Optimisme Menjaga Peluang 2022
Senin, 10 Januari 2022 - 09:53 WIB
loading...
A
A
A
Bank Sentral AS telah mengurangi stimulus atautapering offsejak November 2021. Selanjutnya, hal tersebut akan berdampak bagi Indonesia sebagai emerging market. Berdasarkan riset yang dipublikasikan oleh Nomura Research Institute, Indonesia masuk dalam daftar 10 negara rentan terdampak bersama Brasil, Kolombia, Chili, Peru, Hungaria, Rumania, Turki, Afrika Selatan, dan Filipina jikatapering offdilakukan.
Sejatinya tak dapat dipungkiri, bahwa tapering off yang pernah dilakukan The Fed pada 2013 terbukti memicutaper tantrum, yaitu sebuah keadaan gejolak pasar keuangan ketika The Fed mengetatkan kebijakan moneternya. Investasi asing yang saat itu mendominasi pasar modal Indonesia pun menarik uang mereka dan memutuskan untuk menaruh dana di pasar modal Amerika Serikat karena dianggap lebih menarik. Oleh sebab itu, Indonesia perlu mempersiapkan diri untuk mampu menjawab tantangan tersebut agar dampaktapering offThe Fed tidak akan seberat yang pernah terjadi pada 2013 silam.
Secara umum, kondisi pemulihan ekonomi Indonesia saat ini termasuk dalam kategori cukup kuat. Salah satunya terindikasi dari neraca perdagangan Indonesia yang terus mengalami surplus selama 19 bulan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia sejak Januari 2021 – November 2021 tercatat surplus USD34 miliar, atau 19 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Selain itu, nilai ekspor Indonesia naik 49,7% (yoy) per November 2021, dan impor yang termasuk bahan baku penolong, juga naik 52,6%. Hal ini terjadi seiring dengan masih meningkatnya permintaan global dan kenaikan harga komoditas dunia.
Kenaikan harga komoditas dunia justru lebih banyak menguntungkan Indonesia karena ekspor akan meningkat. Kendati sejauh ini kinerja ekspor mulai menunjukkan tren positif, tantangan Indonesia terhadap ekspor pada 2022 patut diperhatikan. Surplus yang dinikmati Indonesia sepanjang pandemi terjadi akibat kontraksi impor yang lebih dalam dari pada ekspor. Jika ekonomi nasional pulih secara penuh pada 2022, maka impor bisa kembali ke level pada 2019. Oleh sebab itu, bila kita terus memiliki kinerja ekspor yangsama dengan2021,maka Indonesia tidak akan mampu mencapai surplusperdagangan sebesar tahun 2020 atau pun 2021.
Kini, salah satu cara untuk mendongkrak penerimaan ekspor pada 2022 adalah dengan meningkatkan ekspor manufaktur, seperti otomotif, pakaian dan alas kaki, serta furnitur. Selain itu, ekspor produk berbasis komoditas juga perlu ditingkatkan demi memastikan pertumbuhan ekspor bisa lebih tinggi dibandingkan dengan potensi pertumbuhan impor bahan baku atau penolong dan barang modal pada 2022.
2022 adalahgolden momentbagi Indonesia untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang optimal, sebelum agenda politik menjadi perhatian besar setahun setelahnya, menjelang tahun politik 2024. Meskipun baru akan digelar pada 2024, proses awal pemilu memang akan digelar setidaknya dalam kurun lebih 20 bulan sebelum pelaksanaannya. Artinya, 2022 memang akan menjadi awal berputarnya roda proses pesta demokrasi.Oleh sebab itu, sebelum tensi politik semakin memanas, maka produksi dan ekspor perlu terus ditingkatkan untuk mampu mencapai pertumbuhan ekonomi yang optimal. Selain itu, kondisi tersebut juga akan merangsang dunia usaha tumbuh dan kompetitif untuk bersaing di kancah global.
Langkah Ekonomi 2022
Sejatinya tak dapat dipungkiri, bahwa tapering off yang pernah dilakukan The Fed pada 2013 terbukti memicutaper tantrum, yaitu sebuah keadaan gejolak pasar keuangan ketika The Fed mengetatkan kebijakan moneternya. Investasi asing yang saat itu mendominasi pasar modal Indonesia pun menarik uang mereka dan memutuskan untuk menaruh dana di pasar modal Amerika Serikat karena dianggap lebih menarik. Oleh sebab itu, Indonesia perlu mempersiapkan diri untuk mampu menjawab tantangan tersebut agar dampaktapering offThe Fed tidak akan seberat yang pernah terjadi pada 2013 silam.
Secara umum, kondisi pemulihan ekonomi Indonesia saat ini termasuk dalam kategori cukup kuat. Salah satunya terindikasi dari neraca perdagangan Indonesia yang terus mengalami surplus selama 19 bulan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia sejak Januari 2021 – November 2021 tercatat surplus USD34 miliar, atau 19 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Selain itu, nilai ekspor Indonesia naik 49,7% (yoy) per November 2021, dan impor yang termasuk bahan baku penolong, juga naik 52,6%. Hal ini terjadi seiring dengan masih meningkatnya permintaan global dan kenaikan harga komoditas dunia.
Kenaikan harga komoditas dunia justru lebih banyak menguntungkan Indonesia karena ekspor akan meningkat. Kendati sejauh ini kinerja ekspor mulai menunjukkan tren positif, tantangan Indonesia terhadap ekspor pada 2022 patut diperhatikan. Surplus yang dinikmati Indonesia sepanjang pandemi terjadi akibat kontraksi impor yang lebih dalam dari pada ekspor. Jika ekonomi nasional pulih secara penuh pada 2022, maka impor bisa kembali ke level pada 2019. Oleh sebab itu, bila kita terus memiliki kinerja ekspor yangsama dengan2021,maka Indonesia tidak akan mampu mencapai surplusperdagangan sebesar tahun 2020 atau pun 2021.
Kini, salah satu cara untuk mendongkrak penerimaan ekspor pada 2022 adalah dengan meningkatkan ekspor manufaktur, seperti otomotif, pakaian dan alas kaki, serta furnitur. Selain itu, ekspor produk berbasis komoditas juga perlu ditingkatkan demi memastikan pertumbuhan ekspor bisa lebih tinggi dibandingkan dengan potensi pertumbuhan impor bahan baku atau penolong dan barang modal pada 2022.
2022 adalahgolden momentbagi Indonesia untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang optimal, sebelum agenda politik menjadi perhatian besar setahun setelahnya, menjelang tahun politik 2024. Meskipun baru akan digelar pada 2024, proses awal pemilu memang akan digelar setidaknya dalam kurun lebih 20 bulan sebelum pelaksanaannya. Artinya, 2022 memang akan menjadi awal berputarnya roda proses pesta demokrasi.Oleh sebab itu, sebelum tensi politik semakin memanas, maka produksi dan ekspor perlu terus ditingkatkan untuk mampu mencapai pertumbuhan ekonomi yang optimal. Selain itu, kondisi tersebut juga akan merangsang dunia usaha tumbuh dan kompetitif untuk bersaing di kancah global.
Langkah Ekonomi 2022