Melawan dengan Rebahan

loading...
Melawan dengan Rebahan
Tren rebahan hendaknya bukan dimaknai untuk berleha-leha, tetapi lebih kepada keseimbangan hidup setelah bekerja keras. FOTO/Dok KORAN SINDO
JAKARTA - Anak muda kerap diidentikkan dengan kerja keras dengan dalih demi masa depan. Namun, menjadikan pekerja keras tak selamanya membahagiakan. Tekanan psikologis , stres yang bisa berujung pada depresi , hingga kehilangan kebahagiaan sejati menjadikan risiko yang dihadapi para pekerja keras.

Di Barat, sudah lama didengungkan tentang work-life , suatu keseimbangan antara bekerja dan kehidupan normal seperti berkeluarga, aktivitas sosial, hingga menyenangkan diri sendiri. Dalam konsep ini, hidup semata-mata tidak hanya bekerja saja, masih banyak aktivitas lain di luar kerja yang bisa menyenangkan dan membahagiakan untuk jiwa dan raga.

Nah, tren terbaru di China justru muncul "tang ping", yang diartikan sebagai tiduran datar atau rebahan . Selama ini, anak muda di China diidentikkan dengan budaya kerja keras, tetapi gaji minim. Istilah "tang ping", dikenal sebagai penangkal tekanan di masyarakat untuk mencari kerja dan berkinerja baik walau harus bekerja dalam shift panjang. China kini memiliki pasar tenaga kerja yang menyusut dan kaum muda di sana sering kali memiliki jam kerja yang lebih lama.

Sebenarnya, istilah "tang ping" ini diyakini berasal dari suatu unggahan di suatu laman media sosial populer di China. Itu kemudian menular dan menjadi bahan diskusi di Sina Weibo, yang juga laman mikrobloging populer di China, dan akhirnya jadi kata kunci.



Baca juga: Begini Cara Nabung Saham Sambil Rebahan, Simak IG Live MNC Sekuritas Pukul 20.00 Ini!

Gagasan di balik istilah "tang ping" itu -- tidak bekerja terlalu keras, puas dengan yang sudah diraih dan sempatkan waktu untuk bersantai -- langsung menuai pujian banyak warganet dan menginspirasi banyak orang.

Pendiri Merial Institute sekaligus aktivis milenial Muhammad Arief Rosyid Hasan melihat fenomena rebahan terjadi karena anak muda sekarang memang paling mengerti apa yang menjadi kebutuhan zaman. Apalagi, ketika semuanya memperoleh kemudahan dengan teknologi dan juga situasi pandemi yang intensitasi pertemuan langsung menjadi berkurang.

Menurut Arief, dalam konteks itulah anak muda sekarang memaknai kerja keras dengan kerja cerdas yang mampu menyeimbangkan hidup mereka dalam berbagai hal. Rebahan tentu tidak dimaknai sempit sekadar tiduran saja, tapi dengan teknologi banyak kemudahan yang bisa diperoleh dengan cerdas. Anak muda adalah pemilik masa kini dan masa depan, kerja cerdas mereka hari ini tentu menjadi hal positif," ungkap Arief saat dihubungi KORAN SINDO, di Jakarta, Rabu (9/6/2021).

Komisaris Independen Bank Syariah Indonesia (BSI) ini berpandangan, kerja keras harus berubah menjadi kerja cerdas. Kerja dengan visi yang melenting jauh ke depan, bisa bekerja sama atau kolaborasi, dan tentu saja berbagai inovasi dan diferensiasi dari kerja-kerja yang selama ini seperti business as usual.

Baca juga: Ini Solusi Jitu buat Kaum Rebahan yang Malas Masak



Arief memandang, Indonesia sejak 2012 mengalami bonus demografi dengan surplus usia produktif dan mayoritas dari mereka adalah anak muda. "Situasi ini yang diperoleh oleh negara-negara yang kemajuannya pesat hari ini. Ini bisa menjadi peluang jika dimanfaatkan dengan baik, sebaliknya akan jadi musibah jika kita tidak lebih serius memberdayakan potensi ini dengan baik," ujarnya.

Bagi Arief, kerja cerdas memiliki output produktivitas. Kemajuan teknologi dan situasi pandemi hari ini, kata dia, semua mesti berpikir ulang dalam mengerjakan segala sesuatu. Anak-anak muda benar-benar melihat ini sebagai kesempatan untuk mengejar ketertinggalan mereka dari segi pengalaman dan lain-lain dari seniornya.

"Mereka bisa melakukan banyak hal dalam satu kesempatan waktu atau multitasking, berbeda dengan cara kerja lama yang satu kerjaan satu waktu," imbuhnya.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top