Merenda Optimisme dalam Histeria Ekonomi

Selasa, 20 Desember 2022 - 16:44 WIB
loading...
A A A
Terlebih gelagat The Fed memberikan sinyal bahwa kebijakan moneter hawkish masih akan terus berlanjut di Amerika Serikat. Maknanya, tekanan pada rupiah masih belum berakhir. Stres oleh capital outflow, tergerusnya cadangan devisa, dan ketidakpastian global bisa berujung pada tindakan spekulasi yang bisa merapuhkan pasar keuangan.

Selain Amerika Serikat, yang perlu diwaspadai juga negara Eropa. Konflik Rusia-Ukraina yang masih belum reda menimbulkan gangguan rantai pasok yang tidak berkesudahan. Rentetannya, harga energi dan pangan di Eropa melambung cukup tinggi.

Di waktu yang bersamaan, terjadi musim dingin yang kurang lebih baru akan berakhir setelah 3 bulan. Secara tak langsung, ini berpotensi besar semakin mendongkrak permintaan gas dan listrik maka kenaikan harga energi global tak terelakkan. Kondisi ini bisa menyebabkan imported inflation yang mendorong biaya produksi di belahan dunia, tak terkecuali Indonesia.

Mencari Antidot Resesi
Sebenarnya, elemen utama yang patut dikhawatirkan untuk perekonomian Indonesia ke depan adalah risiko stagflasi akibat kelesuan ekspor. Dan pengikisan daya beli masyarakat yang disebabkan oleh inflasi akibat volatilitas nilai tukar serta tingginya harga energi maupun pangan. Walaupun sempat melandai beberapa kali, tetapi inflasi masih berada di luar sasaran dan trennya cukup tajam.

Secara fundamental, Indonesia sebetulnya diuntungkan oleh struktur demografi yang cukup produktif dengan pertumbuhan dan besarnya populasi. Juga, tren jumlah masyarakat kelas menengah terus terus tumbuh tiap tahunnya. Kondisi ini menyebabkan konsumsi memiliki proporsi yang paling besar dalam pembentukan PDB.

Implikasinya, konsumsi bisa menjadi benteng pertahanan solid ketika ekspor mengalami perlambatan. Oleh karenanya, menjaga konsumsi adalah sebuah keniscayaan. Bila tidak hati-hati, konsumsi yang sejatinya merupakan bantalan perekonomian domestik bisa tergerus oleh inflasi dan berbahaya bagi kelangsungan ekonomi Indonesia di tengah resesi.

Di titik ini, Indonesia harus mampu menjaga laju inflasinya melalui koordinasi kebijakan yang tepat antara otoritas fiskal dan moneter dalam jangka pendek. Setidaknya, pemerintah bisa tetap hadir memberikan bantuan berupa subsidi dan optimalisasi Belanja Tidak Terduga (BTT) dalam rangka mengantisipasi lonjakan tiba-tiba inflasi, serta menjaga daya beli masyarakat.

Ke depan yang harus jadi perhatian adalah masalah distribusi pendapatan. Mengikuti ekonomi Post Keynesian, performa ekonomi sejatinya dipengaruhi campur tangan pemerintah dalam mendistribusikan pendapatan yang adil. Runtutannya sebagai berikut. Tingginya pendapatan akan menentukan tingkat konsumsi dan permintaan rumah tangga.

Namun, pasar yang tidak sempurna dan kaum kapitalis yang memiliki dominasi lebih kuat dalam perekonomian, membuat distribusi pendapatan jadi tidak merata. Bila dibandingkan dengan rumah tangga biasa, kontribusi kaum kapitalis dalam menopang konsumsi perekonomian jauh lebih kecil. Lantaran ini disebabkan oleh kecenderungan menabungnya yang lebih besar dibandingkan konsumsi.

Maka konsumsi rumah tangga akan mengalami degradasi dalam jangka panjang dan bisa mengurangi laju pertumbuhan ekonomi di masa depan. Mau tidak mau, pemerintah harus campur tangan dalam urusan distribusi pendapatan ini.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mitigasi Krisis
Mitigasi Krisis
Presiden Prabowo: Dunia...
Presiden Prabowo: Dunia Sekarang Penuh Ketidakpastian, Bahkan Bahaya
Krisis Global, Pergeseran...
Krisis Global, Pergeseran Kekuasaan, dan Ujian Stabilitas Indonesia
Tanggapi WEF 2026 Davos,...
Tanggapi WEF 2026 Davos, SBY: Saya Pikir Banyak Good News Ya
Personel Brimob Polda...
Personel Brimob Polda Aceh Jadi Tentara Bayaran Rusia, Menkum: Otomatis Kewarganegaraan Hilang
1 Anggota Brimob Polda...
1 Anggota Brimob Polda Aceh Gabung Tentara Rusia Perangi Ukraina
Zelensky Pecat Menhan...
Zelensky Pecat Menhan Ukraina di Tengah Perang Melawan Rusia, Menhan ke-4 yang Didepak
Rusia: Serangan Drone...
Rusia: Serangan Drone Ukraina Tewaskan Kepala Insinyur Pembangkit Nuklir Terbesar Eropa
Wakil PM Italia Sebut...
Wakil PM Italia Sebut Rusia Bukan Ancaman Utama bagi Eropa, tapi Siapa?
Rekomendasi
BI Injeksi Likuiditas...
BI Injeksi Likuiditas Rp837,11 Triliun, Tekanan di Pasar Uang Mulai Reda
Transaksi Serba Digital,...
Transaksi Serba Digital, Pembelian Token Listrik Semakin Praktis
S&P Tahan RI Masih Investment...
S&P Tahan RI Masih Investment Grade, Fuad Bawazier Prediksi Ekonomi Bangkit 6 Bulan Lagi!
Berita Terkini
Hotman Paris Ungkap...
Hotman Paris Ungkap Alasan Bersedia Menjadi Kuasa Hukum Febrie Adriansyah
Pimpin Panen Raya di...
Pimpin Panen Raya di Malang, Prabowo: Bukti TNI Hadir Perkuat Kemandirian Pangan
Don Ritto Gunakan Rumah...
Don Ritto Gunakan Rumah Febrie Adriansyah di Sentul untuk Operasional Yayasan
Febrie Adriansyah Tidak...
Febrie Adriansyah Tidak Ditahan, Kuasa Hukum: Sudah Mengundurkan Diri, Artinya Kooperatif
Komisi IX DPR Cecar...
Komisi IX DPR Cecar BGN usai Pamer Dapat WTP dari BPK: Jangan-jangan Dibikin-bikin
ICW Soroti Mutasi ASN...
ICW Soroti Mutasi ASN Kementerian PU, Diduga Hanya Jadi Alat Balas Dendam
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved