Pemimpin Antarumat dan Umat Antariman: Takziyah Paus Benediktus IXV
Kamis, 05 Januari 2023 - 12:08 WIB
loading...
A
A
A
Paus Benediktus telah membuktikan itu. Baik saat berpidato atau mengambil kebijakan beliau menunjukkan rasa empati dan rasa keterhubungan itu dengan umat lain. Terutama dengan umat Islam dunia, Paus Benediktus tidak akan terlupakan.
Tepat waktu itu, penulis sendiri tahun 2006 sedang studi di Jerman. Paus Benediktus, yang lahir di Jerman dan dikenal dengan nama Kardinal Ratzinger menyampaikan pidato di Universitas Regensburg.
Waktu itu tentu belum ada program moderasi beragama di Indonesia. Tidak seperti saat ini, Kementrian Agama dan Pemerintah Indonesia menekankan program moderasi beragama.
Sang Paus itu sedikit berkomentar tentang sejarah umat Islam. Yaitu tentang dialog Kaisar Byzantium Manuel II Paleologos. Intinya adalah komentar tentang iman, kekerasan, dan pentingnya sikap moderat.
Waktu itu reaksi berlebihan datang dari dunia Muslim. Beberapa pemimpin agama Islam dunia dan juga di Indonesia mencoba mencerna dengan hati yang dingin dan lapang. Betapa pentingnya dialog antariman. Betapa pentingnya mendengar dari iman lain. Betapa pentingnya memahami sebelum bereaksi. Dan betapa pentingnya kita saling memahami, antar umat dan antar iman.
Sebagai seorang cendikiawan Jerman, Paus Benediktus menunjukkan ketelitiannya, daya kritis, dan perspektif dari sisi sejarah klasik. Sebagian umat Islam menangkap lain.
Saat ini ketika program moderasi beragama bergema di Indonesia kita harus lebih bijak. Kita tidak mungkin hanya menggunakan perspektif satu umat. Tetapi antarumat.
Tidak lagi kita hanya melihat dari sisi ajaran dan dogma sendiri, tetapi bagaimana perasaan dan dogma lain. Tidak hanya kita melihat dari masjid, tetapi juga bagaimana katedral, pura, vihara, kapel, dan tempat peribadatan lain.
Tepat waktu itu, penulis sendiri tahun 2006 sedang studi di Jerman. Paus Benediktus, yang lahir di Jerman dan dikenal dengan nama Kardinal Ratzinger menyampaikan pidato di Universitas Regensburg.
Waktu itu tentu belum ada program moderasi beragama di Indonesia. Tidak seperti saat ini, Kementrian Agama dan Pemerintah Indonesia menekankan program moderasi beragama.
Sang Paus itu sedikit berkomentar tentang sejarah umat Islam. Yaitu tentang dialog Kaisar Byzantium Manuel II Paleologos. Intinya adalah komentar tentang iman, kekerasan, dan pentingnya sikap moderat.
Waktu itu reaksi berlebihan datang dari dunia Muslim. Beberapa pemimpin agama Islam dunia dan juga di Indonesia mencoba mencerna dengan hati yang dingin dan lapang. Betapa pentingnya dialog antariman. Betapa pentingnya mendengar dari iman lain. Betapa pentingnya memahami sebelum bereaksi. Dan betapa pentingnya kita saling memahami, antar umat dan antar iman.
Sebagai seorang cendikiawan Jerman, Paus Benediktus menunjukkan ketelitiannya, daya kritis, dan perspektif dari sisi sejarah klasik. Sebagian umat Islam menangkap lain.
Saat ini ketika program moderasi beragama bergema di Indonesia kita harus lebih bijak. Kita tidak mungkin hanya menggunakan perspektif satu umat. Tetapi antarumat.
Tidak lagi kita hanya melihat dari sisi ajaran dan dogma sendiri, tetapi bagaimana perasaan dan dogma lain. Tidak hanya kita melihat dari masjid, tetapi juga bagaimana katedral, pura, vihara, kapel, dan tempat peribadatan lain.
Lihat Juga :