Perkebunan Kelapa Sawit Pasca-Covid-19

Selasa, 23 Juni 2020 - 06:41 WIB
loading...
A A A
Bagaimana Pasca-Covid-19?

Wabah Covid-19 belum hilang, dan potensi penularan masih tetap ada. Oleh karena itu, cara pengelolaan perkebunan sawit di masa mendatang mau tidak mau harus berubah. Perubahan atau perbaikan dalam pengelolaan perkebunan sawit di masa mendatang tidak semata-mata karena wabah Covid-19, namun lebih karena tuntutan pasar.

Kejadian wabah Covid-19 ini bisa menjadi pemicu agar perkebunan dipaksa berubah lebih cepat. Perkebunan sawit dituntut berubah lebih cepat karena tuntutan daya saing. Produk CPO dan turunan menghadapi situasi pasar yang makin kompetitif dan kompleks.

Kompetitif karena persaingan dengan minyak nabati lain seperti minyak kedelai, minyak rapeseed, minyak bunga matahari, dan lainnya yang berlomba-lomba merebut pasar di negara konsumen. Semakin kompleks karena perdagangan komoditas minyak nabati telah melibatkan kepentingan politik perdagangan sehingga perdagangan minyak sawit berhadapan dengan berbagai hambatan perdagangan yang diciptakan oleh negara produsen pesaing minyak sawit.

Menghadapi tantangan seperti ini, perkebunan kelapa sawit hanya punya satu pilihan, yaitu menjadi makin produktif dan efisien. Satu di antara yang menyebabkan minyak sawit unggul hingga saat ini adalah biaya produksinya yang murah karena produktivitas yang tinggi relatif dibanding minyak nabati lain, yaitu minyak sawit 3,94 ton minyak/ha/tahun, dibandingkan dengan minyak kedelai 0,53 ton minyak/ha/tahun, minyak rapeseed 0,79 ton minyak/ha/tahun, dan minyak bunga matahari 0,81 minyak/ha/tahun (Oil World, 2018).

Faktanya, minyak sawit menguasai berbagai pasar konsumen di Eropa, Amerika Serikat, Afrika, maupun Asia karena faktor murah. Buktinya, minyak sawit yang dihajar terus-menerus dengan isu negatif dan regulasi yang memberatkan, penggunaan minyak sawit terus meluas di berbagai penjuru dunia.

Namun, keunggulan komparatif ini tidak akan bisa terlalu lama dipertahankan. Biaya produksi minyak sawit terus meningkat dari tahun ke tahun. Biaya tenaga kerja (perkebunan sawit adalah padat karya) naik hampir 10% setiap tahun karena regulasi pengupahan di Indonesia. (Baca juga: Ombudsman ungkap Tiga Faktor Biaya Rapid Test Dikeluhkan)

Biaya produksi (pupuk, bahan bakar, dan mesin-mesin) juga mengalami kenaikan yang konsisten setiap tahun. Keunggulan dalam produktivitas tidak sejalan dengan kinerja biaya produksi. Biaya produksi minyak sawit di Indonesia berkisar di angka USD500-600/ton. Terjadi peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan biaya produksi 2015 yang berkisar USD355/ton (Laporan Tahunan Perusahaan Publik, 2015).

Jika dibandingkan dengan biaya produksi minyak nabati lain, perkebunan sawit kalah efisien. Sebagai contoh, biaya produksi minyak bunga matahari di Ukraina adalah USD163/ton, biaya produksi minyak rapeseed di Jerman USD234/ton, sedangkan minyak kedelai di Brasil USD -538/ton (James Fry, 2015). Biaya produksi minyak kedelai bisa minus karena memperhitungkan produk pakan (meal product) yang mempunyai nilai jual sehingga biaya produksinya bisa ditutup oleh produk pakan (minyak kedelai adalah produk samping dalam pengolahan biji kedelai).

Sementara harga komoditas di pasar global diprediksi cenderung menurun, paling tidak data selama 20 tahun menunjukkan harga komoditas sawit terus berfluktuasi. Pada 2019 harga sawit pernah mencapai USD494/ton, artinya di bawah biaya produksi. Perkebunan kelapa sawit harus segera menyesuaikan diri dengan situasi dan perkembangan pasar.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perang Iran 2026: Akhir...
Perang Iran 2026: Akhir Pertempuran, Awal Perebutan Kemenangan
Jalur Medan-Berastagi...
Jalur Medan-Berastagi Tak Lagi Memadai
Imam Shalat, Piala Dunia,...
Imam Shalat, Piala Dunia, dan Tempat Muktamar
Dear You dan Ketakutan...
Dear You dan Ketakutan yang Salah Arah
Badan Gizi Nasional...
Badan Gizi Nasional dan Reduksi Orkestrasi Pemenuhan Gizi
Pembangunan Tanpa Ekologi:...
Pembangunan Tanpa Ekologi: Keteledoran yang Harus Dibayar Mahal
10 Perusahaan Diduga...
10 Perusahaan Diduga Manipulasi Nilai Ekspor Sawit, Gapki Buka Suara
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Rencana Ekspor Sawit...
Rencana Ekspor Sawit melalui BUMN, POPSI: Jangan Mengulang Kesalahan BPPC
Rekomendasi
Kinerja Solid, Laba...
Kinerja Solid, Laba Bersih MSIN Melonjak 140% Jadi Rp985 Miliar di 2025
BPDP Dukung Jakarta...
BPDP Dukung Jakarta Fiscal Forum 2026, Perkuat Kolaborasi untuk Pembangunan Berkelanjutan
Rumah BUMN SIG di Rembang...
Rumah BUMN SIG di Rembang Catat Transaksi Rp6,9 Miliar
Berita Terkini
Pengadilan Negeri Jakarta...
Pengadilan Negeri Jakarta Timur Larang Siaran Langsung Sidang Dokter Tifa terkait Ijazah Jokowi
Mensesneg Jelaskan Maksud...
Mensesneg Jelaskan Maksud Prabowo terkait 4 Kali Kalah Pemilu Tak Ganggu Pemegang Mandat
Salam Prabowo Disampaikan...
Salam Prabowo Disampaikan Jumhur, Raja Charles Beri Pujian untuk Indonesia
Prabowo Singgung Pihak...
Prabowo Singgung Pihak Bikin Gaduh usai Pemilu: Kapan Kita Mau Menuju Kesejahteraan untuk Rakyat?
Ajukan Kasasi, Kuasa...
Ajukan Kasasi, Kuasa Hukum Harap MA Vonis Bebas Kerry Anak Riza Chalid
Jokowi Pede PSI Masuk...
Jokowi Pede PSI Masuk Parlemen Senayan di Pemilu 2029
Infografis
Daftar 19 Pemain Timnas...
Daftar 19 Pemain Timnas Futsal Indonesia di 4Nations World Series
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved