Kurban, Filantropi, dan Cara Baru Merawat Sesama

Rabu, 27 Mei 2026 - 12:44 WIB
loading...
Kurban, Filantropi,...
Wibowo Prasetyo, Anggota Komisi VIII DPR Fraksi PDI Perjuangan, Wakil Ketua LTN PBNU, dan Ketua PP Baitul Muslimin Indonesia. Foto: Istimewa
A A A
Wibowo Prasetyo
Anggota Komisi VIII DPR Fraksi PDI Perjuangan, Wakil Ketua LTN PBNU, dan Ketua PP Baitul Muslimin Indonesia

ADA satu pemandangan yang selalu berulang setiap Iduladha. Di sudut kampung, anak-anak berdiri membawa kantong plastik. Wajah mereka berbinar. Orang-orang berkumpul. Pisau diasah. Takbir menggema. Bau rumput, tanah, dan hewan kurban bercampur menjadi aroma yang hanya datang setahun sekali. Lalu daging dibagikan. Selesai.

Sering kali kurban berhenti di sana. Sebatas seremoni tahunan. Sebatas ritual yang datang lalu pergi. Padahal mungkin kita perlu bertanya ulang apakah kurban hanya tentang membagikan daging? Ataukah sesungguhnya ia sedang mengajari manusia cara mengelola kepedulian?

Tahun ini muncul gagasan yang menarik perhatian publik. Presiden Prabowo Subianto meminta agar daging dam jamaah haji Indonesia yang dikelola di Arab Saudi dapat disalurkan untuk warga Palestina, khususnya Gaza yang menghadapi krisis kemanusiaan berkepanjangan.

Gagasan itu sederhana, tapi maknanya besar. Ibadah tidak berhenti pada altar spiritual. Ia bergerak menjadi jalan kemanusiaan. Namun di titik inilah muncul pertanyaan yang lebih dekat dengan rumah kita sendiri.

Jika daging dam bisa melintasi batas negara menuju Gaza, mungkinkah pengelolaan kurban dan dam juga dirancang lebih strategis untuk menjawab persoalan sosial di Indonesia?

Pertanyaan itu sesungguhnya bukan hal baru. Beberapa tahun terakhir, pengelolaan daging dam berkembang semakin modern. Tidak lagi sekadar dibagikan dalam bentuk segar, tetapi diolah menjadi pangan tahan lama seperti kornet atau makanan kaleng dengan masa simpan panjang.

Di Jawa Tengah, gagasan itu pernah dipraktikkan. Baznas Jawa Tengah, misalnya, mengembangkan pengelolaan daging dam menjadi produk olahan seperti kornet dan pangan kaleng yang dapat disimpan lebih lama. Dengan cara itu, manfaat daging dam tidak berhenti di hari pembagian.

Ia dapat bergerak lebih jauh. Menjangkau masyarakat rentan, memperkuat bantuan kebencanaan, menjangkau daerah rawan pangan. Bahkan membuka kemungkinan menjadi bagian intervensi gizi bagi kelompok yang membutuhkan.

Model seperti ini membuka kemungkinan besar. Kurban dan dam tidak hanya hadir sebagai bantuan sesaat. Tetapi menjadi bagian dari strategi sosial yang berkelanjutan. Di sinilah kita perlu membicarakan satu kata yang mungkin terdengar akademis, tetapi sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia: filantropi.

Filantropi adalah praktik memberi demi kebaikan bersama. Dan Indonesia sesungguhnya adalah bangsa filantropi. Laporan World Giving Index 2024 menempatkan Indonesia sebagai negara paling dermawan di dunia selama tujuh tahun berturut-turut dengan skor 74 poin.

Laporan yang disusun Charities Aid Foundation (CAF) itu juga mencatat sekitar 90 persen masyarakat Indonesia menyumbangkan uang untuk kegiatan sosial, sementara sekitar 65 persen terlibat dalam aktivitas kerelawanan. Angka-angka itu memperlihatkan satu hal. Bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan orang baik. Yang sering kurang adalah cara agar kebaikan bekerja lebih panjang.

Sosiolog Zygmunt Bauman pernah mengingatkan ironi manusia modern. Teknologi membuat manusia semakin terhubung. Informasi bergerak semakin cepat. Tetapi kepedulian tidak selalu tumbuh seiring perkembangan itu.

Manusia modern dapat dengan mudah menyaksikan penderitaan orang lain, namun tidak selalu bergerak melakukan sesuatu. Kita melihat begitu banyak, tapi kadang semakin sedikit merasakan. Di titik inilah filantropi menemukan relevansinya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Birokrasi dan Paradoks...
Birokrasi dan Paradoks Belanja Negara
Perang Iran: Dari Bertahan...
Perang Iran: Dari Bertahan Hidup Menjadi Pengatur Kawasan?
Mengapa ‘Ekonomi Solid’,...
Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Islam: Agama yang Paling...
Islam: Agama yang Paling Disalahpahami
World Giving Report...
World Giving Report 2026: Donasi Global Turun, Indonesia Bertahan di Atas Rata-rata Dunia
Milad ke-24, BSMI Komitmen...
Milad ke-24, BSMI Komitmen Kokohkan Pelayanan Kemanusiaan Bagi Indonesia dan Dunia
BOLT Berkurban: Satu...
BOLT Berkurban: Satu Momen, Seribu Kebaikan
Gerakan Kurbanlah Salurkan...
Gerakan Kurbanlah Salurkan Hewan Kurban untuk 3.000 Keluarga di Aceh
Lewat Program TJSL,...
Lewat Program TJSL, IFG Life Salurkan Hewan Kurban untuk Masyarakat
Rekomendasi
Gunung Merapi Erupsi,...
Gunung Merapi Erupsi, Guguran Lava Meluncur 2 Kilometer ke Arah Barat
PLN EPI Dorong UMKM...
PLN EPI Dorong UMKM Naik Kelas lewat Budidaya Madu Kelulut
Pengaktifan Kembali...
Pengaktifan Kembali Transit Lewat Selat Hormuz Mungkin Perlu Waktu Beberapa Pekan
Berita Terkini
Guntur Romli Tepis Tuduhan...
Guntur Romli Tepis Tuduhan BEM Bersatu: Kegilaan Logika Cocokologi yang Dipaksakan
Aliansi BEM Bersatu...
Aliansi BEM Bersatu Endus Dugaan Keterlibatan Politikus PDIP dalam Aksi Tolak MBG
Budiman Sesalkan Pembubaran...
Budiman Sesalkan Pembubaran Diskusi di UGM: Seharusnya Kita Bisa Berdialog dengan Sehat
Usai Temui Jokowi, IKA...
Usai Temui Jokowi, IKA BEM Nusantara Akan Bertemu Gibran, Bahas Apa?
Bonatua Silalahi Ungkap...
Bonatua Silalahi Ungkap Kejanggalan di Fotokopi Ijazah Jokowi: Tak Ada Tanggal Legalisir, Melanggar Peraturan
Digeruduk Mahasiswa...
Digeruduk Mahasiswa UGM saat Diskusi, Budiman Sudjatmiko: Kami Bersedia untuk Dikritik
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved