Opini

Keluarga dan kesehatan

Senin,  2 Juli 2012  −  11:20 WIB
Keluarga dan kesehatan
Anggota DPR dari Partai Demokrat Nova Riyanti Yusuf. (noriyu.wordpress.com)

SETIAP tanggal 29 Juni diperingati sebagai Hari Keluarga dan ritual peringatan tahunan itu telah dilaksanakan sejak 1994. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) selalu sibuk dengan perhelatan, termasuk pada tahun 2012 ini mengusung tema “Dengan semangat Hari Keluarga, kita bangkitkan program kependudukan dan keluarga berencana” dengan moto “Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera, Keluarga Tangguh dan Mandiri”.

Nusa Tenggara Barat terpilih sebagai lokasi peringatan Hari Keluarga ke-19. Sudahkah Hari Keluarga menjadi lebih bermakna bagi penduduk Indonesia daripada sekadar sebagai momentum peringatan seremonial?

Konsep Keluarga BKKBN
Upaya BKKBN ini cukup menarik seiring dengan proses transformasi kondisi masyarakat modern yang menunjukkan peningkatan kadar sikap individualistis. Namun tentunya tidak mungkin menanggalkan nilai-nilai sosial budaya bangsa Indonesia kecuali memang tidak ingin bersama-sama membangun negara. Ledakan penduduk bagaikan pisau bermata dua. Penduduk dengan jumlah banyak dan berkualitas akan menjadi modal pembangunan. Namun jika penduduk banyak tetapi tidak berkualitas akan menjadi beban pembangunan.

Dengan kesadaran dan keresahan sebagai negara dengan jumlah penduduk nomor empat terbesar di dunia, yaitu 237,6 juta jiwa, maka keluarga merupakan rujukan keberhasilan dan kebahagiaan. Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak atau ayah dan anak atau ibu dan anak mempunyai peranan yang sangat menentukan bagi tumbuhnya generasi muda yang cerdas dan berkualitas. BKKBN berusaha mengingatkan bahwa keluarga perlu meningkatkan ketahanannya untuk menghadapi berbagai tantangan yang datang baik dari dalam ataupun luar.

Karena keluarga merupakan wahana/media utama dan pertama dalam pendidikan dan penyemaian nilai-nilai luhur bangsa kepada anak-anak. Keluarga mempunyai delapan fungsi, yaitu fungsi agama, kasih sayang, reproduksi, perlindungan, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, sosial budaya, dan pelestarian lingkungan. Harapannya jika fungsi-fungsi tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, akan terbentuk keluarga yang berketahanan yang pada akhirnya terbentuk ketahanan nasional.

BKKBN sepertinya juga menangkap gejala bahwa banyak dari masalah berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat, semuanya dimulai dari keluarga. Berbagai masalah sosial saat ini, terutama kemiskinan, kerukunan, dan keharmonisan antarwarga masyarakat, menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian serius yang dirasakan keluarga-keluarga Indonesia.

Kondisi seperti ini tidak lepas dari akar permasalahan kependudukan yang apabila tidak ditangani dengan serius dan dikelola dengan baik akan semakin menyulitkan kehidupan keluarga, masyarakat, dan akhirnya akan mempengaruhi ketahanan bangsa Indonesia. Dengan singkat bisa disimpulkan bahwa dalam konsep BKKBN, keluarga adalah perisai yang juga harus dipersenjatai.

Keluarga dan kesehatan
Namun dengan berbagai elaborasi konsep fungsi keluarga BKKBN, tampaknya luput fungsi keluarga dalam konteks kependudukan bagi pencapaian kesehatan fisik dan jiwa. Sejak diperkenalkan pada 1977, model biopsikososial (biologi-psikologi-sosial) George Engel telah mengembangkan konsep bagi kedokteran keluarga dan disiplin pelayanan kesehatan primer lainnya.

Akibat reduksionisme biomedis dalam dunia kedokteran mainstream, Engel menggarisbawahi pentingnya pemahaman kesehatan dan kesakitan dalam konteks yang multilevel. Kontribusi model biopsikososial menekankan kelekatan setiap orang dalam kontinum hierarki dari level molekuler sampai level masyarakat dan peran dari setiap level dalam menentukan derajat kesehatan. Penelitian-penelitian terdahulu juga mempertegas bahwa baik keluarga maupun masyarakat memengaruhi kesehatan individu.

Level keluarga memengaruhi kesehatan melalui tiga sumber, yaitu genetik, lingkungan fisik, dan lingkungan sosial. Kedua faktor terakhir menjadi penting ketika anggota-anggota keluarga hidup dalam satu rumah. Lingkungan sosial mencakup hubungan fungsional seperti caregiving, lingkungan sosioekonomik, termasuk pendapatan dan kekayaan (yang berkaitan dengan hambatan dan kesempatan untuk hidup sehat), juga bentuk hubungan yang positif dan negatif.

Sebuah penelitian pada populasi di Amerika Serikat yang dipublikasikan pada 2005 menjelaskan adanya kontribusi keluarga yang bermakna terhadap status kesehatan level populasi. Kontribusi unit keluarga terhadap status kesehatan individu sangat bermakna, yaitu 4,5% sampai dengan 26,1% dari total varian dalam status kesehatan fisik dan mental individu. Proporsi tertinggi didapatkan pada pasangan menikah dengan usia lebih tua.

Efek keluarga terhadap status kesehatan relatif sama, baik untuk kesehatan fisik maupun jiwa. Efek keluarga telah teridentifikasi pada berbagai outcome derajat kesehatan yang spesifik baik pada anak maupun orang dewasa. Mortalitas, penyakit kardiovaskuler, kekerasan, dan dampak lainnya dipengaruhi juga oleh karakteristik lingkungan seperti ekonomi, ras/ etnik, dan agregasi sosial yang lebih besar. Banyak penelitian juga menunjukkan efek level keluarga terhadap profil kesehatan individu.

Misalnya, pasangan mempunyai angka lebih tinggi dibandingkan kontrol age-matched untuk menderita penyakit jantung koroner, penyakit-penyakit lain seperti asma, depresi, hipertensi, dislipidemia, tukak lambung, dan bunuh diri. Dalam lingkungan keluarga ada berbagai aspek yang dapat memengaruhi kesehatan individu.

Misalnya kepercayaan-kepercayaan mengenai kesehatan sehingga muncul perilaku-perilaku yang dipraktikkan bersama, lingkungan fisik yang dihuni bersama, stres keluarga, termasuk adanya anggota keluarga yang sakit atau meninggal. Juga termasuk di dalamnya dukungan instrumental untuk mendapatkan pelayanan kesehatan serta hubungan-hubungan interpersonal yang bisa bermanfaat atau malah membahayakan kesehatan.

Salah satu determinan paling kuat dari keluarga adalah posisi sosioekonomik yang akan memberikan dampak terhadap beberapa situasi kehidupan. Di antaranya kualitas rumah atau tempat tinggal, kondisi lingkungan tempat tinggal, transportasi, akses terhadap pelayanan kesehatan yang akan mempunyai implikasi terhadap kesehatan.

Keluarga juga sangat berperan bagi kesehatan jiwa, di antaranya meningkatkan rasa berdaya, mendukung kesuksesan, meningkatkan potensi energi positif, memahami landasan makna hubungan berkeluarga, berkolaborasi dalam pembuatan keputusan yang efektif, dan lain-lain. Sistem keluarga menampakkan perbedaan pola dinamika setiap keluarga yang akan memberikan prediksi hasil kesehatan yang berbeda.

Kesehatan (termasuk jiwa) sebagai salah satu dari berbagai indikator kesuksesan program kependudukan lintas-sektoral BKKBN terhadap pemeliharaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia tidak bisa tereksklusi dari fungsi utama keluarga. Juga kontinum biopsikososial penting dijadikan landasan dalam merancang dan mengevaluasi kebijakan dan intervensi terkait kualitas kesehatan penduduk level individu dengan memaksimalkan peran keluarga.

DR NOVA RIYANTI YUSUF, SPKJ
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI
Fraksi Partai Demokrat



(hyk)

views: 1.866x

 

shadow