Gimik Berbahasa dan Emosionalisme Temporer

Sabtu, 22 Januari 2022 - 08:12 WIB
loading...
A A A
Mereka pelaku tangguh berbahasa jika konsisten dan kontinu membenahi karut-marut berbahasa Indonesia. Tetapi menjadi pecundang berbahasa jika terseret semangat “sisipus”. Kita tunggu lentik gagasan lanjut. Seberapa garangkah mereka bertualang bahasa demi adab, entitas, dan identitas tegaknya bahasa Indonesia yang sah menyandang gelar Bahasa Nasional? Janganlah terbuai “sisipus berbahasa”.

Bahasa (Indonesia) menjadi cermin cara berpikir bangsa. Bahasa cermin bangsa. Warisan pikir ini menjadi konyol jika dibenturkan penggunaan bahasa Indonesia yang selalu dipagari frasa “yang baik dan yang benar”. Mengapa mereka harus mengeluh? Keprihatinan berbahasa Indonesia yang dipaparkannya menjadi kurang bernas jika hanya mandek sebatas paparan. Sekadar lempar handuk. Keprihatinan tersebut justru menggiring salah kaprah berbahasa.

Benturkan dengan sanggahan ini 1) tidak ada penggunaan bahasa Indonesia yang sekaligus merengkuh “yang baik dan yang benar”; 2) tidak boleh menghakimi penggunaan bahasa Indonesia yang dianggap salah di media jejaring sosial; 3) tidak perlu menggubris penggunaan bahasa gaya artis, presenter, master of ceremony, atau penyiar; 4) tidak perlu menggugat ragam bahasa iklan, baliho, atau nama-nama penyedia jasa transportasi; 5) lalu benarkah penggunaan adonan kosakata asing dalam bahasa kita akan mengacaukan gaya berbahasa dan membuat tidak jelas mental bangsa? dan 6) bukankah setiap media tertentu sudah mamatok kebahasaannya dengan etiket selingkung?

Sanggahan tersebut menjadi sirna jika kita mau memilah dua kutub. Pertama, yang manakah dibenarkan secara lisan? Kedua, yang manakah dibakukan secara tulisan. Secara aturan, berbahasa secara lisan jelas berbeda dengan berbahasa secara tertulis. Bahasa Indonesia lisan tidak mengharuskan hukum atau kaidah kebakuan. Kelisanan justru membutuhkan unsur komunikatif.

Penutur dan mitra tutur hanya memerlukan tahu sama tahu, sepaham. Lain halnya dengan keberaksaraan tertulis yang wajib ilmiah. Keilmiahan ini pun masih memerlukan aturan sistematika, hukum tata bahasa, dan gaya selingkung dunia tulis. Tentunya, ejaan bahasa Indonesia dan kosakata baku wajib dipenuhi. Dua kutub berbahasa ini harus diartikan berbeda. Jika kita selalu memaksakan memadunya, akan selalu muncul keluhan klasik.

Sesungguhnya penutur bahasa Indonesia sudah tergolong orang-orang yang peka berbahasa. Mereka sudah menyandang identitas intelek-bahasa. Tetapi gelar kepekaan berbahasa menjadi lumpuh disebabkan tiada kontinuitas praktik yang memadai. Laku lisan untuk ajang diskusi tidak dimaksimalkan berdiskusi. Diskusi digiring ke gojegan. Kapan kita bisa bertutur dengan baik? Demikian juga, ragam tulis tidak dimaksimalkan ke tulisan populer atau karya ilmiah.

Kelemahan ini memudahkan penutur menjadi beo dari sosok yang diluncurkan media massa, baik cetak maupun elektronik. Tahan berapa lama kids jaman now? Hancur sudah ekspresivitas frasa “sesuatu banget” Syahrini atau gaya main diksi Vicky Prasetyo yang heboh menjejerkan kata serapan, tetapi kontra-arti pada waktu silam.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Aksara Bali Harus Tetap...
Aksara Bali Harus Tetap Hidup dan Berkembang di Era Digital
Menjadikan Bahasa Indonesia...
Menjadikan Bahasa Indonesia Keren Lagi
Makna Kata Nebeng yang...
Makna Kata Nebeng yang Lagi Ramai Diperbincangkan
5 Kata Ini Tidak Perlu...
5 Kata Ini Tidak Perlu Menggunakan Huruf H, Apa Saja?
Simak, 5 Istilah Sepak...
Simak, 5 Istilah Sepak Bola dalam Bahasa Indonesia: Nirbobol hingga Trigol
Ternyata Ini Faktor...
Ternyata Ini Faktor Penyebab Keberagaman Masyarakat Indonesia
Sahur atau Saur? Ini...
Sahur atau Saur? Ini 10 Kata Baku Seputar Ramadan dengan Penulisan Sesuai KBBI
Sejarah dan Perkembangan...
Sejarah dan Perkembangan KBBI: Dari Kamus Cetak hingga 210 Ribu Entri Digital
Beda Arti Husnul dan...
Beda Arti Husnul dan Khusnul Khatimah, Awas Jangan Keliru Mengucapkannya!
Rekomendasi
Anggota DPRD Jakarta...
Anggota DPRD Jakarta Sebut Flyover Latumenten Bisa Kurangi Macet 40%
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga dan KKP Perkuat Penyediaan Energi bagi Nelayan
RCTI Rilis Sinetron...
RCTI Rilis Sinetron 'Terlanjur Mencintaimu', Chicco Jerikho dan Marsha Aruan Siap Bikin Baper
Berita Terkini
Pakar Hukum Tegaskan...
Pakar Hukum Tegaskan Karya Jurnalistik Tak Bisa Dijadikan Barang Bukti Persidangan Dokter Tifa
Di Rakernas APEKSI,...
Di Rakernas APEKSI, Menko AHY: Wali Kota Adalah Duta Terbaik untuk Tarik Investasi dan Layani Rakyat Perkotaan
KPK Tahan Tersangka...
KPK Tahan Tersangka Kasus Suap Audit BPK di Muara Enim
1 Abad Kelahiran Rahmi...
1 Abad Kelahiran Rahmi Hatta Momen Refleksi Nilai Keteladanan bagi Generasi Muda
Menhut Raja Juli Bakal...
Menhut Raja Juli Bakal Kooperatif soal Pengusutan Kasus Bupati Kuansing
Presiden Lukashenko...
Presiden Lukashenko Sebut Indonesia Mitra Penting Belarus di Asia Tenggara
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved