Pendidikan Islam dan Kebangkitan Nasional
Jum'at, 20 Mei 2022 - 16:48 WIB
loading...
A
A
A
Di sudut lain, pertikaian dan konflik politik dan sosial yang tidak berkesudahan di Timur Tengah dan belahan Afrika Utara (di mana basis pendidikan Islam berada) mencerminkan kegagalan transmisi nilai pendidikan Islam setempat dalam membangun perdamaian. Akibatnya, dalam banyak hal wajah pendidikan Islam secara umum masih dekat dan asosiatif dengan pandangan konservatvisme hingga ektremisme.
Kedua, kampanye moderatisme (washatiyah) menjadi sarana efektif untuk memperkuat dan menjaga identitas asali pendidikan Islam Indonesia. Upaya ini menjadi penting karena pendidikan dalam semua jenisnya dalah entitas yang menghadapi demikian banyak disrupsi dan perkembangan yang ada. Contohnya, dengan perkembangan falsafah pendidikan yang terlalu mengedepankan kecanggihan teknologi sebagai dampak upaya bangkit dari distraksi sosial, pendidikan dapat kehilangan ruhnya untuk pertama sekali mementingkan persona (individu), bukan pada materia (barang atau sarana). Moderatisme menekankan pentingnya sikap berada di tengah dan penghargaan terhadap lokalitas.
Ketiga, pengarusutamaan (mainstreaming) kebangkitan pendidikan bercirikan Islam Indonesia. Jika selama ini jejak pendidikan yang bercirikan Islam Indonesia tidak menjadi hitungan utama dalam literatur pendidikan Islam dunia, langkah internasionalisasi dan penguatan moderasi beragama secara internal tersebut akan menjadi jawaban tegasnya. Mona Abaza saat menerangkan lema “Madrasah” dalam The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World terlihat ragu dan tidak eksplisit mengeksplorasi khazanah pendidikan Islam Indonesia, alih-alih menyebutnya sebagai bagian dari perkembangan madrasah di Malaysia (Kedah dan Kelantan) dan Thailand bagian Selatan (Pattani).
Pandangan Mona Abaza seperti cerminan betapa pendidikan Islam Indonesia memang masih jauh dari idealitas pengakuan dengan kiprah yang diaminkan publik internasional. Momentum Hari Kebangkitan Nasional sepatutnya menjadi energi positif bagi insan pendidikan Islam untuk menjadi daya dorong menuju kemajuan bersama.
Baca selengkapnya di e-paper koran-sindo.com
Kedua, kampanye moderatisme (washatiyah) menjadi sarana efektif untuk memperkuat dan menjaga identitas asali pendidikan Islam Indonesia. Upaya ini menjadi penting karena pendidikan dalam semua jenisnya dalah entitas yang menghadapi demikian banyak disrupsi dan perkembangan yang ada. Contohnya, dengan perkembangan falsafah pendidikan yang terlalu mengedepankan kecanggihan teknologi sebagai dampak upaya bangkit dari distraksi sosial, pendidikan dapat kehilangan ruhnya untuk pertama sekali mementingkan persona (individu), bukan pada materia (barang atau sarana). Moderatisme menekankan pentingnya sikap berada di tengah dan penghargaan terhadap lokalitas.
Ketiga, pengarusutamaan (mainstreaming) kebangkitan pendidikan bercirikan Islam Indonesia. Jika selama ini jejak pendidikan yang bercirikan Islam Indonesia tidak menjadi hitungan utama dalam literatur pendidikan Islam dunia, langkah internasionalisasi dan penguatan moderasi beragama secara internal tersebut akan menjadi jawaban tegasnya. Mona Abaza saat menerangkan lema “Madrasah” dalam The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World terlihat ragu dan tidak eksplisit mengeksplorasi khazanah pendidikan Islam Indonesia, alih-alih menyebutnya sebagai bagian dari perkembangan madrasah di Malaysia (Kedah dan Kelantan) dan Thailand bagian Selatan (Pattani).
Pandangan Mona Abaza seperti cerminan betapa pendidikan Islam Indonesia memang masih jauh dari idealitas pengakuan dengan kiprah yang diaminkan publik internasional. Momentum Hari Kebangkitan Nasional sepatutnya menjadi energi positif bagi insan pendidikan Islam untuk menjadi daya dorong menuju kemajuan bersama.
Baca selengkapnya di e-paper koran-sindo.com
(bmm)
Lihat Juga :