Mengenang Tokoh dan Buku
Sabtu, 30 Oktober 2021 - 06:47 WIB
loading...
A
A
A
Pak Kasur lahir di Banyumas, 26 Juli 1912. Ia bersekolah cuma sampai MULO di Purwokerto. Gairah belajar tak ingin terhenti, ia memilih berpindah ke Yogyakarta dengan menjadi guru di HIS Ardjoena School. Pengabdian sebagai guru mengantarkan ia melanjutkan studi keguruan di Bandung. Niat belajar tak bisa dihentikan oleh uang atau penjajahan. Pak Kasur ingin membuktikan bahwa pendidikan adalah pijakan peradaban. (hlm. 96)
baca juga: Pergulatan Batin Seorang Amir Hamzah
Dedikasi Pak Kasur mengejawantahkan nilai pendidikan awet dalam lelagu. Lagu itu penting menemani perkembangan kognitif dan ragawi bocah. Para bocah merasa riang gembira di hadapan lagu-lagu. Dunia bocah bertabur ajakan lagu mengandung ajakan sinau. Senandung mengalun mengalirkan gagasan dan adab luhur. Perlahan-lahan bocah diminta mengerti-memahami hidup lewat lagu. Kehadiran lagu memberi rangsang pembelajaran dan kepekaan sosial.
Sayangnya, ikhtiar Pak Kasur terlupa selama puluhan tahun atau berada di tepian sejarah. BM memposisikan Pak Kasur dalam melihat perkembangan pendidikan dan mengerti gelagat pembentukan karakter mutakhir. Pendidikan karakter adalah slogan apik, tapi nyatanya belum memunculkan tanda-tanda keberhasilan atau signifikasi.
Patokan-patokan telanjur dibuat. “Kurikulum pembelajaran untuk bocah,” tulis BM, “mulai terbebani oleh pamrih ‘kepintaran’ atau ‘kecerdasan’ tapi menepikan pendidikan karakter-budi pekerti. Pak Kasur adalah teladan di dunia pendidikan Indonesia meski hampir terlupakan”. Pak Kasur masih pantas diingat-dikenang dalam kelindan lagu, anak, dan pendidikan di Indonesia.
baca juga: Atas Nama Jenama dan Jemawa Proyek
Kita bergeser saja ke pengisahan Selo Soemardjan (Mardjan). Pembelajar sosial jelas durhaka bila tak hafal dan mengenal Selo Soemardjan, berikut karangan-karangannya. Nama itu penting, tak pantas dilupakan dalam jagat ilmu sosial di Indonesia. Pada usia 19 tahun, Mardjan bekerja sebagai abdi dalem di Kasultanan Yogyakarta. Pengabdian bermula dari tingkatan paling rendah: juru ketik. Selain belajar tata pemerintahan, ia rupanya juga belajar dan melakukan pengamatan atas perubahan sosial-kultural masyarakat.
Pada usia 40 tahun, Mardjan pergi ke Universitas Cornell untuk berkuliah, mengambil studi sosiologi. Program doktoral beres ditempuh pada 1959 dan melahirkan disertasi fenomenal berjudul Social Changes in Jogjakarta. Buku itu terbit dalam bahasa Indonesia berjudul Perubahan Sosial di Yogyakarta (1981), dicetak UGM Press. Kini, kita juga menjumpai edisi terbitan Komunitas Bambu (2009).
Doktor sosiologi pertama di Indonesia itu merasa wajib mengajarkan ilmu sosiologi. Pengajaran turut disampaikan dalam karangan-karangan berwujud buku. Penerbitan seperti mengemban misi ajakan untuk belajar gagasan-gagasan kunci sosiologi dari para pemikir-intelektual dunia. Buku Setangkai Bunga Sosiologi, satu di antaranya.
baca juga: Agenda Lelah Pengulik Sastra Akademis
Soerjono Soekanto dalam buku diktat laris-manis sepanjang masa berjudul Sosiologi: Suatu Pengantar (1982) mencatat peran Selo Soemardjan, “bersama Soelaeman Soemardi, pengarang yang sama telah menghimpun bagian-bagain dari text book ilmu sosiologi dalam bahasa Inggris yang disertai dengan pengantar ringkas dalam bahasa Indonesia. Buku yang berjudul Setangkai Bunga Sosiologi itu diterbitkan pada 1964 dan dipakai sebagai bacaan wajib pada beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta”.
Buku itu beredar pada masa revolusi belum diharap padam. Buku pun bersejarah dalam penerbitan buku-buku sosiologi di Indonesia. Soerjono Soekanto tak memberi tanggapan atau komentar mengenai judul. BM justru berseloroh, “Judul agak puitis untuk buku berisi teks-teks sosiologi berbahasa Inggris”.
baca juga: Pergulatan Batin Seorang Amir Hamzah
Dedikasi Pak Kasur mengejawantahkan nilai pendidikan awet dalam lelagu. Lagu itu penting menemani perkembangan kognitif dan ragawi bocah. Para bocah merasa riang gembira di hadapan lagu-lagu. Dunia bocah bertabur ajakan lagu mengandung ajakan sinau. Senandung mengalun mengalirkan gagasan dan adab luhur. Perlahan-lahan bocah diminta mengerti-memahami hidup lewat lagu. Kehadiran lagu memberi rangsang pembelajaran dan kepekaan sosial.
Sayangnya, ikhtiar Pak Kasur terlupa selama puluhan tahun atau berada di tepian sejarah. BM memposisikan Pak Kasur dalam melihat perkembangan pendidikan dan mengerti gelagat pembentukan karakter mutakhir. Pendidikan karakter adalah slogan apik, tapi nyatanya belum memunculkan tanda-tanda keberhasilan atau signifikasi.
Patokan-patokan telanjur dibuat. “Kurikulum pembelajaran untuk bocah,” tulis BM, “mulai terbebani oleh pamrih ‘kepintaran’ atau ‘kecerdasan’ tapi menepikan pendidikan karakter-budi pekerti. Pak Kasur adalah teladan di dunia pendidikan Indonesia meski hampir terlupakan”. Pak Kasur masih pantas diingat-dikenang dalam kelindan lagu, anak, dan pendidikan di Indonesia.
baca juga: Atas Nama Jenama dan Jemawa Proyek
Kita bergeser saja ke pengisahan Selo Soemardjan (Mardjan). Pembelajar sosial jelas durhaka bila tak hafal dan mengenal Selo Soemardjan, berikut karangan-karangannya. Nama itu penting, tak pantas dilupakan dalam jagat ilmu sosial di Indonesia. Pada usia 19 tahun, Mardjan bekerja sebagai abdi dalem di Kasultanan Yogyakarta. Pengabdian bermula dari tingkatan paling rendah: juru ketik. Selain belajar tata pemerintahan, ia rupanya juga belajar dan melakukan pengamatan atas perubahan sosial-kultural masyarakat.
Pada usia 40 tahun, Mardjan pergi ke Universitas Cornell untuk berkuliah, mengambil studi sosiologi. Program doktoral beres ditempuh pada 1959 dan melahirkan disertasi fenomenal berjudul Social Changes in Jogjakarta. Buku itu terbit dalam bahasa Indonesia berjudul Perubahan Sosial di Yogyakarta (1981), dicetak UGM Press. Kini, kita juga menjumpai edisi terbitan Komunitas Bambu (2009).
Doktor sosiologi pertama di Indonesia itu merasa wajib mengajarkan ilmu sosiologi. Pengajaran turut disampaikan dalam karangan-karangan berwujud buku. Penerbitan seperti mengemban misi ajakan untuk belajar gagasan-gagasan kunci sosiologi dari para pemikir-intelektual dunia. Buku Setangkai Bunga Sosiologi, satu di antaranya.
baca juga: Agenda Lelah Pengulik Sastra Akademis
Soerjono Soekanto dalam buku diktat laris-manis sepanjang masa berjudul Sosiologi: Suatu Pengantar (1982) mencatat peran Selo Soemardjan, “bersama Soelaeman Soemardi, pengarang yang sama telah menghimpun bagian-bagain dari text book ilmu sosiologi dalam bahasa Inggris yang disertai dengan pengantar ringkas dalam bahasa Indonesia. Buku yang berjudul Setangkai Bunga Sosiologi itu diterbitkan pada 1964 dan dipakai sebagai bacaan wajib pada beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta”.
Buku itu beredar pada masa revolusi belum diharap padam. Buku pun bersejarah dalam penerbitan buku-buku sosiologi di Indonesia. Soerjono Soekanto tak memberi tanggapan atau komentar mengenai judul. BM justru berseloroh, “Judul agak puitis untuk buku berisi teks-teks sosiologi berbahasa Inggris”.
Lihat Juga :