Ketegangan antara Taiwan dan Daratan China Belum Mereda, Masalah Keluarga atau Masalah Dunia Internasional?

Minggu, 25 September 2022 - 20:09 WIB
loading...
A A A
Komunis menggunakan kesempatan ini untuk menggulingkan pemerintahan yang sah pada saat itu. Perang saudara antara pemerintah pusat dalam hal ini tantara Chiang Kai Shek yang lebih dikenal dengan kubu Kuomintang atau KMT dengan gerilyawan komunis yang kemudian mengakibatkan kalahnya Chiang Kai Shek dan membuat pemerintah yang sah semakin terpukul mundur sampai wilayah Taiwan. Inilah ketegangan kedua kalinya antara pemerintah China (Kuomintang yang mengungsi ke Taiwan atau selanjutnya disebut Taiwan) dengan pemerintah baru di China yang menamakan dirinya Republik Rakyat China(RRC) yang berasaskan nilai-nilai komunis.

Pemerintah Komunis China yang ber-ibu kota di Beijing pada saat itu belum mendapat pengakuan dari dunia luar, meskipun secara de-facto saat itu komunis atau RRC telah berhasil menguasai hampir seluruh wilayah China. Dunia internasional tetap mengakui pemerintah Chiang Kai Shek atau Republik China yang ber-ibu kota di Taipei sebagai satu-satu nya negara yang mewakili China dan mendapat kursi di Dewan keamanan PBB.

Masalah Dua Pemerintahan China di PBB adalah Awal Munculnya Identitas Baru Taiwan
Di tengah perpecahan aliansi RRC dan Uni Soviet dan perang Vietnam, membuat Amerika Serikat mengambil kebijakan baru. Pemerintah Amerika Serikat yang awalnya mendukung sekutunya Chiang Kai Shek telah mengalihkan dukungan ke RRC pada tahun 1971 dengan mengirim Henry Kissinger secara rahasia ke Daratan China menemui Chou En Lai untuk bernegosiasi tentang kemungkinan terjadinya aliansi antara kapitalis Amerika dengan Komunis China. Aliansi ini telah membuat pemerintah Chiang Kai Shek tidak didukung lagi oleh negara-negara barat, yang kemudian membuat negara miskin seperti Albania berani mengusulkan bahwa pegantian perwakilan China dari Republik China kepada Republik Rakyat China harus segera dilaksanakan.

Resolusi 2758 dari sidang umum Majelis Umum PBB telah membuat Republik China terdepak dan terkucil dari dunia Internasional. Chiang Kai Shek menyadari, dari sudut pandang Diplomasi dan Foreign Policy, dirinya sudah tidak berharga lagi sebagai pemimpin, oleh karena itu, dari sisi Politik, dia harus memperkuat kedudukannya di Taiwan. Dengan menyerukan slogan anti komunis dan penyatuan kembali China Daratan menjadi obat kuat Chiang Kai Shek dan pendukungnya atau pemerintahan KMT di tengah-tengah masyarakat Taiwan yang memang saat itu telah terdoktrin oleh semangat anti komunis. Karena tidak mau sejarah kekalahannya di Daratan China terulang, Chiang Kai Shek memerintah di Taiwan dengan "tangan besi".

Sifat Chiang Kai Shek yang keras kepala dan tidak pernah percaya dengan bawahan maupun jajarannya telah menambah daftar deretan barisan yang tidak suka dengan gaya kepemimpinan Chiang Kai Shek. Terlebih dari generasi warisan sisa-sisa pegawai negeri, polisi maupun orang-orang berkuasa pada zaman Jepang seperti yang penulis utarakan tadi. Sifat, sikap dan tindakan dari Chiang Kai Shek telah menimbulkan bangkitnya identitas “orang Taiwan” atau penduduk "pribumi" dari kalangan yang tidak sepemikiran dengan Chiang Kai Shek, inilah yang dinamakan untuk kedua kalinya identitas pribumi Taiwan terbentuk.

Setelah meninggalnya Chiang Kai Shek dan naiknya Chiang Ching Kuo yang merupakan putra dari Chiang Kai Shek pada 1978, di wilayah kekuasaan de-facto Republik China (Pulau Taiwan, Penghu, Kinmen dan Matsu) telah terjadi berbagai perubahan positif untuk Taiwan sekaligus untuk kelompok yang sekarang menamakan dirinya kelompok pro-kemerdekaan Taiwan. Chiang Ching Kuo menyadari bahwa Republik China harus memperkuat stabilitas negara dari berbagai sisi, seperti ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

Oleh karena itu, selain slogan warisan Bapaknya, "menyatukan kembali Daratan Tiongkok" Chiang muda juga mulai menyadari keberadaan putra daerah Taiwan di partai Kuomintang/KMT sangat penting untuk memperkuat atau minimal mempertahankan keberadaan KMT di Taiwan. Karena generasi "pengungsi" dari Daratan China pada tahun 1949 akan semakin menua dan berakhir. Selain membangun perekonomian rakyat, Chiang mulai membuka dan mereformasi kehidupan berpolitik rakyat di Taiwan. Chiang memberikan kesempatan berdirinya partai di luar partai pemerintah/KMT.

Tanggal 28 September 1986, Partai Progresif Demokrasi atau Democratic Progressive Party (DPP) berdiri. Anggota DPP yang semuanya adalah generasi muda Taiwan bercampur generasi tua Taiwan yang masih mempunyai dendam politik dengan pemerintahan Chiang Kai Shek memproklamirkan diri sebagai partai yang akan membawa Taiwan sebagai negara demokrasi untuk rakyat Taiwan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Penangkapan dr Tifa...
Penangkapan dr Tifa dan Ujian Negara Hukum di Tengah Polemik Ijazah Jokowi
Threshold DPRD Dinilai...
Threshold DPRD Dinilai Reduksi Demokrasi Lokal, Gardian Muhammad Minta Reformasi Politik Substantif
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
Ekologi adalah Kesehatan:...
Ekologi adalah Kesehatan: Ketika Dua Visi Besar Emil Salim dan Farid Moeloek Menjadi Keharusan Zaman
Mengapa Pendonor Darah...
Mengapa Pendonor Darah Kita Tidak Kembali?
Dari SPBU ke Meja Makan:...
Dari SPBU ke Meja Makan: Rantai Dampak Kenaikan BBM terhadap Kesejahteraan
Bidik Penguatan Basis...
Bidik Penguatan Basis Distrik, Wakil Bupati Yan Kiraklak Resmi Pimpin DPD Partai Perindo Yalimo
Warga Rawa Buaya Bersyukur...
Warga Rawa Buaya Bersyukur Terima Bantuan Kursi Roda dari Dina Masyusin dan Dinsos
Dina Masyusin Salurkan...
Dina Masyusin Salurkan Bantuan Kursi Roda untuk Warga Rawa Buaya
Rekomendasi
Euforia Suporter Memuncak,...
Euforia Suporter Memuncak, Meksiko Siap Rem Penjualan Alkohol
Ombudsman Mengaku Dihalang-halangi...
Ombudsman Mengaku Dihalang-halangi saat Sidak Lapas Kelas IIA Cibinong
Israel Terus Serang...
Israel Terus Serang Lebanon, Utusan AS Kirim Negosiator ke Jenewa
Berita Terkini
Gelar Pertemuan di Ponpes...
Gelar Pertemuan di Ponpes Al Falah Ploso Kediri, Ini Tiga Seruan Masyayikh NU
Seskab Teddy Bertemu...
Seskab Teddy Bertemu Kepala BNN Komjen Suyudi, Ada Apa?
50 Tokoh Pasang Badan...
50 Tokoh Pasang Badan untuk Roy Suryo, Din Syamsuddin dan Oegroseno Ikut Jadi Penjamin
Kasus Ijazah Jokowi,...
Kasus Ijazah Jokowi, Roy Suryo akan Ajukan Penangguhan Penahanan
Perkuat Akuntabilitas...
Perkuat Akuntabilitas Keuangan Daerah, BSKDN Libatkan Akademisi dalam Validasi IPKD
Usai Ziarah ke Makam...
Usai Ziarah ke Makam Soekarno dan Gus Dur, Kapolri Tabur Bunga di Makam Soeharto
Infografis
Di Ambang Perang, Ini...
Di Ambang Perang, Ini Perbandingan Militer China dan Taiwan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved