Kontekstualisasi Mata Pelajaran
Jum'at, 02 Desember 2022 - 15:18 WIB
loading...
A
A
A
Tantangan ini berat, tapi guru harus bisa menjawabnya. Para guru harus bisa memberikan pemahaman kepada peserta didik, bahwa yang sedang dipelajari di sekolah itu adalah sesuatu yang sangat berguna di kehidupan sehari-hari di masyarakat. Para guru harus bisa menyambungkan satu materi dengan kehidupan riil yang ada di sekitar anak-anak tumbuh.
Dalam mata pelajaran agama, kontekstualisasi ini bahkan wajib, karena jika guru tidak bisa mengontektualisasikan materi pelajaran agama dengan kehidupan sehari-hari, materi agama ini tidak hanya berpotensi membuat anak-anak menganggap belajar agama itu tidak penting, tapi sekaligus juga sebaliknya, berpotensi menjadikan anak-anak salah memahami ajaran agama.
Sebagai contoh, ketika anak-anak belajar tentang fikih jual beli, maka guru harus menyampaikan fenomena transaksi non tunai yang sekarang sedang terjadi di masyarakat. Jika yang disampaikan hanya letterlijk seperti apa yang ada dalam buku, bahwa alat tukar yang bisa dipakai adalah uang atau barang, maka anak-anak akan berpikir, kok yang dipelajari di sekolah berbeda dengan kehidupan di masyarakat, lalu untuk apa belajar fikih jual beli?
Pun demikian ketika anak-anak belajar sejarah Islam. Pada pembahasan ghozwah, atau perang yang terjadi antara kaum muslimin dengan kaum kafir Quraisy misalnya, guru dituntut bisa menerangkan materi ini secara kontekstual, menerangkan konteks nabi memerangi kafir Quraisy, dan menjelaskannya dalam konteks kekinian. Karena jika tidak, anak-anak akan berpikir bahwa non muslim adalah musuh, orang yang harus diperangi.
Memang, kontekstualisasi mata pelajaran ini berat, bahkan sangat berat. Seorang guru yang bacaannya hanya terbatas pada buku ajar saja, dipastikan tidak akan bisa mengontektualisasikan konten mata pelajaran, karena kontekstulisasi setidaknya membutuhkan dua hal, yaitu bahan bacaan yang luas, dan hati yang terbuka terhadap segala macam bentuk perubahan.
Bacaan yang luas akan membawa guru pada kemampuan memotret persoalan secara lebih makro, membandingkan teori, pola dan konteks peristiwa, serta menganalisa perkembangan zaman, sementara keterbukaan hati akan membawa guru pada kemampuan berpikir untuk menerima segala perubahan, dan perkembangan teknologi yang mengiringinya.
Dalam mata pelajaran agama, kontekstualisasi ini bahkan wajib, karena jika guru tidak bisa mengontektualisasikan materi pelajaran agama dengan kehidupan sehari-hari, materi agama ini tidak hanya berpotensi membuat anak-anak menganggap belajar agama itu tidak penting, tapi sekaligus juga sebaliknya, berpotensi menjadikan anak-anak salah memahami ajaran agama.
Sebagai contoh, ketika anak-anak belajar tentang fikih jual beli, maka guru harus menyampaikan fenomena transaksi non tunai yang sekarang sedang terjadi di masyarakat. Jika yang disampaikan hanya letterlijk seperti apa yang ada dalam buku, bahwa alat tukar yang bisa dipakai adalah uang atau barang, maka anak-anak akan berpikir, kok yang dipelajari di sekolah berbeda dengan kehidupan di masyarakat, lalu untuk apa belajar fikih jual beli?
Pun demikian ketika anak-anak belajar sejarah Islam. Pada pembahasan ghozwah, atau perang yang terjadi antara kaum muslimin dengan kaum kafir Quraisy misalnya, guru dituntut bisa menerangkan materi ini secara kontekstual, menerangkan konteks nabi memerangi kafir Quraisy, dan menjelaskannya dalam konteks kekinian. Karena jika tidak, anak-anak akan berpikir bahwa non muslim adalah musuh, orang yang harus diperangi.
Memang, kontekstualisasi mata pelajaran ini berat, bahkan sangat berat. Seorang guru yang bacaannya hanya terbatas pada buku ajar saja, dipastikan tidak akan bisa mengontektualisasikan konten mata pelajaran, karena kontekstulisasi setidaknya membutuhkan dua hal, yaitu bahan bacaan yang luas, dan hati yang terbuka terhadap segala macam bentuk perubahan.
Bacaan yang luas akan membawa guru pada kemampuan memotret persoalan secara lebih makro, membandingkan teori, pola dan konteks peristiwa, serta menganalisa perkembangan zaman, sementara keterbukaan hati akan membawa guru pada kemampuan berpikir untuk menerima segala perubahan, dan perkembangan teknologi yang mengiringinya.
Lihat Juga :