuk mendapatkan pengakuan dan dukungan masyarakat bahwa jagonya pro-agama atau setidaknya tidak anti-agama. Mengingat masyarakat Indonesia sangat plural dan dikenal religius, fenomena di atas wajar-wajar saja. Sangat bisa dimaklumi asalkan jangan mengorbankan kapabilitas dan kredibilitas sebagai pemimpin bangsa.

Situasi yang menonjolkan identitas keagamaan ini bisa berimplikasi pada tiga kemungkinan. Satu, konflik dan perang agama dalam medsos dan panggung politik akan mereda karena tiap kelompok kontestan didukung komunitas ulama. Tak ada alasan untuk membuat dikotomi "Partai Allah" dan "Partai Setan".

Dua, bisa saja muncul perang jargon dan ayat-ayat agama antarpendukung parpol kontestan. Sesama mereka yang mengaku ulama akan perang pernyataan semata karena beda gerbong politik. Akan muncul kampanye yang membedakan antara ulama "beneran" yang berada di jalan lurus dan ulama "palsu" yang sesat jalan.

Tiga, heboh isu agama hanya berperan sesaat dan lebih menonjol semata untuk menjaring massa pendukung sehingga melupakan kapabilitas jagonya dalam hal manajemen, kepemimpinan, dan kemampuan teknokratik untuk membangun bangsa. Pendeknya, sentimen "kesamaan iman" bisa menggeser kapabilitas dan integritas jagonya.

Dari ketiga kemungkinan itu, semoga saja kondisi sosial-politik berjalan dinamis, tetapi tetap damai. Kalaupun terjadi riak-riak gelombang yang menghantam bibir pantai, kekuatannya tidak besar yang bisa membuat porak-poranda bangunan yang ada.

Dengan tersebarnya ulama di semua kekuatan politik, posisi ulama itu bagaikan batu besar di pantai yang mampu memecah ombak besar sebelum menghantam daratan. Hal ini sangat dimungkinkan mengingat secara ideologis semua parpol itu hampir mirip.

Parpol yang dahulunya berada di ujung kanan dan di ujung kiri semuanya bergeser ke tengah. Tak lagi relevan memperhadapkan antara Islam dan Pancasila, antara nasionalisme dan Islamisme.

Pengalaman pilkada serentak yang lalu juga mengindikasikan bahwa koalisi antarparpol itu bersifat sangat cair. Tak berlaku lagi ideologi aliran yang konsisten dari pusat sampai ke daerah.

Koalisi lebih didasarkan pada kalkulasi pragmatik untung rugi pada wilayah masing-masing, bukannya berdasarkan platform ideologi. Ini semua semoga akan membuat ketegangan politik tidak berlangsung mengeras.
(poe)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Menghapus Asimetris...
Menghapus Asimetris Relasi di Hari Buruh
Pertempuran Sungai Nil,...
Pertempuran Sungai Nil, Perebutan Energi Sumber Daya Alam
Akhir Ramadan, Sportifitas...
Akhir Ramadan, Sportifitas dan Optimisme
Berita Terkini
Silmy Karim Tersangka...
Silmy Karim Tersangka Korupsi, Komisi III DPR: Usut Tuntas Tanpa Pandang Bulu
Hebat! Kota Semarang...
Hebat! Kota Semarang Raih Penghargaan Nasional Creative Financing, Bukti Inovasi Pemkot Hadirkan Pembangunan yang Berdampak
2 Wamen Kabinet Prabowo...
2 Wamen Kabinet Prabowo Terjerat Korupsi, Nomor 1 Divonis 4,5 Tahun Penjara
Perang Iran 20266: Ketika...
Perang Iran 20266: Ketika Diplomasi Berbicara dengan Bahasa Rudal
Prabowo akan Menerima...
Prabowo akan Menerima Surat Kepercayaan dari 17 Dubes pada 8 Juni 2026
Said Iqbal soal Sinyal...
Said Iqbal soal Sinyal Masuk Kabinet Prabowo: Kita Tunggu Pengumuman Resmi
Infografis
Kaleidoskop 2025: 6...
Kaleidoskop 2025: 6 Peristiwa Politik Nasional yang Menggemparkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved