Semangat Berbagi di Tengah Pandemi Covid-19
Senin, 05 Juli 2021 - 05:53 WIB
loading...
A
A
A
Kebutuhan oksigen warga Jabodetabek memang sangat tinggi di tengah meledaknya kasus positif Covid-19. Dalam dua hari pembukaan peminjaman oksigen secara daring, ada 20.237 orang mencoba mendaftar.
"Pada hari pertama, kami hanya memiliki 40 perlengkapan oksigen, hari kedua bertambah jadi 65. Lalu selanjutnya ada tambahan 36. Jumlah total saat ini 101 unit dan ini masih jauh dari kebutuhan," paparmya.
Merespons tingginya permintaan pinjam oksigen, para relawan tersebut kemudian membuka donasi melalui @kitabisa . "Agar dapat menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan tabung oksigen," demikian bunyi keterangan pada akun Twitter @Sejutates, kemarin.
Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Noor Achmad mengungkapkan, saat pandemi CSR perusahaan menurun namun sumbangan dari pribadi itu meningkat. Peningkatannya bahkan sampai 30 persen dari biasanya. Menurut dia, masyarakat Indonesia ini ingin memberikan sesuatu kepada sesama saudaranya dengan berbagai tujuan.
"Mungkin bagi mereka inilahsalah satu cara untuk mereka berdoa kepada Allah SWT agar dijauhkan dari penyakit dan diberikan kesehatan. Bermacam-macam motifnya tetapi apa yang disampaikan oleh masyarakat ini sifat kegotong-royongan kuat sekali," ungkapnya
Program di Baznas selama pandemi ini mengadakan penanganan darurat pandemi yaitu mereka yang terdampak langsung mereka yang melakukan isolasi mandiri ataupun mereka yang sedang isolasi di rumah sakit. Bagi para tenaga kesehatan, tenaga pemulasaran jenazah.
"Program ekonomi juga kami membantu mereka yang terkena dampak pandemi seperti sopir ojek online, UMKM yang memang sekarang sedang terhimpit ada lagi program lain kami tetap meneruskan beasiswa mereka yang terputus akibat pandemi," terangnya.
Sementara itu, Direktur Filantropi Indonesia, Hamid Abidin, menjelaskan, beberapa faktor pendorong kegiatan filantropi di Indonesia lebih banyak terkait faktor keagamaan. Berbagai ajaran agama terkait kegiatan untuk memberi seperti di Islam ada zakat infaq, sedekah, Kristen kolekte, dan persepuluan, di Hindu ada Punia dan Budha disebut dharma.
Hal itulah yang kemudian menjadi pendorong mereka untuk melakukan kegiatan kedermawanan meskipun sedang pandemi masyarakat banyak yang terpukul karena kondisi ekonominya tidak membuat mereka berhenti.
"Lagi-lagi ajaran agama berdonasi atau sedekah itu bisa menjadi benteng untuk menghindarkan kita dari marabahaya atau bencana. Belum lagi ada banyak tokoh dan pimpinan keagamaan yang memberikan fatwa atau dorongan untuk masyarakat menyumbang mungkin tidak terjadi di negara lain," jelasnya.
Pada saat pandemi, MUI dan para pimpinan Muhammadiyah itu memang menyerukan kepada masyarakat untuk bersedekah, bahkan saat Idul Fitri lalu ada fatwa membayar zakat di awal. Hasilnya, krisis yang terjadi tidak berdampak. Masyarakat malah semakin menunjukkan solidaritas untuk membantu sesama. Mereka tetap banyak berdonasi, yang berbeda hanya nilai dan bentuknya.
‘’Mungkin orang yang awalnya menyumbang besar tapi karena terdampak pandemi jadi nilainya lebih kecil. Mereka yang setelah pandemi ini tidak bekerja lagi pun masih ingin menyumbang namun dengan bentuk berbeda yakni sebagai insiator penggalangan dana dan kerelawanan.
"Seperti banyak seniman menganggur tapi akhirnya membuat konser dimana-mana kedermawanan mereka bisa digantikan dalam bentuk apapun," ungkap Hamid.
Dia juga mengungkapkan, penggalangan dana di masa pandemi ini tetap banyak karena keberhasilan mentransformasikan kegiatan filantropi konvensional ke digital. Di saat adanya pembatasan interaksi mobilitas masyarakat sebenarnya sangat berdampak dengan kegiatan filantropi karena penggalangan dana yang awalnya melalui event, counter di mall, meminta langsung kepada masyarakat sekarang sudah tidak dapat lagi dilakukan
Sebagian besar lembaga-lembaga filantropi di Indonesia memanfaatkan media digital untuk penggalangan dana. Ada transformasi luar biasa yang akhirnya membuat organisasi khususnya di digital pendapatannya relatif stabil tidak terlalu berpengaruh. Di beberapa negara banyak yang terpukul karena tidak siap untuk bertransformasi ke digital akhirnya beberapa dari mereka terpaksa tutup
Keterlibatan anak-anak muda Indonesia juga tidak lepas membuat berkembangnya filantropi di Indonesia meski saat pandemi. Mereka melakukan banyak inisiasi kegiatan penggalangan dana yang dilakukan oleh anak muda ada yang dilakukan oleh komunitas-komunitas sebagian besar menggunakan media digital dan event virtual.
Baca juga: Tabung Oksigen Langka, Epidemiolog UI Sarankan Distribusi yang Lebih Cepat
"Pada hari pertama, kami hanya memiliki 40 perlengkapan oksigen, hari kedua bertambah jadi 65. Lalu selanjutnya ada tambahan 36. Jumlah total saat ini 101 unit dan ini masih jauh dari kebutuhan," paparmya.
Merespons tingginya permintaan pinjam oksigen, para relawan tersebut kemudian membuka donasi melalui @kitabisa . "Agar dapat menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan tabung oksigen," demikian bunyi keterangan pada akun Twitter @Sejutates, kemarin.
Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Noor Achmad mengungkapkan, saat pandemi CSR perusahaan menurun namun sumbangan dari pribadi itu meningkat. Peningkatannya bahkan sampai 30 persen dari biasanya. Menurut dia, masyarakat Indonesia ini ingin memberikan sesuatu kepada sesama saudaranya dengan berbagai tujuan.
"Mungkin bagi mereka inilahsalah satu cara untuk mereka berdoa kepada Allah SWT agar dijauhkan dari penyakit dan diberikan kesehatan. Bermacam-macam motifnya tetapi apa yang disampaikan oleh masyarakat ini sifat kegotong-royongan kuat sekali," ungkapnya
Program di Baznas selama pandemi ini mengadakan penanganan darurat pandemi yaitu mereka yang terdampak langsung mereka yang melakukan isolasi mandiri ataupun mereka yang sedang isolasi di rumah sakit. Bagi para tenaga kesehatan, tenaga pemulasaran jenazah.
"Program ekonomi juga kami membantu mereka yang terkena dampak pandemi seperti sopir ojek online, UMKM yang memang sekarang sedang terhimpit ada lagi program lain kami tetap meneruskan beasiswa mereka yang terputus akibat pandemi," terangnya.
Sementara itu, Direktur Filantropi Indonesia, Hamid Abidin, menjelaskan, beberapa faktor pendorong kegiatan filantropi di Indonesia lebih banyak terkait faktor keagamaan. Berbagai ajaran agama terkait kegiatan untuk memberi seperti di Islam ada zakat infaq, sedekah, Kristen kolekte, dan persepuluan, di Hindu ada Punia dan Budha disebut dharma.
Hal itulah yang kemudian menjadi pendorong mereka untuk melakukan kegiatan kedermawanan meskipun sedang pandemi masyarakat banyak yang terpukul karena kondisi ekonominya tidak membuat mereka berhenti.
"Lagi-lagi ajaran agama berdonasi atau sedekah itu bisa menjadi benteng untuk menghindarkan kita dari marabahaya atau bencana. Belum lagi ada banyak tokoh dan pimpinan keagamaan yang memberikan fatwa atau dorongan untuk masyarakat menyumbang mungkin tidak terjadi di negara lain," jelasnya.
Pada saat pandemi, MUI dan para pimpinan Muhammadiyah itu memang menyerukan kepada masyarakat untuk bersedekah, bahkan saat Idul Fitri lalu ada fatwa membayar zakat di awal. Hasilnya, krisis yang terjadi tidak berdampak. Masyarakat malah semakin menunjukkan solidaritas untuk membantu sesama. Mereka tetap banyak berdonasi, yang berbeda hanya nilai dan bentuknya.
‘’Mungkin orang yang awalnya menyumbang besar tapi karena terdampak pandemi jadi nilainya lebih kecil. Mereka yang setelah pandemi ini tidak bekerja lagi pun masih ingin menyumbang namun dengan bentuk berbeda yakni sebagai insiator penggalangan dana dan kerelawanan.
"Seperti banyak seniman menganggur tapi akhirnya membuat konser dimana-mana kedermawanan mereka bisa digantikan dalam bentuk apapun," ungkap Hamid.
Dia juga mengungkapkan, penggalangan dana di masa pandemi ini tetap banyak karena keberhasilan mentransformasikan kegiatan filantropi konvensional ke digital. Di saat adanya pembatasan interaksi mobilitas masyarakat sebenarnya sangat berdampak dengan kegiatan filantropi karena penggalangan dana yang awalnya melalui event, counter di mall, meminta langsung kepada masyarakat sekarang sudah tidak dapat lagi dilakukan
Sebagian besar lembaga-lembaga filantropi di Indonesia memanfaatkan media digital untuk penggalangan dana. Ada transformasi luar biasa yang akhirnya membuat organisasi khususnya di digital pendapatannya relatif stabil tidak terlalu berpengaruh. Di beberapa negara banyak yang terpukul karena tidak siap untuk bertransformasi ke digital akhirnya beberapa dari mereka terpaksa tutup
Keterlibatan anak-anak muda Indonesia juga tidak lepas membuat berkembangnya filantropi di Indonesia meski saat pandemi. Mereka melakukan banyak inisiasi kegiatan penggalangan dana yang dilakukan oleh anak muda ada yang dilakukan oleh komunitas-komunitas sebagian besar menggunakan media digital dan event virtual.
Baca juga: Tabung Oksigen Langka, Epidemiolog UI Sarankan Distribusi yang Lebih Cepat
Lihat Juga :