Mobilisasi Parsial dan Referendum oleh Rusia, Babak Baru Perang Rusia-Ukraina
Minggu, 25 September 2022 - 13:25 WIB
loading...
A
A
A
Sebab tidak hanya angkatan bersenjata yang diminta untuk terjun ke medan perang, namun juga rakyat biasa, seperti mahasiswa yang mendapat panggilan untuk bergabung dalam mobilisasi parsial ini. Alhasil, terjadi bentrokkan di berbagai kota besar di Rusia, seperti Moscow dan St. Petersbug.
Sebagian besar masyarakat melarikan diri dari Rusia ke negara-negara bebas visa. Istanbul, Turki dan Yerevan, Armenia menjadi dua tujuan teratas sebagai tempat tujuan melarikan diri.
Referendum yang dilakukan di empat wilayah, yakni: Luhansk, Donetsk, Zaporizhzha, dan Kherson, mengingatkan kita akan referendum yang dilakukan oleh Rusia delapan tahun lalu, di Krimea pada 2014.
Sama halnya dengan yang terjadi di Krimea, pelaksanaan referendum yang dilakukan di keempat wilayah ini, mengundang reaksi yang sama bagi negara-negara Barat, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Eropa. Mereka mengecam apa yang dilakukan oleh Rusia, sebab hal ini ilegal, tidak sah dan melanggar prinsip integritas teritorial negara di mata hukum internasional. Walau, Moscow masih dengan landasan bahwa referendum dilakukan untuk melindungi penutur bahasa Rusia di wilayah-wilayah ini akibat penindasan yang dilakukan oleh pemerintah Ukraina.
Lalu apa tujuan Putin melakukan referendum ini? Jika dilihat wilayah dilakukannya referendum berada di timur Ukraina. Empat wilayah ini, Luhansk, Donetsk, Zaporizhzha, dan Kherson memiliki akses ke Laut Azov, selain Krimea yang secara ilegal dianeksasi Rusia pada 2014 lalu.
Laut Azov merupakan perairan dangkal yang secara strategis begitu penting bagi Rusia selama ribuan tahun dan menjadi signifikan karena terdapat alasan geopolitik di dalamnya. Melalui selat Kerch, Laut Azov terhubung dengan Laut Hitam, dan melalui Kanal Volga-Don Laut Azov dapat terhubung ke Laut Kaspia.
Sebagian besar masyarakat melarikan diri dari Rusia ke negara-negara bebas visa. Istanbul, Turki dan Yerevan, Armenia menjadi dua tujuan teratas sebagai tempat tujuan melarikan diri.
Referendum yang dilakukan di empat wilayah, yakni: Luhansk, Donetsk, Zaporizhzha, dan Kherson, mengingatkan kita akan referendum yang dilakukan oleh Rusia delapan tahun lalu, di Krimea pada 2014.
Sama halnya dengan yang terjadi di Krimea, pelaksanaan referendum yang dilakukan di keempat wilayah ini, mengundang reaksi yang sama bagi negara-negara Barat, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Eropa. Mereka mengecam apa yang dilakukan oleh Rusia, sebab hal ini ilegal, tidak sah dan melanggar prinsip integritas teritorial negara di mata hukum internasional. Walau, Moscow masih dengan landasan bahwa referendum dilakukan untuk melindungi penutur bahasa Rusia di wilayah-wilayah ini akibat penindasan yang dilakukan oleh pemerintah Ukraina.
Lalu apa tujuan Putin melakukan referendum ini? Jika dilihat wilayah dilakukannya referendum berada di timur Ukraina. Empat wilayah ini, Luhansk, Donetsk, Zaporizhzha, dan Kherson memiliki akses ke Laut Azov, selain Krimea yang secara ilegal dianeksasi Rusia pada 2014 lalu.
Laut Azov merupakan perairan dangkal yang secara strategis begitu penting bagi Rusia selama ribuan tahun dan menjadi signifikan karena terdapat alasan geopolitik di dalamnya. Melalui selat Kerch, Laut Azov terhubung dengan Laut Hitam, dan melalui Kanal Volga-Don Laut Azov dapat terhubung ke Laut Kaspia.
Lihat Juga :