Marwan Jafar: WHO Harus Transparan soal Pandemi Corona

Selasa, 02 Juni 2020 - 14:46 WIB
loading...
Marwan Jafar: WHO Harus...
Anggota DPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Marwan Jafar. Foto/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Sejak pandemi virus Corona (Covid-19) melanda hampir semua negara di dunia, termasuk Indonesia pada awal 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mulai menjadi objek perbincangan masyarakat internasional.

Perbincangan dalam konteks penanganan nasib kaum buruh migran yang secara organisasi ditangani oleh ILO yang sama-sama di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Organisasi yang bertindak sebagai koordinator kesehatan umum internasional PBB dan bermarkas di Jenewa,Swiss ini menuai kritik pedas terkait penanganan kaum buruh migran yang terdampak pandemi Covid-19 di zona merah.

Anggota DPR dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Marwan Jafar mengatakan, WHO perlu memberikan penjelasan kepada negara dan rakyat Indonesia secara terbuka, jujur dan penuh tanggung jawab dalam sebuah forum di parlemen Indonesia terkait beberapa isu kontroversial dan krusial.

Isu krusial yang dimaksud adalah pandemi Covid-19 dan dampak yang ditimbulkan, baik sosial, ekonomi dan resistensi keamanan dan turbulansi politik. "Ini perlu agar keberadaan WHO kembali mendapatkan kepercayaan dari masyarakat internasional, khususnya dari negara-negara anggota PBB," ujar Marwan Jafar dalam keterangan tertulis kepada SINDOnews, Selasa (2/6/2020).

Menurut Koordinator Independent Community for Peace and Hummanity ini, beberapa isu kontroversial dan krusial yang harus segera mendapatkan klarifikasi dari WHO antara lain, pertama, WHO perlu memberi penjelasan secara detail penanganan nasib kaum buruh migran yang terdampak Covid-19 maupun strategi penyelesaian dan solusi pasca pandemi agar mereka dapat bekerja kembali.

Data ILO, sebanyak 3,8 juta - 4 juta buruh migran Indonesia bekerja di luar negeri. Mereka kebanyakan berprofesi sebagai pekerja rumah tangga. Tujuan mereka masih ke negara-negara seperti Malaysia, Taiwan, Hong Kong, Singapura, dan Arab Saudi.

Sebanyak 94.064 tenaga kerja Indonesia (TKI) bekerja di Malaysia, Taiwan ada 59.367, Hong Kong sebanyak 36.135, Singapura mencapai 32.394, dan Saudi Arabia yakni 27.859. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan, sebagaimana pernyataan AY Bonasahat, Koordinator Proyek Nasional ILO.

Kelompok rentan ini, kata Marwan, harus mendapat perhatian ekstra dari negara. Karena, data dari Dana Kependudukan PBB (UNFPA) untuk Indonesia melalui UNFPA Representative, seperti pernyataan Jose Ferrari, Indonesia menempati peringkat ke-2 sebagai negara yang paling banyak terjadi perdagangan manusia. Sekitar 70 persen korban perdagangan manusia berawal dari pengiriman TKI ilegal ke luar negeri. ( )

Data terakhir menunjukkan, sebanyak 90,3 persen dari korban trafficking adalah perempuan. Dari jumlah tersebut, 23,6 persennya adalah anak-anak yang merupakan kelompok rentan terhadap kekerasan.
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Mengikutsertakan Taiwan...
Mengikutsertakan Taiwan dalam Jaringan Keselamatan Kesehatan Global
Pentingnya Taiwan Menghadapi...
Pentingnya Taiwan Menghadapi Pandemi di Masa Depan
Antara Telur dan Tembakau
Antara Telur dan Tembakau
WHO Cabut Status Darurat...
WHO Cabut Status Darurat Covid-19, Wapres Imbau Masyarakat Tetap Waspada
Bangkit Kembali dari...
Bangkit Kembali dari Bencana: Mengapa Indonesia Harus Terus Mengimunisasi Setiap Anak?
WHO Nyatakan Pandemi...
WHO Nyatakan Pandemi Covid-19 Berakhir, Pemerintah Siapkan Masa Transisi ke Endemi
Cerita Jokowi soal WHO...
Cerita Jokowi soal WHO Bingung Saat Awal Pandemi Covid-19
Indonesia Masuk Fase...
Indonesia Masuk Fase Endemi, Satgas Covid-19: Pencabutan Status Tunggu WHO
Prabowo Teken Kesepakatan...
Prabowo Teken Kesepakatan dengan WHO Bentuk Pusat Pelatihan Medis Darurat di Unhan RI
Rekomendasi
Penampakan Malioboro...
Penampakan Malioboro Diserbu Wisatawan saat Libur Lebaran, Pejalan Kaki Sulit Melangkah
Trump pada Warga AS:...
Trump pada Warga AS: Revolusi Ekonomi Perlu Pengorbanan
Awasi Efek Lanjutan...
Awasi Efek Lanjutan Tarif AS, Baja Impor Bisa Membanjiri Pasar RI
Berita Terkini
Ipda Endry Pelaku Kekerasan...
Ipda Endry Pelaku Kekerasan terhadap Jurnalis di Semarang Minta Maaf
10 menit yang lalu
Polri Janji Selidiki...
Polri Janji Selidiki Ajudan Kapolri yang Diduga Tempeleng Jurnalis Semarang
1 jam yang lalu
Prabowo Bertemu 7 Jurnalis,...
Prabowo Bertemu 7 Jurnalis, Apa yang Dibicarakan?
2 jam yang lalu
Puncak Arus Balik, Lalin...
Puncak Arus Balik, Lalin dari Tol Cipularang Dialihkan Menuju Jalur Fungsional Tol Japek II Selatan
3 jam yang lalu
97.000 Kendaraan Melintas,...
97.000 Kendaraan Melintas, Arus Balik di Tol Palikanci-Cipali Padat Merayap
3 jam yang lalu
Kapolri Minta Maaf Akibat...
Kapolri Minta Maaf Akibat Ajudannya Diduga Pukul dan Intimidasi Wartawan di Semarang
5 jam yang lalu
Infografis
Raja YordaniaTolak Gagasan...
Raja YordaniaTolak Gagasan Trump soal Pencaplokan Gaza
Copyright ©2025 SINDOnews.com All Rights Reserved