Petani Penyangga Tatanan Negeri
Minggu, 31 Mei 2020 - 11:08 WIB
loading...
A
A
A
Ketiga, stimulus ekonomi bagi petani. Sebanyak 2,7 juta petani terdampak mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah dengan diberikan bantuan sarana produksi agar tetap bisa bangkit di tengah dampak pandemi ini. Ke empat, Kementerian pertanian melalui kegiatan Pekarangan Pangan Lestari dengan menambah jumlah Rumah tangga yang akan menjadi sasaran kegiatan ini, dengan harapan memunculkan Gerakan Produksi Skala Rumah Tangga.
Berbagai kebijakan terobosan Kementerian Pertanian yang dikomandai Syahrul Yasin Limpo dalam menghadapi ancaman nyata pandemi virus corona tersebut patut didukung semua pihak. Petani tidak semata-mata dimanjakan dengan bantuan bersifat konsumtif, namun petani di arahkan untuk menjadi penyangga tatanan negeri karena menjadi agen utama membangun pertanian yang maju, mandiri dan modern.
Oleh karena itu, marilah kita sadari bersama kelemahan pengisi kemerdekaan bangsa sekarang adalah empati dan menyatu dengan perasaan masyarakat petani. Ingatkah kita dengan istilah ‘Indonesia Menggugat’ yang menggambarkan penderitaan petani akibat sistem tanah paksa dan kebijakan agraria colonial.
Intinya, pentingnya kedaulatan pangan dan menyadari pentingnya petani dan membuat pujian untuk kaum tani dengan membuat akronim Petani adalah Penyangga Tatanan Negara Indonesia. Kedekatan dengan petani mestinya tidak hanya berupa lisan, tetapi menjadi bagian dari kehidupan mereka sehingga roh kebijakan tidak artifisial dan benar benar bisa diimplementasikan dan dirasakan untuk petani kita.
Beberapa bantuan berupa sarana prasarana pertanian banyak digelontorkan kepada masyarakat, kita lupa bahwa sisi sosial /psikologis petani tidak kita sentuh, tidak kita perhatikan. Apakah cukup dengan memberikan bantuan saja? Regulasi kemandirian dan menumbuhkan jiwa sosial jiwa kekeluargaan antar sesama sangat dibutuhkan. Tidak hanya cukup dikasih bantuan, karena sejatinya kehadiran pemerintah dan beberapa stakeholder di tengah kehidupan petani akan lebih mengena dengan pendekatan ikatan emosional.
Tulisan ini hanyalah sebuah wacana dari beberapa literasi yang menarik untuk penulis improvisasi, dengan harapan bisa menjadikan cambuk kita semua untuk menyadari marwahnya petani yang sebenarnya jangan lah hanya menjadi obyek semata untuk kepentingan individu para pencari keuntungan pribadi. Pakailah rasa dan pendetakan teposliro agar tahu yang sebenarnya terjadi, bukan berasal dari wacana media mainstream yang penuh intrik. Salam PETANIku.
Berbagai kebijakan terobosan Kementerian Pertanian yang dikomandai Syahrul Yasin Limpo dalam menghadapi ancaman nyata pandemi virus corona tersebut patut didukung semua pihak. Petani tidak semata-mata dimanjakan dengan bantuan bersifat konsumtif, namun petani di arahkan untuk menjadi penyangga tatanan negeri karena menjadi agen utama membangun pertanian yang maju, mandiri dan modern.
Oleh karena itu, marilah kita sadari bersama kelemahan pengisi kemerdekaan bangsa sekarang adalah empati dan menyatu dengan perasaan masyarakat petani. Ingatkah kita dengan istilah ‘Indonesia Menggugat’ yang menggambarkan penderitaan petani akibat sistem tanah paksa dan kebijakan agraria colonial.
Intinya, pentingnya kedaulatan pangan dan menyadari pentingnya petani dan membuat pujian untuk kaum tani dengan membuat akronim Petani adalah Penyangga Tatanan Negara Indonesia. Kedekatan dengan petani mestinya tidak hanya berupa lisan, tetapi menjadi bagian dari kehidupan mereka sehingga roh kebijakan tidak artifisial dan benar benar bisa diimplementasikan dan dirasakan untuk petani kita.
Beberapa bantuan berupa sarana prasarana pertanian banyak digelontorkan kepada masyarakat, kita lupa bahwa sisi sosial /psikologis petani tidak kita sentuh, tidak kita perhatikan. Apakah cukup dengan memberikan bantuan saja? Regulasi kemandirian dan menumbuhkan jiwa sosial jiwa kekeluargaan antar sesama sangat dibutuhkan. Tidak hanya cukup dikasih bantuan, karena sejatinya kehadiran pemerintah dan beberapa stakeholder di tengah kehidupan petani akan lebih mengena dengan pendekatan ikatan emosional.
Tulisan ini hanyalah sebuah wacana dari beberapa literasi yang menarik untuk penulis improvisasi, dengan harapan bisa menjadikan cambuk kita semua untuk menyadari marwahnya petani yang sebenarnya jangan lah hanya menjadi obyek semata untuk kepentingan individu para pencari keuntungan pribadi. Pakailah rasa dan pendetakan teposliro agar tahu yang sebenarnya terjadi, bukan berasal dari wacana media mainstream yang penuh intrik. Salam PETANIku.
(kri)