Akhir Ramadan, Sportifitas dan Optimisme
Selasa, 11 Mei 2021 - 12:11 WIB
loading...
A
A
A
Turunnya Al-Qur’an dari Baitul Izzah ke dunia oleh malaikat kepada Nabi Muhammad Saw dengan berulang-ulang dan berangsur dalam waktu riwayat terbanyak selama 23 tahun, ada yang mengatakan 22 tahun 2 bulan, inilah yang dinamakan Nuzulul Qur’an.
Dua proses yang saling terkait Lailatul Qadar dan Nuzulul Qur’an, proses dari Lauhil Machfudz ke Baitul ‘Izzah terjadi sekali disebut Lailatul Qadar, sedangkan dari Baitul Izzah ke Nabi Muhammad dinamakan Nuzulul Qur’an.
Selanjutnya, kenapa di Al-Qur’an bulan Harom bulan istimewa, “minha arbangatun hurum”, yakni 12 bulan Hijriah ada 4 (empat) bulan yang dilarang untuk berperang (Dzul Qa’dah, Dzulhijjah,Rajab dan Muharram), Ramadan tidak ada di dalamnya, relevansinya adalah dilarangnya perang di bulan Harom tersebut.
Sebaliknya Ramadan justru menjadi waktu tepat untuk berperang, apabila 12 (duabelas) bulan diperintahkan untuk berperang maka di bulan Ramadan tepat untuk berperang sebagaimana sahabat Nabi berperang di perang Badar di bulan Ramadan. Kekuatan dan campur tangan atas izin Allah SWT malaikat membantu prajurit Badar yang kadar jumlah personilnya jauh lebih sedikit dari kaum kafir quraisy, dan kemenangan secara gemilang oleh kaum muslimin.
Keyakinan kuat, sportifitas dan optimis relevansinya di bulan puasa Ramadan menjadi waktu utama untuk menempa diri, perang diri, melawan hawa nafsu dari waktu terbit fajar sampai waktu maghrib. Membangun sportifitas dan optimisme dengan ihtiar lahir dan batin.
Rasulullah SAW bersabda:
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ
Dua proses yang saling terkait Lailatul Qadar dan Nuzulul Qur’an, proses dari Lauhil Machfudz ke Baitul ‘Izzah terjadi sekali disebut Lailatul Qadar, sedangkan dari Baitul Izzah ke Nabi Muhammad dinamakan Nuzulul Qur’an.
Selanjutnya, kenapa di Al-Qur’an bulan Harom bulan istimewa, “minha arbangatun hurum”, yakni 12 bulan Hijriah ada 4 (empat) bulan yang dilarang untuk berperang (Dzul Qa’dah, Dzulhijjah,Rajab dan Muharram), Ramadan tidak ada di dalamnya, relevansinya adalah dilarangnya perang di bulan Harom tersebut.
Sebaliknya Ramadan justru menjadi waktu tepat untuk berperang, apabila 12 (duabelas) bulan diperintahkan untuk berperang maka di bulan Ramadan tepat untuk berperang sebagaimana sahabat Nabi berperang di perang Badar di bulan Ramadan. Kekuatan dan campur tangan atas izin Allah SWT malaikat membantu prajurit Badar yang kadar jumlah personilnya jauh lebih sedikit dari kaum kafir quraisy, dan kemenangan secara gemilang oleh kaum muslimin.
Keyakinan kuat, sportifitas dan optimis relevansinya di bulan puasa Ramadan menjadi waktu utama untuk menempa diri, perang diri, melawan hawa nafsu dari waktu terbit fajar sampai waktu maghrib. Membangun sportifitas dan optimisme dengan ihtiar lahir dan batin.
Rasulullah SAW bersabda:
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ
Lihat Juga :