Pancasila Kita dan Ujian Kesaktiannya
Selasa, 02 Juni 2020 - 06:54 WIB
loading...
Dahnil Anzar Simanjuntak. Foto/SINDOnews
A
A
A
Dahnil Anzar Simanjuntak
Peneliti Senior Institut Kajian Strategis UKRI
PANCASILA adalah Kesepakatan bersama kita sebagai bangsa dan negara. Pancasila adalah produk dialog. Bahkan, ormas keagamaan salah satu pendiri Indonesia, yakni Muhammadiyah, melalui Muktamar Ke-47 di Makasar merumuskan bahwa Pancasila adalah darul ahdi wa-syahadah.
Meminjam istilah yang digunakan oleh Persyarikatan Muhammadiyah, darul ahdi maknanya negara tempat kita membuat kesepakatan nasional, hasil dialog yang panjang dengan nalar yang sehat dalam bahasa Bung Hatta produk nalar ilmiah yang mempersatukan Indonesia negara yang berdiri atas dasar kesadaran kolektif bahwa kita majemuk atau beragam. Kesadaran kolektif atas keberagaman Indonesia itulah yang membuat tidak boleh ada kelompok yang merasa "paling", "superior", "kelompok nomor 1".
Maka, rajutan kesepakatan bersama itu tidak boleh diurai lagi dengan berbagai ideologi yang tidak bersesuaian bahkan mengancam Pancasila sehingga merusak keindonesiaan kita. Pun, demikian sikap perdebatan dan mengklaim paling Pancasila terang merusak bangunan kesepakatan yang sudah ditata, maka perdebatan bahwa Pancasila 1 Juni yang merujuk pada pidato Bung Karno pertama kali menyebut istilah Pancasila, dan Pancasila 22 Juni, di mana dikenal sebagai Piagam Jakarta, hasil kerja BPUPKI, dan Pancasila 18 Agustus hasil akhir dari kerja PPUPKI sebagai hasil akhir rumusan Pancasila saat ini yang kita gunakan.
Menurut saya, klaim-klaim mana Pancasila yang paling asli tersebut justru menunjukkan bahwa kita semua tidak Pancasilais. Perdebatan terkait tanggal dan status tersebut bagi saya menunjukkan sikap egoistik, berjarak dengan sejarah dan semangat Pancasila itu sendiri, yakni mengubur sikap egoistik dan mengedepankan kepentingan kolektif Indonesia sebagai bangsa dan negara sebagaimana sikap yang diteladani oleh tokoh-tokoh Islam seperti Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim, Kasman Singodimedjo, dll, yang mengubur egoisme masing-masing demi utuhnya Indonesia.
Peneliti Senior Institut Kajian Strategis UKRI
PANCASILA adalah Kesepakatan bersama kita sebagai bangsa dan negara. Pancasila adalah produk dialog. Bahkan, ormas keagamaan salah satu pendiri Indonesia, yakni Muhammadiyah, melalui Muktamar Ke-47 di Makasar merumuskan bahwa Pancasila adalah darul ahdi wa-syahadah.
Meminjam istilah yang digunakan oleh Persyarikatan Muhammadiyah, darul ahdi maknanya negara tempat kita membuat kesepakatan nasional, hasil dialog yang panjang dengan nalar yang sehat dalam bahasa Bung Hatta produk nalar ilmiah yang mempersatukan Indonesia negara yang berdiri atas dasar kesadaran kolektif bahwa kita majemuk atau beragam. Kesadaran kolektif atas keberagaman Indonesia itulah yang membuat tidak boleh ada kelompok yang merasa "paling", "superior", "kelompok nomor 1".
Maka, rajutan kesepakatan bersama itu tidak boleh diurai lagi dengan berbagai ideologi yang tidak bersesuaian bahkan mengancam Pancasila sehingga merusak keindonesiaan kita. Pun, demikian sikap perdebatan dan mengklaim paling Pancasila terang merusak bangunan kesepakatan yang sudah ditata, maka perdebatan bahwa Pancasila 1 Juni yang merujuk pada pidato Bung Karno pertama kali menyebut istilah Pancasila, dan Pancasila 22 Juni, di mana dikenal sebagai Piagam Jakarta, hasil kerja BPUPKI, dan Pancasila 18 Agustus hasil akhir dari kerja PPUPKI sebagai hasil akhir rumusan Pancasila saat ini yang kita gunakan.
Menurut saya, klaim-klaim mana Pancasila yang paling asli tersebut justru menunjukkan bahwa kita semua tidak Pancasilais. Perdebatan terkait tanggal dan status tersebut bagi saya menunjukkan sikap egoistik, berjarak dengan sejarah dan semangat Pancasila itu sendiri, yakni mengubur sikap egoistik dan mengedepankan kepentingan kolektif Indonesia sebagai bangsa dan negara sebagaimana sikap yang diteladani oleh tokoh-tokoh Islam seperti Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim, Kasman Singodimedjo, dll, yang mengubur egoisme masing-masing demi utuhnya Indonesia.