Kasus ACT dan Kerawanan Altruisme
Jum'at, 08 Juli 2022 - 17:24 WIB
loading...
A
A
A
Propaganda ini akan mendulang kesuksesasan di republik ini karena berdasar data dari Digital Civility Index (DCI) yang dilansir Microsoft, warganet Indonesia menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara alias paling tidak beradab dalam menggunakan internet saat berkomunikasi di dunia maya. Politik identitas dan polarisasi mengental dengan kuat akibat narasi-narasi provokatif di media. Fakta ini akan mudah dimanfaatkan oleh kelompok jaringan teroris.
Kedua, realitas kontra produktif ini akan menguntungkan para kelompok teroris karena mereka terus disuarakan, dibahas, dan didiskusikan. Mereka akan meraup wujud eksistensial untuk menunjukkan kepada publik bahwa jaringan terorisme itu akan terus berkembang. Ini akan menjadi strategi untuk melempar ketakutan kepada publik tanpa keterlibatan mereka secara langsung. Desas-desus pemberitaan dimanfaatkan untuk mendulang eksistensial mereka.
Regulasi
Pada titik inilah, diperlukan kepastian hukum dalam konteks pengelolaan dana umat. Jika penggalangan dana ini tidak diperkuat oleh regulasi yang jelas, maka sangat rentan dan rawan diselewengkan. Penyelewangan ini yang harus menjadi perhatian bersama agar fondasi awal dari tujuan baik mengelola dana umat dapat berjalan dengan amanah. Transparansi dan amanah menjadi kunci untuk memperkuat kepercayaan para pihak yang telah menyalurkan dana dengan maksud tulus untuk meringankan beban sesama.
Selain itu, perlu dilakukan audit secara mendalam sebagai kontrol dan pengawasan. Dugaan kebocoran dana umat untuk kepentingan pribadi dan aktivitas terlarang ini muncul dan menjadi heboh karena selama ini tidak ada regulasi yang jelas tentang hal itu dan juga disebabkan absennya kontrol dan pemeriksaan. Jika ini dibiarkan, bukan tidak mungkin aliran dana yang nilainya begitu besar itu mengalir pada kegiatan-kegiatan yang justru bertentangan dengan misi kemanusiaan, kepentingan publik dan komitmen kebangsaan.
Baca berita menarik lainnya di e-paper koran-sindo.com
Kedua, realitas kontra produktif ini akan menguntungkan para kelompok teroris karena mereka terus disuarakan, dibahas, dan didiskusikan. Mereka akan meraup wujud eksistensial untuk menunjukkan kepada publik bahwa jaringan terorisme itu akan terus berkembang. Ini akan menjadi strategi untuk melempar ketakutan kepada publik tanpa keterlibatan mereka secara langsung. Desas-desus pemberitaan dimanfaatkan untuk mendulang eksistensial mereka.
Regulasi
Pada titik inilah, diperlukan kepastian hukum dalam konteks pengelolaan dana umat. Jika penggalangan dana ini tidak diperkuat oleh regulasi yang jelas, maka sangat rentan dan rawan diselewengkan. Penyelewangan ini yang harus menjadi perhatian bersama agar fondasi awal dari tujuan baik mengelola dana umat dapat berjalan dengan amanah. Transparansi dan amanah menjadi kunci untuk memperkuat kepercayaan para pihak yang telah menyalurkan dana dengan maksud tulus untuk meringankan beban sesama.
Selain itu, perlu dilakukan audit secara mendalam sebagai kontrol dan pengawasan. Dugaan kebocoran dana umat untuk kepentingan pribadi dan aktivitas terlarang ini muncul dan menjadi heboh karena selama ini tidak ada regulasi yang jelas tentang hal itu dan juga disebabkan absennya kontrol dan pemeriksaan. Jika ini dibiarkan, bukan tidak mungkin aliran dana yang nilainya begitu besar itu mengalir pada kegiatan-kegiatan yang justru bertentangan dengan misi kemanusiaan, kepentingan publik dan komitmen kebangsaan.
Baca berita menarik lainnya di e-paper koran-sindo.com
(bmm)
Lihat Juga :