Presiden Marah, Saleh Daulay: Tak Ada Manfaatnya Kalau Tak Ada Tindak Lanjut

Kamis, 02 Juli 2020 - 17:05 WIB
loading...
Presiden Marah, Saleh...
Politikus PAN, Saleh Partaonan Daulay mengatakan reshuffle kabinet adalah hak prerogatif Presiden Jokowi. Foto/SINDOphoto
A A A
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan kemarahannya dalam Rapat Kabinet Paripurna pada Kamis (18/7/2020) terkait penanganan pandemi COVID-19 yang dinilai belum maksimal. Presiden bahkan membuka peluang untuk melakukan perombakan (reshuffle) kabinet. Video terkait kegeraman presiden kepada para pembantunya ini diunggah ke YouTube pada Minggu (28/6/2020) lalu.

Politikus PAN, Saleh Partaonan Daulay mengatakan reshuffle kabinet adalah hak prerogatif Presiden Jokowi. PAN mengaku tidak ambil pusing apakah presiden jadi melakukan reshuffle atau tidak. (Baca juga: Penambahan 1.624 Kasus, Positif COVID-19 Kini Mencapai 59.394 Orang)

"Kalau presiden melakukan reshuffle ya silakan saja, kami enggak ikut-ikutan. Jadi kalau ditanya, ada juga yang bertanya, Fraksi PAN ini gimana, apakah mendukung reshuffle atau enggak? Kita ini tidak ada urusan kita dukung atau enggak dukung," ujarnydalam diskusi Dialektika Demokrasi bertajuk "Kemarahan Presiden Berujung Reshuffle Kabinet?" di Media Center Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (2/7/2020).

Saat ini, kata Saleh, Fraksi PAN DPR sedang konsentrasi bagaimana membantu pemerintah dari berbagai aspek dan sumber daya yang dimiliki untuk penanganan COVID-19. Sementara untuk urusan kepartaian, DPP PAN sedang fokus untuk melakukan konsolidasi organisasi pasca Kongres. Selain itu, juga konsentrasi menghadapi pilkada yang sudah di depan mata.

Kendati begitu, jika Jokowi tidak melakukan perubahan atau langkah apapun setelah video kemarahannya mengenai kinerja para menterinya terkait penanganan COVID-19 diunggah ke ruang publik dan penanganan COVID-19 tak ada perbaikan maka apa yang ditunjukkan presiden di video itu tidak ada maknanya.

"Maknanya dipublikasikan ke masyarakat untuk apa? Apa di balik rilis video itu? Kalau bukan ada maksud yang macam-macam, jadi kalau misalnya santai saja dan enggak ada perubahan apa-apa, berarti tidak ada maknanya. Video itu, jadi kita minta presiden ada tindak lanjut lah," kata Anggota Komisi IX DPR ini. (Baca juga: Dokter RSPAD Sebut Pasien COVID-19 Sembuh Bisa Terinfeksi Lagi)

Saleh berharap masih tingginya kasus COVID-19 di Indonesia juga menjadi perhatian penting oleh Presiden Jokowi untuk melakukan evaluasi.
(kri)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Rekomendasi
FIFA Beri Lampu Hijau,...
FIFA Beri Lampu Hijau, Michael Oliver Pimpin Laga Belanda vs Swedia
Keterlambatan RKAB 2026...
Keterlambatan RKAB 2026 Dinilai Hambat Pasokan Batu Bara PLTU Jawa-Bali
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Berita Terkini
Kejagung Ungkap Peran...
Kejagung Ungkap Peran Glory Harimas Sihombing di Kasus Korupsi MBG: Jual Titik SPPG
Glory Harimas Sihombing...
Glory Harimas Sihombing Jadi Tersangka Baru Korupsi MBG
Sony Sanjaya Beberkan...
Sony Sanjaya Beberkan Ada Pengadaan Fiktif CCTV dan Sidik Jari Rp300 Miliar di Program MBG
Sony Sonjaya Diperiksa...
Sony Sonjaya Diperiksa Kejagung 9 Jam, Daftar Nama terkait Jual Beli Titik SPPG Bertambah Jadi 41 Orang
Yusril Dialog dengan...
Yusril Dialog dengan BEM SI, Janji Sampaikan 5 Tuntutan ke Presiden
Soal Rupiah, Tomkur:...
Soal Rupiah, Tomkur: Perlu Koordinasi Kebijakan Lintas Sektor
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved