Hoaks dan Defisit Kesalehan Digital
Rabu, 11 Mei 2022 - 20:50 WIB
loading...
A
A
A
Kenyataan tiadanya korelasi antara keduanya dapat dilihat, misalnya, dari para pelanggar rambu lalulintas yang berakibat pada tingginya angka kecelakaan di jalan raya; tingginya tingkat kriminalitas seperti pencurian, perampasan, penjembretan, penipuan, pembunuhan hingga intoleransi/konflik sosial dan tawuran antarwarga. Belum lagi jika kita mencermati jagat media sosial yang dipenuhi dengan ujaran kebencian (hate-speech), perundungan, penipuan hingga berita bohong alias hoaks. Melihat realitas semacam ini, etika warga net (netizen) kita masih jadi tanda tanya besar.
Terkait dengan etika warganet kita, konon Indonesia dogolongkan sebagai negara paling tidak beradab se-Asia. Realitas ini tecermin dari hasil survei yang dilakukan oleh Microsoft pada tahun 2021 dengan data survei tahun 2020. Microsoft mengeluarkan Indeks Keadaban Digital (Digital Civility Index/DCI) yang menilai perilaku pengguna internet dari 32 negara di dunia. Dalam laporan mereka, warganet Indonesia merupakan pengguna internet dengan tingkat keadaban paling buruk no 29 di dunia dan terburuk di Asia. Kita hanya lebih baik dari Meksiko, Rusia dan Afrika Selatan. Sementara itu, Singapura dan Taiwan merupakan dua negara di Asia Pasifik dengan tingkat keadaban digital tertinggi di dunia.
Di antara sekian perilaku ketidakadaban digital, pembuatan berita bohong (hoaks) merupakan kejahatan yang paling sering serius di dunia maya. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), sepanjang 2021 terdapat 5.311 hoaks tentang yang beredar di jagat digital kita. Data lain yang dikeluarkan oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) menemukan 9.545 ujaran kebencian terhadap kelompok minoritas tertentu di negeri ini (Syiah, Ahmadiyah, dan Tionghoa).
Sebagai Langkah antisipasi, sepanjang tahun 2021 Kementerian Kominfo telah melakukan pemutusan akses terhadap 565.449 konten negatif dan melakukan debunking atau penerbitan klarifikasi terhadap 1.773 misinformasi dan disinformasi yang beredar di masyarakat.
Hoaks yang berisi fitnah atau pembunuhan karakter (character assassination) dan ujaran kebencian dengan tema agama menjadi tantangan paling serius bagi bangsa paling majemuk seperti Indonesia. Dengan tingkat literasi digital yang masih rendah, ditambah sentimen primordial yang tinggi, hoaks semacam ini akan menjadi penyulut pembelahan dan konflik sosial yang paling efektif. Pembelahan sosial yang menyertai Pilkada DKI Jakarta 2017 menjadi bukti paling gamblang tentang bekerjanya hoaks di ruang publik.
Kebangkrutan Hakiki
Hoaks paling mutakhir dengan muatan agama dapat dijumpai, misalnya, pada berita tentang pembatalan haji dan dananya akan digunakan untuk pembangunan IKN Nusantara. Kabar tersebut disebarkan oleh salah satu akun Facebook pada 30 Maret 2022. Setelah dilakukan cek fakta oleh serjumlah pihak, berita tersebut ternyata tidak benar yang sengaja dibuat untuk mendiskreditkan Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas, beserta jajarannya.
Terkait dengan etika warganet kita, konon Indonesia dogolongkan sebagai negara paling tidak beradab se-Asia. Realitas ini tecermin dari hasil survei yang dilakukan oleh Microsoft pada tahun 2021 dengan data survei tahun 2020. Microsoft mengeluarkan Indeks Keadaban Digital (Digital Civility Index/DCI) yang menilai perilaku pengguna internet dari 32 negara di dunia. Dalam laporan mereka, warganet Indonesia merupakan pengguna internet dengan tingkat keadaban paling buruk no 29 di dunia dan terburuk di Asia. Kita hanya lebih baik dari Meksiko, Rusia dan Afrika Selatan. Sementara itu, Singapura dan Taiwan merupakan dua negara di Asia Pasifik dengan tingkat keadaban digital tertinggi di dunia.
Di antara sekian perilaku ketidakadaban digital, pembuatan berita bohong (hoaks) merupakan kejahatan yang paling sering serius di dunia maya. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), sepanjang 2021 terdapat 5.311 hoaks tentang yang beredar di jagat digital kita. Data lain yang dikeluarkan oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) menemukan 9.545 ujaran kebencian terhadap kelompok minoritas tertentu di negeri ini (Syiah, Ahmadiyah, dan Tionghoa).
Sebagai Langkah antisipasi, sepanjang tahun 2021 Kementerian Kominfo telah melakukan pemutusan akses terhadap 565.449 konten negatif dan melakukan debunking atau penerbitan klarifikasi terhadap 1.773 misinformasi dan disinformasi yang beredar di masyarakat.
Hoaks yang berisi fitnah atau pembunuhan karakter (character assassination) dan ujaran kebencian dengan tema agama menjadi tantangan paling serius bagi bangsa paling majemuk seperti Indonesia. Dengan tingkat literasi digital yang masih rendah, ditambah sentimen primordial yang tinggi, hoaks semacam ini akan menjadi penyulut pembelahan dan konflik sosial yang paling efektif. Pembelahan sosial yang menyertai Pilkada DKI Jakarta 2017 menjadi bukti paling gamblang tentang bekerjanya hoaks di ruang publik.
Kebangkrutan Hakiki
Hoaks paling mutakhir dengan muatan agama dapat dijumpai, misalnya, pada berita tentang pembatalan haji dan dananya akan digunakan untuk pembangunan IKN Nusantara. Kabar tersebut disebarkan oleh salah satu akun Facebook pada 30 Maret 2022. Setelah dilakukan cek fakta oleh serjumlah pihak, berita tersebut ternyata tidak benar yang sengaja dibuat untuk mendiskreditkan Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas, beserta jajarannya.