Proyeksi dan Tantangan Politik di 2017

Rabu, 28 Desember 2016 - 08:34 WIB
Proyeksi dan Tantangan...
Proyeksi dan Tantangan Politik di 2017
A A A
Arya Fernandes
Peneliti Departemen Politik dan Hubungan Internasional, CSIS.

PEMERINTAHAN Joko Widodo-Jusuf Kalla relatif berhasil melalui tahun 2016 dengan baik. Dalam sejumlah sigi lembaga survei, tingkat kepuasan terhadap pemerintah mengalami kenaikan dibandingkan periode pertama.

Survei CSIS pada Agustus 2016 menunjukkan tingkat kepuasan mengalami kenaikan sekitar 15% dari 50,6% pada tahun pertama menjadi 66,5% pada tahun kedua. Tingkat kepercayaan publik terhadap presiden juga mengalami kenaikan dari 79% pada tahun pertama menjadi 87% pada tahun kedua. Sementara survei SMRC, tingkat kepuasan terhadap pemerintahan berada pada angka 67%.

Di tahun pertama, tantangan pemerintahan memang tidak mudah. Ekspektasi publik yang cukup tinggi membuat Jokowi harus hati-hati mengambil kebijakan politik.

Presiden juga harus membuat keseimbangan baru di antara partai pendukung pemerintah. Proses penentuan kursi menteri tidak semudah yang diperkirakan.

Jokowi dihadapkan pada kenyataan adanya pengaruh anggota koalisi dari pemilihan calon menteri. Pada saat reshuffle pertama terlihat pengaruh dari anggota koalisi. Di tingkat publik, sisa-sisa kontestasi pilpres, masih terasa. Publik ketika itu masih terbelah antara pendukung Jokowi dan pendukung Prabowo.

Di tahun kedua, pelan-pelan Jokowi berhasil melaluinya dengan baik. Konsolidasi kekuasaan bisa dilakukan dengan efektif. Hubungan presiden dengan PDI Perjuangan, sebagai pendukung utama mulai membaik dibandingkan tahun pertama.

Saat reshuffle kabinet kedua, Jokowi sudah menunjukkan power dan pengaruhnya sebagai presiden. Jokowi benar-benar menggunakan hak prerogatifnya untuk mengangkat dan memberhentikan seorang anggota kabinet.

Hubungan Jokowi dengan partai penggusung utama, terumata PDI Perjuangan di tahun kedua relatif tidak ada halangan yang berarti. Pijakan untuk memperkuat hubungan, seperti akomodasi politik dan alokasi kursi di Kabinet Kerja mungkin akan memperkuat hubungan tersebut.

Soliditas anggota kabinet diperkirakan akan stabil seperti tahun kedua. Kegaduhan politik antar-menteri yang terjadi pada tahun pertama kecil kemungkinan akan terjadi lagi. Presiden betul-betul memegang penuh kendali pemerintahan.

Tantangan di 2017
Menghadapi tahun 2017, tentu tidak mudah juga bagi Presiden. Setidaknya ada beberapa tantangan politik bagi Jokowi di tahun 20176. Pertama, ujian bagi soliditas anggota koalisi dan ujianbagi hubungan antara Jokowi dengan PDI Perjuangan.

Ujian soliditas anggota koalisi tersebut, salah satunya akan terlihat dari bagaimana sikap fraksi-fraksi menanggapi usulan RUU Penyelenggaran Pemilu dari pemerintah. Format persyaratan dukungan capres salah satunya akan mempengaruhi tingkat loyalitas partai kepada Presiden.

Tingkat loyalitas diperkirakan akan melemah bila setiap partai peserta pemilu dapat mengusulkan calon presiden—mengingat pemilu presiden dan pemilu legislatif dilaksanakan serentak.

Namun, bila skenario persyaratan dukungan calon presiden tetap menggunakan syarat lama, yaitu 20% dari kursi DPR atau 25% dari suara sah partai politik—skenario koalisi antar partai akan terjadi. Bila menggunakan skenario ini, loyalitas partai kepada Presiden diperkirakan akan menguat, karena partai politik akan mengambil keuntungan dari dukungan terhadap Jokowi.

Sementara hubungan Jokowi dan PDI Perjuangan akan diuji bagaimana Jokowi memposisikan diri di antara PDI Perjuangan dan Golkar dalam pemerintah, terutama setelah Golkar begitu dekat dengan pemerintahan. Apalagi, Golkar, tercatat sebagai partai yang pertama kali menegaskan dukungan terhadap pencalonan kembali Jokowi di Pemilu Presiden 2019—jauh sebelum PDI Perjuangan mendeklarasikannya.

Tantangan kedua, meningkatkan kinerja para menteri. Pada tahun kedua, kepuasan terhadap kabinet kerja masih belum maksimal. Temuan survei CSIS, pada Agustus 2016, hanya 56% publik yang mengaku puas dengan kinerja kabinet kerja secara umum.

Tantangan di 2017 adalah mengenjot kinerja para menteri di bidang ekonomi. Hal ini memang tidak mudah di tengah perekonomian dunia yang tengah melesu.

Meskipun kepuasan terhadap bidang ekonomi mengalami kenaikan sebesar 16% yaitu 30% di tahun pertama menjadi 46% di tahun kedua, kepuasan terhadap ekonomi masih rendah dibanding bidang lain yang sudah di atas angka 50%, dan bahkan bidang Maritim mencapai angka kepuasan sebesar 63,9%.

Reshuffle kabinet diperkirakan akan kembali di tahun 2017. Presiden mungkin akan kembali mengevaluasi kinerja kabinet kerja pada bidang-bidang yang belum maksimal.

Hal tersebut dilakukan agar pada tahun keempat, Presiden dapat bekerja dengan baik dengan performa kabinet yang baik pula. Tapi perkiraan reshuffle tidak dilakukan secara besar-besaran.

Kenapa reshuffle kembali dilakukan di tahun ketiga pemerintahan? Karena terlalu berbahaya bagi Presiden untuk melakukan reshuffle pada tahun keempat. Selain akan menciptakan goncangan politik, juga akan menganggu hubungan presiden dengan anggota koalisi.

Tantangan ketiga, memastikan pelaksanaan pilkada serentak gelombang kedua berjalan secara demokratis dan lancar. Pada pilkada gelombang pertama, relatif tidak ada kekisruhan yang berarti.

Pilkada berhasil dilaksanakan secara damai dan demokratis. Pada 2017 juga akan dilakukan persiapan menghadapi pilkada gelombang ketiga, pada 2018 nanti.

Kinerja DPR
Di tengah dukungan mayoritas fraksi di DPR, yaitu sekitar 68% kepada pemerintahan Jokowi-Kalla, parlemen dikhawatirkan akan mandul. Diperkirakan pengawasan terhadap pemerintah tidak begitu nyaring.

Hubungan Jokowi dengan partai oposisi juga relatif membaik. Beberapa kesempatan, Jokowi bertemu dengan Prabowo Subianto, rivalnya dalam pemilu presiden lalu.

Hal tersebut memang dilema, pada satu sisi kita berhadap dukungan terhadap presiden yang kuat. Namun, bila itu terpenuhi, kontrol terhadap pemerintah juga dikhawatirkan akan melemah—karena banyak partai berbondong masuk istana.

Di DPR, tahun 2017, selain pembahasan sejumlah RUU yang masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2017, revisi UU MD3 diperkirakan akan menjadi isu hangat di awal tahun nanti. Keinginan PDI Perjuangan untuk merevisi UU dengan menambah jumlah kursi pimpinan MPR/DPR diperkirakan tidak akan mengalami kesulitan yang berarti.

Ke depan, perlu dipertimbangkan periodesasi jabatan Pimpinan DPR/MPR, agar memberikan kenyamanan bagi pimpinan untuk bekerja dan tidak diberhentikan di tengah jalan, seperti yang dialami Ade Komaruddin.

Akhirnya, bagi Jokowi tahun 2017 penting sebagai jembatan untuk memperoleh dukungan publik dalam pencalonan Presiden 2019. Bagi partai ini, tahun ini adalah masa untuk meningkatkan performa politik di tengah publik. Di tengah persaingan politik yang ketat, semoga presiden dan DPR bekerja dengan baik untuk memperjuangkan kepentingan kolektif publik.
(poe)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Menghapus Asimetris...
Menghapus Asimetris Relasi di Hari Buruh
Pertempuran Sungai Nil,...
Pertempuran Sungai Nil, Perebutan Energi Sumber Daya Alam
Akhir Ramadan, Sportifitas...
Akhir Ramadan, Sportifitas dan Optimisme
Berita Terkini
Fiscal Dominance dan...
'Fiscal Dominance' dan Depresiasi Rupiah
Amanat Lengkap Presiden...
Amanat Lengkap Presiden Prabowo di Upacara Prasetya Perwira TNI-Polri Tahun 2026
Jenderal Agus Subiyanto...
Jenderal Agus Subiyanto Pastikan TNI Siap Dukung Swasembada Beras
PN Jakarta Selatan Tunda...
PN Jakarta Selatan Tunda Sidang Praperadilan Roy Suryo Jilid 3 Pekan Depan
Sidang Praperadilan...
Sidang Praperadilan Jilid 3 Roy Suryo Digelar di PN Jakarta Selatan Hari Ini
TNI-Polri Harus Profesional,...
TNI-Polri Harus Profesional, Prabowo: Jangan Ada Loyalitas Korps yang Sempit
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved